Friday, 1 January 2016

Hancurkan Berhala (Patung) di Diri Kita

Michael Angelo suatu ketika di florence, italia di tanya seseorang bagaimana ia mampu membuat patung seindah patung DAVID (il gigante) dari sebongkah batu marmer, beliau menjawab: "Saya tidak membuat David, David sudah ada di dalam batunya, saya hanya membuang bagian yg menutupinya saja.

Moral dari cerita ini adalah ada "sesuatu" dalam sebuah batu, yang kalau kita bisa memahat dan membentuknya. Maka akan menjadi sesuatu yang indah.

Begitupun dalam diri (wujud) kita, ada "sesuatu" yang bisa kita temukan apabila kita mampu mengikisnya, maka kita akan mengetahui hakikat dari wujud kita.

Sama seperti batu marmer yang dipahat Michel Angelo, orang biasa mungkin hanya melihat batu marmer itu hanya sebongkah batu biasa. Tapi ketika Michel Angelo yang memahatnya, dia menemukan David didalam batu tsb.

Seperti kita ketahui, wujud (fisik) diri kita ini adalah anggota badan. Mulai dari kepala, tubuh, tangan dan kaki disertai dengan gerakannya. Belum lagi indera-indera seperti mata dengan penglihatannya, otak dengan akalnya, hidung dengan penciumannya, telinga dengan pendengarannya, mulut dengan ucapannya, dll yang semuanya ada dalam wujud (fisik) kita.

Tapi apalah arti dari itu semua kalau kita tidak mengetahui, apa dan siapa yang mampu menghidupkan tubuh dan indera yang menempel pada wujud kita.

Maka, kita perlu menggali dan mencari tahu "diri" kita yang bersemayam dalam wujud/jasad ini, sehingga kita mampu mengetahui apa dan siapa yang mampu menggerakkan itu semua.

Untuk mengetahui hakikat yang ada dalam wujud diri, tidak cukup hanya dengan menggunakan analisis ilmu umum dan ilmiah, karena kedua ilmu ini tidak akan mampu mencapainya. Karena itu, ketika ilmu umum dan ilmiah tidak mampu mencapainya, maka kita perlu bersandar pada ilmu agama (dogma), yang banyak menjelaskan mengenai ini melalui firman Tuhan yang terdapat dalam kitab suci.

"Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya, dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (Q.S. As-Sajdah:7-9)

Dari ayat diatas, kita dapat mengetahui bahwa yang menghidupkan wujud/raga/jasad/fisik kita adalah Ruh yang telah Tuhan tiupkan ke dalam wujud kita. Tapi siapa yang menggerakkan dan merasakan wujud diri kita ini? Kembali lagi Tuhan menjawab melalui firmannya:

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Q.S. Al-'A`rāf:172)

Jiwa dalam bahasa arab disebut nafs (nafsu). Para ulama menemukan tujuh tingkatan nafs dari dalam Al-Qur’an:

Pertama, nafs al-ammarah bi al-su’, atau nafsu pendorong kejahatan. Ini adalah tingkat nafs paling rendah yang melahirkan sifat-sifat seperti takabbur, kerakusan, kecemburuan, nafsu syahwat, ghibah, bakhil dsb.

Kedua, nafs al-lawwamah. Ini adalah nafs yang memiliki tingkat kesadaran awal melawan nafs yang pertama. Dengan adanya bisikan dari qalb-nya, nafs menyadari kelemahannya dan kembali kepada kemurniannya. Jika ini berhasil maka ia akan dapat meningkatkan diri kepada tingkat diatasnya.

Ketiga adalah Nafs al-Mulhamah atau jiwa yang terilhami. Ini adalah tingkat jiwa yang memiliki tindakan dan kehendak yang tinggi. Jiwa ini lebih selektif dalam menyerap prinsip-prinsip. Ketika nafs ini merasa terpuruk kedalam kenistaaan, segera akan terilhami untuk mensucikan amal dan niatnya.

Keempat, Nafs al-mutma’innah atau jiwa yang tenang. Jiwa ini telah mantap imannya dan tidak mendorong perilaku buruk. Jiwa yang tenang yang telah menomor duakan nikmat materi.

Kelima, Nafs al-Radhiyah atau jiwa yang ridha. Pada tingkatan ini jiwa telah ikhlas menerima keadaan dirinya. Rasa hajatnya kepada Allah begitu besar.

Keenam, Nafs al-Mardhiyyah, adalah jiwa yang berbahagia. Tidak ada lagi keluhan, kemarahan, kekesalan. Perilakunya tenang, dorongan perut dan syhawatnya tidak lagi bergejolak dominan.

Ketujuh, Nafs al-Safiyah adalah jiwa yang tulus murni. Pada tingkat ini seseorang dapat disifati sebagai Insan Kamil atau manusia sempurna. Jiwanya pasrah pada Allah dan mendapat petunjukNya. Jiwanya sejalan dengan kehendakNya. Perilakunya keluar dari nuraninya yang paling dalam dan tenang.

Jadi semua perilaku manusia hakikatnya disetir oleh jiwa atau nafs-nya. Ketika Jiwa, dan Ruh ditiupkan ke dalam jasad (wujud/raga) maka jadilah manusia.

Manusia sendiri dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain).

Maka ketika kita telah mengetahui itu semua, kita sekarang tahu bahwa yang menghidupkan dan menjadikannya sebuah kehidupan dalam wujud/raga kita adalah Ruh dan Jiwa (Nafs).

