Wednesday, 3 April 2013

KEHIDUPAN


Kehidupan berasal dari kata “hidup” yang artinya dalam kamus bahasa Indonesia adalah masih ada, terus bergerak dan bekerja sebagaimana mestinya (tt manusia, binatang, tumbuhan, dsb). Sementara arti “kehidupan”---masih menurut kamus bahasa Indonesia---artinya cara hidup.
Pada kali ini, saya ingin membahas mengenai arti sebuah kehidupan dilihat dari cara pandang saya memaknai kehidupan itu sendiri. Dan juga karena saya merasa terilhami oleh beberapa orang yang saya perhatikan karena saya merasa tertarik dengan cara hidup mereka, dalam memaknai serta memanfaatkan kehidupannya---terutama masyarakat kecil atau yang biasa di panggil wong cilik---, apalagi untuk saya yang kesehariannya berinteraksi sosial dengan berbagai macam karakter manusia di pasar tradisional.
Beragam profesi serta pekerjaan menjadi bagian dari keseharian kita sebagai insan ciptaan-NYA. Mulai dari pejabat sampai rakyat, kaya-miskin, muda-tua setiap individu mempunyai cara tersendiri untuk menghabiskan waktu hidupnya, tinggal bagaimana kita memanfaatkan kehidupan kita yang telah diberikan oleh Tuhan. Apakah untuk hal-hal yang bermanfaat atau untuk hal-hal yang bersifat mudharat (tidak bermanfaat / sia-sia).
Definisi kehidupan untuk setiap individu berbeda-beda---antara saya dan anda pembaca pun pasti berbeda mendefinisikannya---, untuk saya sendiri kehidupan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Maksud “diperjuangkan” disini adalah hidup itu bukan hanya sekedar hidup, harus ada tujuan dari hidup kita untuk lebih dari sekedar hidup. Bukan hanya melulu soal mengisi urusan perut sendiri---dalam kata lain kita egois, hidup hanya untuk diri kita sendiri---, tapi juga harus bisa mengisi urusan perut orang lain---maksudnya, hidup saya juga harus bisa bermanfaat untuk orang lain---. Dari pemikiran sederhana tsb saya mencoba menjadi penulis dan mencoba menulis beberapa catatan yang maksudnya adalah saya ingin perjalanan hidup saya menjadi inspirasi bagi pembaca itu sendiri, bisa menjadi bahan referensi sekaligus koreksi atau bahkan motivasi bagi saya sendiri---khususnya---, maupun bagi pembaca---umumnya---dalam menjalani kehidupan.
Setelah saya kembali ke kampung halaman saya, setelah empat tahun lamanya saya merantau di kota lain untuk menuntut ilmu secara formal maupun  informal (silahkan baca catatan saya yang berjudul “All About us” dan “Kehidupan setelah Kuliah”, apabila pembaca ingin mengetahui ilmu mengenai kehidupan yang saya dapat selama merantau), akhirmya saya kembali ke kampung halaman dengan menyandang gelar di belakang nama saya. Sungguh bagi saya itu merupakan suatu kebahagiaan---karena selama empat tahun saya berjuang menyelesaikan pendidikan yang dipenuhi pasang surut nilai akademik---serta tanggung jawab yang begitu besar,  karena ketika saya resmi menyandang gelar itu saya dititipi pesan oleh pengajar saya yaitu : “Tolong dijaga nama baik almamater ini, dan semoga ilmu yang kamu dapat selama masa perkuliahan dapat bermanfaat bukan untuk anda sendiri, tetapi bermanfaat pula bagi masyarakat. Jadilah insan yang berguna. Selamat anda sudah resmi menyandang gelar Sarjana Ekonomi”.
Setelah saya lulus saya sebetulnya bingung sendiri bagaimana saya bisa mengaktualisasikan diri serta dapat meraih eksistensi diri di tengah masyarakat---karena selama menjalani masa perkuliahan saya sempat mengikuti beberapa organisasi kemahasiswaan---setelah saya lulus praktis saya tidak mempunyai wadah untuk beraktualisasi diri. Namun setelah setahun saya menjalani kehidupan bermasyarakat, akhirnya saya mendapatkan ruang untuk mengekspresikan mengenai gagasan saya yaitu melalui blog ini, dan memang sebetulnya banyak sekali ruang untuk mengaktualisasikan diri di masyarakat---diantaranya melalui partai politik atau Lembaga Sosial Masyarakat---, tetapi entah kenapa hati saya tidak terlalu tertarik untuk mengikuti organisasi kemasyarakatan itu karena saya merasa politik itu kotor. Saya justru lebih suka berkecimpung di lingkungan Rukun Tetangga dekat rumah saya, itu juga karena saya kenal dekat dengan Ketua RT di lingkungan saya, jadi saya sering diajak berpartisipasi bahkan terkadang menyumbangkan pemikiran demi kemajuan lingkungan tsb.
