Januari 2013.
Pagi buta sekitar jam setengah 3 shubuh itu aku dipaksa bangun oleh suara deringan Handphoneku, ternyata Mang Uud yang menelepon memberitahukan bahwa kiriman barang 1 truk penuh karung pakan ayam bekas sudah sampai di gudang. Dia menungguku di gudang untuk membongkarnya.
Aku suruh Mang Uud menunggu di sana, sementara aku segera menuju kamar mandi sekedar untuk mencuci muka.
Setelah selesai, aku bergegas memakai jaket dan mengeluarkan motor dari rumah. Hawa dingin menusuk tulang, khas udara di pagi buta.
Aku kendarai motorku menuju gudang di area pasar banjar. Jalan yang aku lewati seperti biasa melewati alun-alun Kota ini.Kali ini aku mendapatkan pemandangan lain dari biasanya, tidak seperti biasanya aku melewati alun-alun ini di jam-jam normal orang melakukan suatu kegiatan antara jam 7 pagi s/d jam 9 malam. Kalau pada jam normal, aku sering melihat orang-orang berlalu lalang sekedar berjalan-jalan dengan keluarganya, hangout dengan teman-temannya, juga pedagang menawarkan barang dagangannya mulai dari kuliner sampai kebutuhan sandang.
Di pagi buta ini Aku melihat ada sekelompok orang sedang menyapu jalanan, membersihkan jalan serta alun-alun itu dari sampah yang berserakan. Mulai dari sampah non-organik sampai dengan sampah organik.
Aku-pun melalui mereka, tanpa sempat memperhatikannya terlalu jauh karena Mang Uud sudah menungguku di gudang untuk membongkar barang.
---------------------------------------
Maret 2013.
Sabtu, jam 5 sore itu aku, Ayahku dan saudara kembarku sedang menunggu Tukang Nasi Goreng lewat depan Toko. Perut kami kosong setelah seharian bekerja, kebetulan dari pagi sampai jam 3 toko ramai pembeli hingga kami tidak sempat mengisi perut.
Dari arah timur, terlihat Tukang sampah menarik gerobaknya. Sesekali dia berhenti dan menyapukan sampah di jalan yang dilaluinya. Hingga sampailah dia berhenti di depan Toko kami, menyapukan jalanan didepan Toko dari sampah yang dibuang sembarangan.
Ayahku memanggilnya dan memberikannya sebuah Rokok. "Nih, daripada manyun."
Dia berterima kasih dan berhenti sejenak dari aktifitasnya, duduk di trotoar, menyalakan sebatang rokok dan mulai bercerita mengenai kerja kerasnya mencari rejeki dari onggokan sampah.
Dia pun bercerita kalau gajinya hanya sekitar Rp. 450.000,- saja. Karena statusnya di Dinas Kebersihan hanya seorang tenaga sukarelawan, dengan harapan setelah beberapa tahun dia mengabdi untuk negaranya, maka dia akan diangkat menjadi seorang Pegawai Negeri.
Harapan tinggal harapan, lebih dari 10 tahun dia mengabdi, tapi dia tak kunjung diangkat sampai usia minimum pengangkatan seorang PNS. Akhirnya dia hanya bisa pasrah dengan statusnya, tapi tidak dengan keadaannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dia mengakali kekurangan pendapatannya dengan cara mengumpulkan sampah yang masih bisa dijual ke tukang rongsok, seperti botol minuman, kantong keresek, kardus, plastik bekas makanan, dll.
Dari usahanya itu dia bisa mengumpulkan ± Rp. 30.000,- sampai Rp. 50.000,- per harinya, lebih dari sekedar cukup daripada gajinya sebagai tenaga sukarelawan.
Menurut dia banyak teman-teman senasibnya yang bekerja dari pagi buta sampai malam hari, tapi pendapatannya segitu-gitu saja. Sementara tanggung jawab yang mereka emban lebih besar dari upah yang dibayarkan.
"Kalau kami hanya pasrah menerima pendapatan sebagai tenaga sukarelawan, mungkin kami tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup". Ujarnya sambil mengeluarkan asap rokok dari mulutnya.
Setelah rokoknya habis, dia bersiap kembali melanjutkan pekerjaannya. Menyusuri jalanan, mencari beberapa sampah bekas yang menurutnya itu harta karun baginya.
---------------------------------------
Kita kadang seenaknya kepada mereka, mungkin memandang rendah atau hina pekerjaan mereka.
Mereka memunguti sampah, tapi bukan berarti mereka juga sampah. Tanpa kita sadari, betapa mulianya pekerjaan mereka. Membersihkan sampah di sekitar jalan yang dilaluinya, bukan karena itu memang tugasnya tapi juga sebagai kewajiban mereka menafkahi keluarganya.
Kalau dipikir juga, pekerjaan mereka itu setara dengan seorang dokter. Katakan dokter menghilangkan penyakit pasiennya, sementara mereka menghilangkan sumber penyakitnya.
Jadi, sebetulnya di dunia ini tidak ada pekerjaan yang hina atau rendah. Yang ada adalah pekerjaan yang bermanfaat atau sia-sia. Tinggal kita pilih mau yang mana, hidup bermanfaat bagi sesama atau mati sia-sia karena menyerah pada keadaan.
SUKSES adalah ketika kita mampu bermanfaat bagi orang lain dan tidak menyerahkan diri pada keadaan.
---------------------------------------
Ikuti saya di twitter : @pelucida
No comments:
Post a Comment