Belum cukup sampai sini pembahasannya, mari kita bahas lebih jauh lagi. Manusia menurut Karl Marx disetir oleh perutnya (ekonomi) dan bagi Sigmund Freud oleh libido seksnya alias kemaluannya. Keduanya menjelaskan mengenai manusia hanya sebatas pada memenuhi kebutuhan materi/fisiknya saja. Padahal "isi" dalam raga kita, yaitu Jiwa-pun sebenarnya memerlukan kebutuhan non-materi/non-fisik.

Karena kalau manusia hanya memenuhi kebutuhan jasadnya saja, seperti makan, minum, bersetubuh, dll. Maka tak ada bedanya antara manusia dengan hewan. Dan kalau dijelaskan lebih lanjut, apa bedanya kita dengan menyembah berhala (patung) yang ada pada diri kita yang berupa wujud raga/jasad. Kita tanpa sadar, terus-terusan menjadi budak, dipaksa bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan/keinginan wujud kita yang tak pernah ada habisnya.

Sementara falsafah sunda mengatakan, wujud ditungtut ku waktu, raga di-ala ku mangsa, diri diciwitan wanci. Yang artinya, wujud kita ini lama-lama akan menjadi tua, rapuh, tak bertenaga dan akhirnya berkalang tanah.

Maka dari itu, Tuhan memberitahu manusia untuk senantiasa mensucikan/membersihkan jiwa.

"dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya/wujud), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu". (Q.S. Ash-Shams:7-9)

Kutipan ayat diatas menjelaskan, bahwa Tuhan mengilhamkan kepada jiwa jalan kefasikan dan ketakwaan, dan diantara itu semua, yang beruntung adalah orang yang mensucikan jiwanya. Maksud mensucikan disini artinya adalah supaya manusia melalui akal-budinya mampu mengendalikan diri dari dorongan hawa nafsu untuk memenuhi kebutuhan fisiknya saja.

Karena Tuhan mengatakan ada kehidupan yang lebih baik dari kehidupan dunia, Sebagaimana firmannya:

"Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan). (Q.S Ađ-dhuhaa:4).

Sekarang, kembali ke judul diatas. Bagaimana cara kita menghancurkan/mengikis berhala (sifat ke-akuan) yang berwujud dalam diri kita, seperti Michel Angelo yang mampu memahat batu sehingga menemukan David di batu marmer itu?

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan dzikrullah (mengingat Allah) hati menjadi tenteram. (Q.S. Ar-Ra`d:28)

"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka". (Q.S. Ali-Imran:191)

Dipertegas oleh Nabi Muhammad dalam hadisnya yang menyatakan:

"Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad yg lebih besar (yaitu memerangi hawa nafsu)".

Itulah kunci yang telah Tuhan dan Nabi berikan kepada manusia agar hatinya menjadi tenteram, sehingga manusia tidak terlalu diperbudak oleh berhala alias wujud/raga/jasad yang terus menerus menuntut untuk dipenuhi kebutuhan materi/fisik atau duniawi saja. kuncinya yaitu dengan cara dzikrullah (mengingat Allah) dan memerangi hawa nafsu.

Bahkan perintah mendekatkan diri terhadap Tuhan ini dipertegas dalam firmannya:

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan". (Q.S. Al-Maidah:35)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Mengenai berhala yang sering dihancurkan dalam kisah para Nabi, menurut ilmu falsafah dapat dikatakan sebagai perumpamaan bahwa manusia terlalu menyembah wujud/jasad/raganya. Mengenai bagaimana Allah membuat perumpamaan, Allah berfirman:

"Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Quran ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari(nya)". (Q.S. Al-'Isrā':89)

"Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah. (Q.SAl-Kahf:54)

Sering diceritakan dalam kisah para Nabi, bahwa berhala itu seringkali dipuja dan diberi sesaji berupa makanan, minuman, dsb. Dengan harapan, itu semua dapat menyelamatkan kehidupan mereka. Walaupun pada kenyataannya, makanan dan minuman tsb tidak dimakan atau diminum oleh berhala tsb. Bisa dikatakan mengerjakan sesuatu yang sia-sia.

Manusia juga demikian, seringkali mereka tidak mengetahui perumpamaan yang telah Allah buat, terlena dengan wujud dan materi yang mereka punya seakan-akan materi yang mereka punya akan menyelamatkan kehidupan-nya. Sampai pada akhirnya mereka tidak sadar memuja wujud/jasad/benda itu semua.

Allah berfirman:

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)". (Q.S. 'Āli `Imrān:14).

Maka, pada hakikatnya wujud/jasad/materi/harta/benda yang diberikan oleh Tuhan ini merupakan sebuah patung/berhala yang harus kita hancurkan. Agar kita tidak tertipu dengan segala yang berwujud baik itu raga (jasad)/materi (harta/benda) yang kita miliki.

Sesuatu yang berwujud pasti akan musnah, termasuk jasad kita, dari muda, menjadi tua, sampai akhirnya berkalang tanah. Begitu juga materi, harta/benda yang kita punya juga akan semakin berkurang nilainya karena digerus oleh waktu.

Jasad/materi yang manusia punyai tak lebih dari sebuah benda mati, karena yang menghidupkan dan menjadikannya sebuah kehidupan adalah Ruh dan Jiwa melalui izin Allah ta'ala. Maka, Tuhan berseru: "beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya" (Q.S. Ad-dhuha:9). Karena hakikatnya, jiwa dan ruh kita nanti yang akan menjadi saksi di hari pembalasan, bukan jasad/materi kita. 

Yang diingat ketika kita mati-pun bukan wujud/jasad kita. Tapi kenangan baik berupa amal-perbuatan kita.

Seperti peribahasa:

Gajah mati meninggalkan gadingnya.

Harimau mati meninggalkan belangnya. 

Manusia meninggalkan amal-perbuatannya.

Masih mau tertipu dengan wujud/bentuk/rupa?

No comments:

Post a Comment