Kembali ke topik tulisan saya mengenai “kehidupan”, pada tulisan kali ini saya ingin membahas mengenai beberapa orang yang saya rasa cukup unik karakternya dalam menjalani kehidupan untuk dituangkan dalam tulisan saya kali ini. Mereka bukan pejabat dengan jabatan yang disegani serta dihormati, bukan artis yang dengan maha karya seninya, bukan pula orang kaya dengan segala kemewahannya, (mohon maaf) dengan segala yang mereka punyai mereka pantas mendapatkan seluruh perhatian atau atensi dari semua orang.  Disini, melalui tulisan ini, saya ingin mencoba mengangkat kehidupan mereka yang jauh dari sisi popularitas, jauh dari ingar bingar kehidupan mewah, dan jauh dari perhatian masyarakat. Mereka ini bukanlah pahlawan kemerdekaan, bukan pula pahlawan reformasi, atau pahlawan revolusi yang mengubah negeri ini, tetapi mereka adalah pahlawan bagi keluarganya, bagi lingkungannya serta bagi saya. Mereka tak pernah mengenyam pendidikan tinggi, tetapi berbudi pekerti tinggi bahkan jauh lebih tinggi dari orang-orang yang berpendidikan tinggi---bahkan saya terkadang malu sendiri oleh mereka---. Mereka ini adalah rakyat jelata yang mencoba untuk diakui keberadaannya (baca : existensi), di akui hak-hak hidupnya dan ingin disamakan derajatnya dan mendapatkan perhatian sama seperti yang lain yang punya pekerjaan dan pendapatan layak.
Mereka mempunyai profesi yang mungkin untuk ukuran manusia modern---yang sibuk dengan pekerjaan yang memerlukan teknologi---itu merupakan sebuah profesi yang dikategorikan rendah, hina dan di cap kurang pantas disejajarkan dengan mereka yang merasa derajatnya lebih tinggi karena orang-orang itu merasa mempunyai pendidikan tinggi, jabatan atau kekayaan yang sehingga oleh karenanya mereka lupa akan perlunya saling menghargai antar sesama manusia. Padahal dalam kehidupan nyata, sering kita jumpai orang-orang yang merasa lebih tinggi derajatnya itu membutuhkan bantuan dari orang-orang yang mereka anggap rendah itu.
Kita---terutama saya---sudah  bosan dengan kisah-kisah sukses orang yang sukses secara finansial, padahal kekayaan bukan sebuah tolak ukur kesuksesan. Success is Simple = Sukses itu sederhana, seperti contoh ketika kita mampu menyelesaikan pekerjaan kita, itu merupakan kesuksesan. Ketika kita On Time dalam menghadiri pertemuan, itu juga merupakan kesuksesan. Dan kalau menurut saya sukses itu adalah ketika kita mampu memberi atau berkontribusi terhadap sesamanya, lingkungannya, bahkan negaranya. Kontribusi kita tidak melulu mengenai memberi secara finansial, tapi juga bisa melalui tenaga atau pemikiran. Dan ukuran kesuksesan seseorang itu ditentukan oleh dirinya sendiri, bukan orang lain. Sayang sekali paradigma bangsa ini telah salah kaprah mengartikan kesuksesan itu adalah sebuah kekayaan.
Orang-orang yang saya tulis disini juga merupakan orang-orang sukses, yang mampu berkontribusi kepada lingkungannya bahkan untuk negaranya. Tapi entah kenapa mereka kurang dihargai, kurang diperhatikan. Maka dari itu saya akan sedikit mengangkat kisah orang-orang ini, agar kita mampu menghargai dan memperhatikan mereka. Jangan dilihat dari besar-kecilnya pekerjaan mereka, setidaknya mereka lebih menikmati dan berbahagia dengan pekerjaan mereka.
Saya kira cukup untuk prolognya, ada baiknya kita mengenal mereka melalui tulisan saya ini. Selamat menikmati!!
 
Tukang Sol Sepatu
Waktu menunjukkan jam setengah 12 siang, hari itu matahari membakar Kota ini. Jalanan aspal pun dari kejauhan terlihat seperti wajan sedang memanaskan minyak, panasnya membuat kulit seperti terbakar, keringat bercucuran dari pori-pori kulit. Pasar Banjar sepi pembeli, hanya terlihat beberapa orang lalu-lalang itu pun sebagian besar pedagang bukan pembeli.
Abah sedang memperbaiki sandal
Dari arah timur terlihat seorang berperawakan kurus tinggi, dengan kulit hitam yang sudah mulai keriput menanggung sebuah kotak kayu kecil---yang berisi peralatannya---sambil menyusuri jalanan. Topi bundar---khas tukang---menutupi kepalanya untuk mengurangi sengatan panas, handuk di pundaknya sesekali dia pakai untuk mengelap  peluhnya. Ya begitulah pekerjaannya, menyusuri jalan, setapak demi setapak, berharap orang membutuhkan bantuannya dan dengan lantang memanggilnya “Tukang Sol Sepatu”.
Kebetulan hari itu saya mempunyai sebuah pekerjaan untuknya, sandal kakak saya sobek di bagian pinggirnya. Saya panggil dia, tak lama berselang dia menghampiri saya dan bertanya : “Aya nu tiasa dibantos jang?”. (“Ada yang bisa dibantu cep?”)
