Senin, Maret 2009
Sore itu aku pulang ke rumah, terpaksa karena Papap menyuruhku menunggu
Toko dikarenakan sedang ramai pembeli. Beliau tidak bisa selalu standby di toko, dikarenakan kesibukannya mengajar di salah satu SMA di Kota ini, sehingga beliau memaksaku pulang untuk membantu pegawai mengurus Toko. Kebetulan Selasa dan Rabu jadwal kuliahku kosong.
Selasa, Maret 2009
Malam itu aku tiduran di sofa sambil menonton TV, sekedar relaksasi setelah seharian di toko. Mamah di kamar, sedang memeriksa pekerjaan rumah anak didiknya, sementara Adikku sudah tertidur pulas.
Aku bangun dari sofa dan mencari Papap. Aku melihatnya sedang duduk di kursi teras rumah, asik dengan kegiatannya menghisap asap yang keluar dari rokok yang dibakarnya. Aku menghampirinya, ingin mengajaknya bicara dan menemaninya menghabiskan malam.
Aku mulai pembicaraan dengan menanyakan mengenai pekerjaannya di sebuah sekolah tempat beliau mengajar. Beliau menjawab mengenai situasi di sekolahnya, kali ini topiknya mengenai beratnya tanggung jawab yang diembannya, dikarenakan instansinya sedang membangun beberapa bangunan baru.
Setelah ngalor-ngidul berbicara mengenai proyeknya, akhirnya dia mengalihkan topik pembicaraannya. Sekarang beliau menanyakan mengenai perkuliahanku. Beliau agak khawatir dengan kehidupan akademisiku. Cukup miris nasib orangtuaku, karena sudah 4 semester anaknya ini hanya mampu mempersembahkan IP tak lebih dari angka 2.50, walaupun aku sudah mati-matian berusaha. Aku akui otakku tidak cukup encer dalam hal akademisi, sama seperti rapor sekolahku dari dulu yang nilainya cenderung datar, kalau tak mau dikatakan jelek-jelek amat. Lolos SPMB Nasional pun sebetulnya sebuah keajaiban dari seorang anak yang tak pernah berprestasi akademik ini.
Kali itu nada bicaranya sedikit menekan aku, mengingatkanku agar jangan terlalu main-main dalam perkuliahan. Beliau mengingatkan betapa beratnya nanti hidupku di masa depan, kalau aku terlalu santai dengan kehidupanku di masa kini.
"Berjuang habis-habisan dari sekarang, senang-senangnya nanti." Ujarnya sambil matanya tajam melihatku.
"Iya Pap, tapi Ade juga udah berusaha semaximal mungkin." Aku menjawab sambil berusaha membela diri.
Beliau terdiam, tak lama beliau melanjutkan pembicaraannya.
"De, kamu tahu.. Papap itu bukan orang kaya. Tapi seenggaknya, Papap punya cita-cita, yaitu mewariskan sesuatu yang berharga untuk anak-anaknya, sebuah warisan bermanfaat yang kelak bisa kamu nikmati sampai kamu nanti mati."
"Iya Pap, Ade ngerti." Aku jawab sambil menundukkan kepala.
"Kamu tahu apa yang bisa Papap wariskan sama kamu?" Beliau bertanya serius.
Aku meliriknya dan menggelengkan kepala "Gak tahu Pap".
"Ilmu, itu yang Papap bisa wariskan sama anak-anak Papap. Papap menyekolahkan kamu tinggi-tinggi bukan hanya supaya kamu dihargai orang lain, bukan supaya kamu mempunyai gelar dibelakang nama kamu, bukan juga supaya pendidikan kamu minimal setara dengan Papap atau Mamah. Tapi lebih kepada kamu bisa memanfaatkan ilmu itu untuk kehidupan kamu dan orang lain." Beliau serius, terlihat dari matanya yang tajam menatapku.
"Maksudnya gimana Pap?" Aku sedikit menyela.
"Ilmu itu lebih penting daripada harta de. Kamu tahu sebabnya?"
"Gak tahu Pap" Jawabku, singkat.
"Harta itu didapat melalui ilmu, jadi kalau kamu mempunyai ilmunya, maka kamu akan mendapatkan hartanya. Harta bisa habis kalau kamu tidak mempunyai ilmunya, kalau kamu tidak mempunyai ilmu mengelola harta atau aset yang kamu punya, yang ada harta kamu akan habis. Karena kamu hanya tahu mengenai cara menghabiskannya bukan cara mengelolanya. Sehingga harta yang sudah kamu punya bisa bertambah. Ilmu itu penting de, ilmu itu lebih mahal daripada apapun." Beliau menatap mataku dalam-dalam.
Aku hanya mengangguk dan diam, tak menjawab. Mengerti dan memahami setiap perkataannya.
"De..." Beliau menegurku yang masih diam.
"Iya Pap"
"Masih mau dengerin Papap?" Matanya masih menatapku.
"Masih Pap, mau banget malah". Aku jawab sambil menatapnya.
"De, punya uang enak gak?"
"Enak Pap, bisa beli apapun"
"Punya ilmu enak juga gak?"
"Enak juga Pap, kalau punya ilmu kita bisa tahu mengenai apapun"
"Sekarang coba bayangkan kamu berada di hutan, terus kamu megang uang banyak sekali. Tapi kamu gak bisa beli apapun dengan uang. Masih enak gak?" Beliau bertanya sambil berasumsi.
"Ya gak enak lah Pap, buat apa punya uang banyak kalau gak bisa beli apa-apa" Kataku sedikit sewot.
"Nah sekarang gini, bayangin lagi kamu berada di hutan, tanpa uang sama sekali. Tapi kamu tahu cara (baca : ilmu) mengenai bertahan hidup. Lebih manfaat bukan?" Jawabnya sambil tersenyum.
"Iya Pap" Ku anggukkan kepala sebagai tanda setuju.
"Nah, kalau kamu jadi orang berilmu, maka kamu tak akan khawatir bagaimana cara bertahan hidup. Walaupun kamu berada di kota lain atau hutan sekalipun" Beliau menjelaskan kesimpulannya.
Aku lagi-lagi hanya bisa menganggukan kepala dan diam tak berbicara.
Beliau melanjutkan "Kalau kamu punya uang, tapi gak tahu gimana cara mendapatkannya, lama-lama uang itu akan habis. Tapi kalau kamu punya ilmu, walaupun gak punya uang sama sekali. Kamu pasti bisa mendapatkan uang, minimal cukup untuk kamu mampu bertahan hidup walaupun tanpa uang sepeser pun. Kamu ngerti De?".
"Iya Pap" Aku jawab sambil menguap.
"Udah malam, Papap udah ngantuk. Tidur yuk. Besok, kamu juga mesti buka toko pagi-pagi" Beliau mengajakku untuk beristirahat.
"Iya Pap" Dan kami pun masuk ke dalam rumah.
Beliau langsung tidur, sementara aku menyalakan TV tetapi tidak aku tonton. Aku hanya berbaring di sofa, sementara yang ada di kepalaku hanyalah mengenai percakapanku tadi dengannya.
Tentang bagaimana kekhawatirannya sebagai orangtua mengenai masa depan anaknya, tentang warisan yang ingin di berikan olehnya sebagai bekal bagi anak-anaknya.
Mewariskan harta memang tidak salah, tetapi tidak mewariskan ilmu adalah sebuah bentuk kesalahan.
----------------------------------------------------
17 Juni 2013
Ikuti saya di twitter : @pelucida
No comments:
Post a Comment