“Aya, ieu sendal soek disisi na, punten pang-ngesolkeun mang”. (“Ada, ini sandal sobek di bagian sisinya, tolong di sol”). Saya menjawab sambil menyodorkan sandal butut.
“Mangga”.  Jawabnya sambil tangannya langsung mengeluarkan alat-alat dari kotak kayu yang sepanjang jalan di tanggung di pundaknya. Keluarlah Jojodog (kursi kayu kecil) untuk dia duduk, benang sol, lem korea, dan jarum.
Bagian pertama dia membuat jalur jahitannya di sandal, kemudian dia mulai mengelem sandal yang sobek agar merekat kembali. Setelah itu barulah dia memulai pekerjaannya mengesol sandal butut yang saya berikan tadi. Sambil dia bekerja, saya memperhatikan bagaimana dia bekerja, menemaninya mengobrol dan bertanya mengenai apa saja alatnya, kegunaannya dan lain sebagainya. Hingga saya pun akhirnya bertanya mengenai sejak kapan dia mulai menggeluti usaha ini.
“Tos aya 30 tahun langkung jang, Abah mah jadi tukang sol teh, ti tahun 80an we Abah ngawitan usaha ieu teh. Seer padamelan nu tos dicobian ku Abah mah, ti kawit nga-becak, janten kuli bangunan, icalan es, ngan nu minangka mindeng dipidameul mah nya ngesol sapatu we”. (“Sudah ada 30 tahun lebih Abah jadi tukang sol, sejak tahun 80an Abah memulai usaha ini. Banyak pekerjaan udah pernah dicoba oleh Abah, mulai narik becak, jadi kuli bangunan, jualan es, cuma yang agak sering dikerjakan ya ngesol sepatu”). Jawab si Abah bercerita.
“Ai Abah linggih dimana?”. (“Abah tinggal dimana?”). Saya bertanya mengenai tempat tinggalnya.
“Abah mah ti Pamarican jang”. (“Abah dari Pamarican---desa yang jaraknya sekitar 15 KM dari Kota Banjar---“).  Jawabnya sambil tangannya tetap cekatan menjait sandal.
“Gening tebih, Abah mapah kadieu? Ai paling tebih ngider dugi kamana?”. (Jauh amat, Abah jalan kaki kesini? Paling jauh muter sampai mana?”)
“Muhun jang,  mapah. Paling jauh sampai Cisaga”. (“Iya jang, jalan kaki. Paling jauh sampai cisaga---desa yang jaraknya 10 Km dari Kota Banjar”).
Saya pun mengajukan pertanyaan berikut :
“Teu cape kitu bah ngider dugi ka Banjar, komo dugi ka Cisaga?”. (Gak cape bah jalan sampai Banjar, apalagi sampai Cisaga?”).  Saya tidak dapat membayangkan capeknya berjalan 25 Km, dan kalau pulang pergi total jarak yang ditempuh Abah adalah 50 Km.
“Disebut cape mah sadaya ge cape jang milari rejeki mah, tapi da kumaha deui. Jalan rejeki Abah mah kedah kieu, apan ai cara ngajemput rejeki teh aya dua. Nu kahiji diteang siga Abah, kudu neangan nu butuh jasa Abah, tah nu kadua mah siga Ujang. Teu kudu neangan nu meuli, cukup cicing di toko nu balanja ge nyalamperkeun ieuh nu meuli na”. (“Disebut cape ya cape semuanya juga mencari rejeki, tapi mau bagaimana lagi. Jalan rejeki Abah begini, kan cara menjemput rejeki tuh ada dua. Yang pertama harus nyari pembeli seperti Abah, yang kedua seperti Ujang yang tidak usah mencari pembeli, cukup diam di toko, pembeli pun datang sendiri”). Kuliah logika sederhana dan disisipi ilmu agama dari seorang Tukang Sol, yang bahkan selama saya kuliah pun saya belum pernah diberikan materi kuliah seperti itu dari Dosen.
 “Enya oge sih bah, leres pisan ai ngemut kadinya mah. Ai liren kangge istirahat sok dimana atuh bah?”. (“Iya juga sih bah, benar sekali kalau kita berpikir ke arah sana. Kalau berhenti untuk istirahat, suka dimana bah?”). Saya semakin tertarik mengobrol dengannya.
“Istirahat mah sakasamperna we kasep, mung pami istirahat mah biasana Abah sok  milari masjid nu caket meh tiasa bari sakalian sholat. Bade ngarokok jang?”. (“Istirahat ya seinginnya aja, Cuma kalau istirahat biasanya Abah suka mencari masjid yang dekat supaya bisa sekalian sholat”). Kali ini dia menjawab sambil mengeluarkan Rokok Djarum Cokelat dari kantong di samping bajunya dan kemudian menawari saya sebatang rokok.
“Moal Bah cekap, rokok mah aya”. (“Gak Bah cukup, saya punya rokok kok”). Jawab saya sambil ikut-ikutan si Abah membakar rokok. Kemudian saya bertanya kembali. “Ai sadinteun sok kenging pasien sabaraha hiji bah?”. (“Kalau dalam sehari suka dapat berapa pasien?”).
Sambil mengisap asap rokok sembari tangannya mengesol dia menjawab, “Nya kadang 3, kadang 2, mun keur alus poe na mah 5 nepi 8 urang ge menang. Nya ngaranna ge rejeki mah saha nu apal jang, nu ku Abah apal mah rejeki mah kudu diteang”. (“Ya kadang 3, kadang 2, kalau lagi bagus hari nya ya 5 sampai 8 orang juga dapat. Yang namanya rejeki siapa yang tahu, setau Abah yang namanya rejeki ya harus dicari”). Kembali dia mengkuliahi saya dengan materi serupa. Saya pun menggelengkan kepala sambil berpikir : “Pemikiran orang ini lebih hebat dari seorang Sarjana yang hobinya hanya menunggu panggilan kerja. Harusnya dia jadi motivator nih”. Otak saya mengkhayal terlalu jauh.
Setelah dia berbicara seperti itu, pekerjaannya selesai. “Yeuh jang, sendalna tos beres. Insya Alloh ayena mah moal soek deui”. (“Nih, sandalnya sudah beres. Insya Alloh sekarang tidak akan sobek lagi”). Sambil tangannya memberikan sandal yang telah diperbaiki ke arah saya.
“Sabarahaeun sadayana?”. (“Berapa semuanya?”). Saya bertanya berapa harganya.
“7 rebu sadayana mah”. (“7 ribu semuanya”). Dia menjawab sambil membereskan alat-alatnya ke dalam kotak kayu.
“Yeuh rejeki Abah”. (“ini rejeki Abah”). Sambil saya sodorkan uang 15 ribu rupiah,
 “Langkung teuing jang”. (“Kelebihan jang”). Sambil dia kembalikan uang itu kepada saya.
Saya tolak dan saya jawab, “Eta rejeki Abah, ulah kedah di angsulan”. (“Itu rejeki Abah, tidak perlu dikembalikan”).
Alhamdullillahirabbil’alamiin, mudah-mudahan kasaean ujang sing digentosan langkung-langkung tibatan ieu ku nu Maha Uninga”. (“Alhamdullillahirabbil’alamiin, mudah-mudahan kebaikan ujang diganti dengan yang lebih banyak daripada ini”).
“Amin”. Saya jawab sambil menjabat tangannya. Adapun saya memberi lebih kepadanya karena dia telah memberikan saya kuliah ilmu dan kehidupan, uang sebesar itu sebetulnya sangat sedikit untuk mengganti ilmu yang diberikan oleh Tukang Sol Sepatu itu---tanpa dia sadari---ketika mengobrol dengan saya.
Setelah beres semua peralatannya masuk ke dalam kotak kayu yang ditanggung dipundaknya, dia pun berpamitan dan tak lupa mengucapkan salam sambil berterimakasih kepada saya. Dia kembali berjalan menyusuri aspal panas, yang membuat hitam kulit serta mengeluarkan peluhnya. Ilmu yang dia berikan sungguh menyadarkan saya akan arti perjuangan, semoga Tuhan memberikan dia ganjaran berkali lipat dari apa yang sekedar dia dapat. Amin…

Mantri Atang
“Ud’unii Astajib Lakum” (Artinya : “Silahkan kalian meminta kepada Kami, maka Kami akan kabulkan). Begitulah kiranya kata-kata yang sering beliau ucapkan setiap kali saya bertemu dengannya sambil beliau menawarkan barang dagangannya yang dia tenteng di lengannya, perawakannya yang pendek dengan perut buncit membuat beliau tidak sulit dikenali.  Topi hitam butut---untuk menutupi rambutnya yang memutih---, baju berkerah berwarna krem yang bertuliskan “DOES” (nama salah satu Penjual sayur di Pasar Banjar) di punggungnya  serta sandal yang terlalu besar untuk ukuran kakinya sudah menjadi ciri khas untuk stelan kerjanya setiap hari. Kami---masyarakat Pasar Banjar---memanggilnya “Pak Mantri” .
Beliau berasal dari Garut, tetapi sudah sejak lama beliau menetap di Kota Banjar sebagai tempat menjemput rejekinya. Menurut saya Kakek tua ini merupakan salah satu Entrepreneur sejati di kota ini, beliau sudah mulai berdagang di Pasar Banjar jauh sebelum saya lahir. Saya mendengar dari kedua orangtua saya dan saya pun mengingatnya---karena waktu itu usia saya sudah menginjak lima tahun---, jauh sebelum beliau menjadi tukang obat, beliau dulunya---± tahun 90-an---adalah seorang tukang kiridit (orang yang sering menjual berbagai macam barang tetapi pembayarannya dicicil oleh pelanggannya).  Berbagai macam barang dia jual untuk dikreditkan kepada customer-nya, mulai dari sabun, odol (pasta gigi), shampo bahkan sikat gigi sampai panci sekalipun dia kreditkan. Nah disini yang unik adalah sasaran pelanggannya yang kebanyakan bukan Ibu Rumah Tangga, melainkan para tukang becak, pedagang kaki lima, dan kuli panggul di lingkungan Pasar Banjar. Alasannya dia merasa kasihan kepada mereka yang pendapatannya hanya cukup untuk makan saja, sementara kebutuhan penunjang kehidupan lain sulit untuk mereka dapatkan---kalaupun mereka menginginkan barang itu, mereka harus menabung lama dengan cara mengurangi jatah makan---. Nah dari situ beliau melihat sebuah peluang dan mencoba menjual barang yang menjadi kebutuhan manusia dengan cara dikreditkan, tujuannya untuk meringankan beban para tukang becak sampai kuli panggul yang pendapatannya kalau dibawa kerumah habis untuk makan. Sebuah pemikiran yang brilian yang dipadu-padankan dengan sikap empati terhadap sesamanya, yang bahkan untuk kebanyakan Sarjana Ekonomi seperti saya mungkin tidak pernah terpikirkan ide-ide bisnis sederhana seperti itu, karena kami terlalu banyak dicekoki dengan ide-ide bisnis yang berorientasi profit---sementara sikap empati terhadap sesama dikesampingkan---, walaupun pada kenyataannya kadangkala tidak sesuai dengan teori yang ada.
Nah dimulailah perjalanan Pak Mantri sebagai Tukang Kiridit, seperti biasa urusan usaha itu tidak selalu datar-datar saja tetapi penuh dengan liku-liku permasalahannya. Begitu juga yang dialami Pak Mantri untuk usaha awalnya ini, untuk awal-awal usaha ini mungkin menjanjikan keuntungan yang sangat besar tetapi beliau belum pernah memikirkan resiko yang akan dia dapatkan akibat dari mengkreditkan barang-barang jualannya. Untuk satu sampai enam bulan pada awalnya usaha ini berjalan lancar dan menguntungkan, karena Customer pun mencari kepercayaan Pak Mantri selaku Penjual dengan cara mencicil hingga lunas agar Pak Mantri yakin dan percaya untuk mengkreditkan kembali barang dagangannya kepada pelanggannya. Dan disinilah letak kesalahannya, Pak Mantri terlalu percaya kepada semua pelanggannya bahwa mereka akan membayar cicilannya. Satu persatu pelanggannya mulai menunggak, tidak jarang ketika mereka mengetahui Pak Mantri mulai berjalan mendekat ke arah mereka dan para pelanggannya melihat Pak Mantri dari kejauhan. Para pelanggan ini saling memberi tahu, dan memulai aksi melarikan diri menghindari kejaran Pak Mantri. Usaha ini “sukses” ditutup karena Pak Mantri selalu harus menambah modal, sementara arus kas tersendat karena banyaknya kredit macet. Usaha ini pun hanya dijalaninya beberapa tahun saja.
Pak Mantri dengan barang jualannya
Akhirnya kembali beliau merintis usaha terbarunya, sekarang beliau berjualan obat. Obat yang dijual beliau bermacam-macam, mulai dari obat sakit kepala, sakit perut, vitamin sampai obat kuat serta kondom pun dia jual. Maap-maap nih, obat kuat serta kondom yang dia jual pun terkadang punya keunikan tersendiri, seperti misalnya kondom yang bergerigi (ada semacam benjolan-benjolan) di kondomnya. Terus saya pun sempat heran, dengan berbagai macam jenis dan merk obat kuat yang dijualnya, ada yang berbentuk kapsul, pil, kaplet sampai tissue. Saya pun sampai menggelengkan kepala, untuk urusan yang satu ini, bahkan untuk urusan humor porno yang  menjurus esek-esek beliau ini memang Rajanya. Karena itu dia pun punya julukan lain yang diberikan pelanggannya seperti “Mantri Ijut dan Uwa Eder (yang dalam bahasa Slang Terminal  Banjar, Uwa Eder itu artinya Ew*)”.
Sempat saya bertanya kepada beliau perihal ini. “Gening Pak Mantri tiasa ngicalan obat kuat? Kumaha kawitna?”. (dalam bahasa sunda artinya begini : “Kok Pak Mantri bisa ngejual obat kuat? Bagaimana awalnya”?)
“Pan sok aya nu peryogieun sareng narosken cep, sapertos tukang parkir, tukang becak, sopir angkot sareng nu sanesna. Panginten aranjeunna teh isineun ai kedah ka toko obat mah narosken obat kieu mah, nya tos we ku Pak Mantri di ayaan”. (“Kan suka ada yang membutuhkan dan menanyakan cep, seperti tukang parkir,dll. Mungkin mereka malu kalo ke toko obat untuk membeli obat begini mah, ya sudah akhirnya Pak  Mantri menyediakan obat begini”). Beliau menjawab sambil terkekeh.
Kembali saya gelengkan kepala, ide usahanya selalu sederhana serta orisinal tapi tetap dia mampu mengakomodir kebutuhan sesamanya. Untuk usahanya yang sekarang, kali ini beliau tidak mengkreditkan kepada para pelanggannya melainkan dengan sistem cash. Namun untuk usahanya yang sekarang, kurang terlalu ramai dikarenakan hanya orang tertentu saja yang membutuhkan barang dagangannya.
Saya bertanya. “Teu cape kitu Pak Mantri icalan bari mapah?”. (“Gak cape gitu Pak Mantri jualan sambil berjalan kaki?”).
Ai Cape mah kantenan, mung kumaha deui tuda. Da padamelan Pak Mantri mah siga kieu, atuh pami teu icalan mah moal aya kangge meser uas benang (bahasa slang pasar artinya beras)”. Beliau menjawab sambil tertawa.
“Kumaha hasil usaha dinten ayena?”. (“Gimana hasil usaha hari ini?”). Kembali saya bertanya.
Alhamdulillah, aya kangge meser beas sareng gas mah cep”, (“Alhamdulillah, ada untuk sekedar membeli beras dan gas”). Beliau menjawab seperti itu jikalau saya bertanya mengenai hasil jualannya laku atau tidak, sungguh sifat Qana’ah (menerima akan pemberian Tuhan) yang perlu kita tiru tanpa sekalipun beliau mengeluh. Jawaban sederhana tetapi sarat makna, menyadarkan saya akan pentingnya bersyukur dengan rejeki yang kita dapat. Karena tak jarang di era modern seperti sekarang ini, banyak manusia kurang bersyukur dengan rejeki yang telah diperolehnya, padahal gaji atau pendapatan yang mereka dapat lebih daripada penghasilan seorang tukang obat keliling ini.
Pernah suatu ketika saya diajak untuk berkunjung kerumahnya. “Aya cep ai sakalieun kopi mah, hayu atuh cuang ameng ka rorompok”, (Ada kalo sekedar kopi saja cep, ayo main ke rumah”). Dan pada suatu malam akhirnya saya berkunjung ke rumahnya, sebuah rumah petak yang dari luarnya saja sudah menandakan bahwa penghuninya merupakan seorang manusia yang sederhana dan bersahaja. Saya pun mengetuk pintu dan mengucapkan salam beberapa kali, dan setelah menunggu---respon dari si tuan rumah---sedikit lama akhirnya pintu rumah itu dibuka oleh si pemiliknya. Saya disambut bak seorang tamu agung dengan wajah penuh senyum terlihat dari penghuninya yang memperlihatkan betapa senangnya ada orang yang mau berkunjung ke rumahnya. Pada waktu itu beliau mengenakan baju koko, sarung untuk menutupi auratnya serta kopiah di kepalanya karena sepertinya beliau telah menyelesaikan kewajiban yang di perintahkan Tuhan sebelum menerima saya sebagai tamu dirumahnya.
Pak Mantri ketika saya bertamu di rumah sederhananya
Saya pun dipersilakan masuk, dan betapa kagetnya saya melihat rumah ini. Kagetnya saya disini bukan karena melihat perabotan mewah, tetapi lebih pada tidak terurusnya rumah ini. Dengan atap yang bocor disana-sini, tembok yang sudah mulai rapuh dan semennya yang mengelupas, serta perabotan yang berserakan menandakan rumah ini tidak terurus sama sekali oleh pemiliknya. Jemuran yang belum disetrika---bahkan sepertinya tidak pernah disetrika---menggantung di setiap sudut rumahnya, lantai rumah penuh debu dan pasir menandakan rumah ini tidak pernah di sapu dan dipel oleh pemiliknya. Saya pun duduk di kursi sudut dengan meja kecil sebagai pemanis dari kursi yang sudah kusam dan usang di ruang tamu---merangkap ruang tengah---.
“Cep, bade Energen atanapi Kopi ABC Susu?”. Pertanyaan itu menyadarkan saya dari keheranan saya mengenai kondisi rumah itu.
“ Kopi we Pak Mantri, moal ngadamelkeun kitu?”, (“Kopi saja Pak Mantri, tidak merepotkan gitu?”. Jawab saya.
“Teu sawios-wios cep, atuh da ncep teh tamu kedah disuguhan. Kaleresan kopi sareng energen mah aya tos nyiapkeun, janten Pak Mantri teu kedah ka warung”. (“Gak apa-apa cep, kan ncep tamu ya harus dikasih suguhan. Kebetulan kopi dan energen ada dan sudah disiapkan, jadi Pak Mantri tidak perlu ke warung”). Jawab beliau sambil berlalu ke arah dapur.
Kembali dia ke ruang tamu sambil membawa gelas besar berisi kopi, dengan tangan yang sedikit gemetar dia letakkan gelas itu diatas meja tamu . “Waduh, ageng-ageng teuing gelas na Pak Mantri, atuh hambar panginten rasa na kopi  teh”. (“Waduh, besar sekali gelasnya Pak Mantri, hambar mungkin rasa kopinya”). Saya sedikit protes.
“Hapuntenna we cep, Pak Mantri mah kagungan na gelas kieu. Teu kagungan cangkir mah, bilih seer teuing cai na mah, beu kadieu cuang dipiceun saalit cai na”. (“Mohon maap cep, Pak Mantri cuma puya gelas begini.  Gak punya cangkir, kalo dirasa kebanyakan airnya sini Pak Mantri buang airnya”). Beliau menjawab sambil tersenyum seraya hendak mengambil gelas itu.
“Wios Pak Mantri, abi nu lepat. Hapunten na abdi teu uninga, manawi teh Pak Mantri kagungan cangkir”. (“Gak apa-apa Pak Mantri, saya yang salah. Maap saya tidak tahu, dikira saya Pak Mantri punya cangkir”). Saya jawab dengan sedikit malu.
Saya pun meminum sedikit kopi dari gelas besar itu, dan memang rasanya sedikit hambar---seperti yang sudah saya kira---. Tapi tak apalah yang penting niat dari orangtua itu untuk membuatkan saya kopi, sudah lebih dari cukup untuk membuat kopi itu terasa lebih enak.
Setelah saya letakkan kembali gelas kopi itu diatas meja, saya pun mulai mengajak beliau untuk berbincang. “Ai Pak Mantri sareng saha linggih didieu?”.
“Ah cep, Pak Mantri mah nyalira we di rorompok mah. Numawi istri da tos ngantunkeun, pun anak tos rumah tanggi”. (“Ah cep, Pak Mantri sendiri di rumah. Karena Istri sudah meninggalkan, anak-anak sudah berumah tangga”).  Beliau menjawab dengan nada lesu sambil bibirnya tetap tersenyum.
“Innalillahi, ti iraha Istri ngantunkeun Pak Mantri?”. (“Dari kapan Istri meninggal Pak Mantri?”). Kembali saya bertanya.
“Tos opat taun kapengker cep, pun bojo teh ngantunkeun. Nikah deui sareng pameget nu sanes”. (“Sudah Empat taun ke belakang istri meninggalkan. Menikah lagi dengan Lelaki lain”). Jawab Pak Mantri sambil tersenyum.
“Hapunten Pak Mantri, abdi kumawantun. Manawi teh bojo Pak Mantri teh ngantunkeun ka Alam Barzah”. (Maap Pak Mantri, saya lancing. Saya kira istri Pak Mantri meninggal ke Alam Barzah”. Jawab saya dengan wajah sedikit panik, takut menyinggung perasaan Pak Mantri.
“Teu sawios-wios cep, da kitu aya na. Matak pun bojo kitu ge panginten pedah Pak Mantri seer kirangna”. (Tidak apa-apa cep, emang begitu adanya. Istri begitu juga mungkin karena Pak Mantri banyak kekurangannya”). Lagi-lagi sambil tersenyum dia  menjawab saya.
Dari situ saya baru tahu yang sebenarnya mengenai kondisi rumah tangga beliau, dan dari situ saya bisa menarik kesimpulan mengenai pertanyaan-pertanyaan saya ketika memasuki rumah beliau. Mengenai kenapa rumah ini tidak terurus, kenapa rumah ini terlalu kotor untuk ditinggali, dll. Suatu kewajaran karena rumah ini hanya dihuni oleh seorang kakek tua, yang tentunya daripada mengurus rumah ini seorang diri, lebih baik dia memakai waktunya untuk beristirahat guna melemaskan otot-otot kakinya yang hampir setiap hari dipakai berjalan untuk menjemput rejekinya.
Saya sungguh terkesan dengan jawaban beliau, alih-alih beliau menyalahkan Istrinya atau selingkuhannya. Beliau lebih memilih menyalahkan dirinya sendiri, dan lebih memilih berintrospeksi diri akan kejadian yang telah menimpa dirinya. Bertolak belakang dengan perilaku kita di masa sekarang, yang mungkin apabila kita yang ditimpa musibah seperti yang dialami Pak Mantri. Alih-alih introspeksi diri, mungkin kita akan lebih senang menyalahkan oranglain daripada mencoba mengkoreksi perilaku diri.
Malam itu kami berbicara ngalor-ngidul, berbicara mengenai pengalaman hidup Pak Mantri, berbicara mengenai arti kehidupan, banyak sekali nilai-nilai kehidupan yang saya dapat ketika saya berkunjung ke rumah Pak Mantri malam itu. Beliau mengajarkan saya mengenai arti sebuah kesederhanaan, dalam artian walaupun dia hidup berkekurangan tapi beliau tetap mencoba untuk member terhadapa sesama. Beliau mengajarkan arti sebuah keikhlasan akan merelakan sesuatu yang beliau punyai untuk diambil oleh yang Maha Mempunyai, beliau sangat memakanai ucapan “Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raaji’un” ; (“Sesungguhnya kepunyaan Allah akan kembali kepada Allah”). Bukan sekedar diucapkan dengan mulut, tetapi disesuaikan dengan hati.
Setelah lama saya berbicara, saya agak sedikit nelangsa. Terpikirkan oleh saya bagaimana jadinya kalau saya atau orangtua saya yang menjadi Pak Mantri, hidup seorang diri tanpa ada yang mengurus, tanpa ada yang menemani. Yang membuat saya nelangsa adalah karena beliau menceritakan, pernah suatu ketika beliau terjatuh di kamar mandi---setelah berwudhu---yang menyebabkan beliau pinggangnya sakit sampai beliau tidak sanggup berdiri. Beliau berteriak  meminta tolong, tetapi tidak ada yang mendengarkan. Selain karena beliau hanya sendiri dirumah, juga karena pada siang hari tetangganya sedang sibuk beraktivitas diluar rumah. Sehingga akhirnya beliau memaksakan diri---dengan sisa-sisa tenaga yang ada untuk keluar dari kamar mandi dengan cara menyeret badannya untuk pergi ke kamar dan melaksanakan shalat baru kemudian beristirahat. Sungguh pengalaman yang buruk, dan membuat saya teringat akan kedua orangtua saya yang mulai beranjak tua.
Dari situ pun saya sempat mengusulkan agar Pak Mantri tinggal di rumah anaknya, supaya beliau ada yang mengurus karena usia nya yang sudah mulai sepuh. Tapi beliau menolak dengan alasan : “beliau tidak mau merepotkan anaknya yang sudah berkeluarga dan punya tanggung jawab terhadap keluarganya”. Tadinya saya mau mendebat, tapi saya pikir ulang alangkah baiknya saya hargai keputusannya.
Saya pun hanya bisa berharap ketika nanti Pak Mantri meninggal, beliau tidak dalam keadaan seorang diri di rumah ini. Beliau menjawab : “Amin.. Harepan Pak Mantri mah cep, dimana ngke Pak Mantri dicabut nyawa ku nu Maha Kawasa. Pak Mantri sing digampilken maot na, ulah kedah ngangge acara teu damang dugi dirawat di Rumah Sakit sagala meh teu janten ngarepotkeun ka kulawarga”. (“Harapan Pak Mantri, ketika nanti Pak Mantri dicabut nyawa oleh yang Maha Kuasa. Pak Mantri dimudahkan  dalam menghadapi kematian, tanpa perlu sakit apalagi sampai dirawat di Rumah Sakit segala, supaya tidak jadi beban untuk keluarga”).
Begitulah Pak Mantri, orang tua yang sudah sepuh tetapi tak pernah mengeluh. Selalu berjuang untuk kehidupannya, bahkan untuk sesamanya. Banyak nilai-nilai kehidupan yang saya petik dari perjuangannya.
Hari sudah larut malam, saya pun terpaksa berpamitan kepada Pak Mantri untuk pulang. Tak lupa beliau selalu mendoakan saya setiap kami mengakhiri pertemuan, dengan doa : “Mudah-mudahan ncep sing sehat sakulawargi, usahana sing lancar, sing laris. Teras sing enggal kenging jodoh anu nyaaheun ka ncep, anu sae akhlakna, oge sae agamana”. (Mudah-mudahan ncep sehat sekeluarga, usahanya lancar, laris. Terus cepat dapat jodoh yang sayang sama ncep, yang bagus akhlaknya juga agamanya”).
Beliau mengantarkan saya sampai ke pintu depan, saya pun berpamitan kembali untuk pulang. Seraya mendoakan Pak Mantri supaya sehat selalu. Sesampainya saya dirumah, saya langsung berwudhu dan melaksanakan shalat, setelah selesai shalat pikiran saya melayang ke dalam lamunan dan menggumam : “Ah, beruntungnya hidup saya dibandingkan dengan Pak Mantri”. Saya pun larut dalam doa dan berjanji tidak akan menelantarkan orang tua saya ketika orang tua saya sudah mulai beranjak sepuh seperti Pak Mantri. Saya ingin membalas budi akan kebaikan orang tua yang telah merawat dan membesarkan saya hingga saat ini. 
Penutup
Sebetulnya banyak sekali orang-orang yang menginspirasi kehidupan saya, mungkin ke depannya akan saya bahas di tulisan saya di lain waktu. Semoga kedua orang ini dapat menginspirasi kita semua---terutama bagi kaum muda---khususnya untuk penulis sendiri, umumnya untuk pembaca.
Oh iya, ini pertama kali saya menyelesaikan tulisan dalam 3 hari lho. Mudah-mudahan saya dapat lebih produktif lagi ke depannya, sehingga anda semua dapat menikmati tulisan saya. Rencananya minimal 1 tulisan saya posting tiap satu bulan. Semoga saya dapat terus berkarya. Amin.



Banjar, 4 April 2013

----Ditulis di Tempat Rahasia, dibaca dimana saja---
Ikuti saya di twitter : @pelucida


1 comment:

  1. Halo, saya Ibu Joyce, pemberi pinjaman pinjaman swasta yang memberikan pinjaman kesempatan waktu hidup. Apakah Anda membutuhkan pinjaman mendesak untuk melunasi utang Anda atau Anda membutuhkan pinjaman untuk meningkatkan bisnis Anda? Anda telah ditolak oleh bank dan lembaga keuangan lainnya? Apakah Anda membutuhkan pinjaman konsolidasi atau hipotek? mencari lebih karena kita berada di sini untuk membuat semua masalah keuangan Anda sesuatu dari masa lalu. Kami meminjamkan dana kepada individu yang membutuhkan bantuan keuangan, yang memiliki kredit buruk atau membutuhkan uang untuk membayar tagihan, untuk berinvestasi di bisnis di tingkat 2%. Saya ingin menggunakan media ini untuk memberitahu Anda bahwa kami memberikan bantuan yang handal dan penerima dan akan bersedia untuk menawarkan pinjaman. Jadi hubungi kami hari ini melalui email di: joycemeyerloanfirm@gmail.com

    ReplyDelete