Kedudukan orangtua itu derajatnya tinggi didunia ini, malah saking tingginya kedudukan orangtua, Allah SWT berfirman:
"Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak". (Al-An’am 151).
Bahkan kedudukan orangtua didalam Al-Quran senantiasa beriringan dengan perintah Allah untuk tidak menyekutukan-Nya. Seperti dalam firman Allah:
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”, (Q.S An Nisaa’ :36)
“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya)”. (Q.S Al An’aam, 6:151)
Dalam hadis juga kedudukan orangtua mendapat tempatnya sendiri dari Rasul:
عَنْ عَبْدُ الله بن عَمْرٍو رضي الله عنهما قال قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: رِضَى اللهُ فى رِضَى الوَالِدَيْنِ و سَخَطُ الله فى سَخَطُ الوَالِدَيْنِ ( اخرجه الترمذي وصححه ابن حبان والحاكم)
Artinya: dari Abdullah bin ‘Amrin bin Ash r.a. ia berkata, Nabi SAW telah bersabda: “ Keridhoaan Allah itu terletak pada keridhoan orang tua, dan murka Allah itu terletak pada murka orang tua”. ( H.R.A t-Tirmidzi. Hadis ini dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim)[1]
عَنْ اَبِي هُرَيرَةَ رضي الله عنه قال جَاءَ رَجُلٌ الى رسولِ الله صلى الله عليه وسلم فقال يَا رسولَ الله مَنْ اَحَقًّ النّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قال: اُمُّك قال: ثُمَّ مَنْ؟ قال: ثُمَّ اُمُّك قال: ثم من؟ قال :ثم امُّك قال: ثم من؟ قال : ثم اَبُوْكَ (اخرجه البخاري)
Artinya: dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: “ Suatu saat ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW, lalu bertanya: “ Wahai Rasulullah, siapakah yang berhak aku pergauli dengan baik?” Rasulullah menjawab : “ Ibumu!”, lalu siapa? Rasulullah menjawab: “ Ibumu!”, lalu siapa? Rasulullah menjawab: “Ibumu!”. Sekali lagi orang itu bertanya: kemudian siapa? Rasulullah menjawab: “ Bapakmu!”(H.R.Bukhari).[2]
Artinya: dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: “ Suatu saat ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW, lalu bertanya: “ Wahai Rasulullah, siapakah yang berhak aku pergauli dengan baik?” Rasulullah menjawab : “ Ibumu!”, lalu siapa? Rasulullah menjawab: “ Ibumu!”, lalu siapa? Rasulullah menjawab: “Ibumu!”. Sekali lagi orang itu bertanya: kemudian siapa? Rasulullah menjawab: “ Bapakmu!”(H.R.Bukhari).[2]
Bahkan ketika orangtua kita sendiri kafir (non-muslim), kewajiban kita berbakti kepada kedua orangtua kita pun penting, seperti tersebut dalam firman-Nya:
"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S Lukman :15)
Lebih jauh lagi, kedudukan ibu derajatnya lebih tinggi. Allah pun berfirman:
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (Q.S Luqman, 31:14)
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa:
“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Q.S Al Ahqaaf, 46:15)
“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Q.S Al Ahqaaf, 46:15)
Bahkan Allah berfirman kepada Musa A.S mengenai pentingnya berbakti dan mentaati orangtua melebihi ketaatan kepada Allah.
Firman Allah kepada Musa as:
"Yaa musa, innahu man barro walidaihi wa 'aqqanii katabtuhu birro, wa man 'aqqa waa lidaihi wa barro nii katabtuhu 'aaqqa"
Artinya: "Wahai Musa, bahwasanya orang yg taat kepada kedua orangtuanya dan mendurhakai-Ku, maka Aku menulisnya sebagai orang yang taat. Dan siapa yang mendurhakai kedua orangtuanya dan taat kepada-Ku maka Aku menulisnya sebagai orang yang durhaka". (Kitab Ihya 'Ulumudin, Penulis Imam Al-Ghazali, Hal. 175).
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Q.S Al Israa’, 17:24)
Ketika orangtua sudah sepuh (tua), Allah menekankan pentingnya mengurus keduanya.
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (Q.S Al Israa’, 17:23)
Ada sekian banyak ayat-ayat Al-Quran yang menyebutkan tentang pentingnya berbakti dan taat kepada kedua orangtua. Itu menunjukkan bahwa orangtua itu merupakan manifestasi wujud Tuhan di dunia ini bagi kita sebagai anak yang keluar dari rahim ibu kita, yang berasal dari air mani yang dikeluarkan bapak kita.
Salah satu bentuk rahman (pengasih) rahim (penyayangnya) Tuhan terhadap kita, Tuhan menitipkan rahman rahim-Nya melalui kedua orangtua kita. Bapa-ibu yang tiada lelah mengasihi dan menyayangi kita, dari semenjak kita lahir sampai beranjak dewasa. Tidak terhitung berapa banyak pengorbanan yang dilakukan oleh orangtua kita guna mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Mulai dari makanan, pakaian, pendidikan, tempat tinggal, dll yang tidak terhitung besarnya.
Apakah setelah kita dewasa, lantas kita berhak meninggalkan dan tidak mengurus kedua orangtua kita? Tidak, kita tetap harus mengurus dan taat kepada keduanya.
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (Q.S Al Israa’, 17:23)
Ditelaah dari ayat-ayat yang sudah saya sampaikan diatas, bisa diambil kesimpulan bahwa. Berbakti kepada kedua orangtua, sama halnya berbakti kepada Tuhan. Tak ayal, saya sampai menyebutkan bahwa orangtua itu merupakan manifestasi wujud Tuhan didunia ini, yang wajib kita sembah, hormati, dan diperlakukan dengan baik.
Mengambil peribahasa sunda:
Ulah nuduh kanu jauh, ulah nyawang kanu anggang. Nu caket gera raketan, nu deket gera deuheusan.
Ulah nuduh kanu jauh, ulah nyawang kanu anggang. Nu caket gera raketan, nu deket gera deuheusan.
Mencari Rahman (kasih) dan Rahim (sayang)-nya Tuhan itu tidak perlu jauh-jauh, Allah telah menunjukkan itu semua pada diri kedua orangtua kita. Tinggal kita mampu membaca ('iqra) hal-hal disekitar kita.
Untuk menutup tulisan ini, ada sebuah riwayat yang diceritakan Rasulullah SAW, mengenai 3 orang yang terjebak dalam gua, kemudian berdoa kepada Allah dengan menyebutkan amal saleh yang mereka lakukan agar Allah berkenan menolong mereka dari gua yang tertutupi batu-batu.
Salah satu orang dari mereka menyebutkan bahwa amal shalehnya ialah “aku memiliki orang tua yang telah usia lanjut, dan aku selalu mendahulukan kepentingan mereka dibandingkan keluarga dan hartaku, aku biasanya membawakan minuman (susu) bagi mereka dan tidak membiarkan siapapun meminumnya kecuali setelah mereka minum. Apabila ini merupakan merupakan amal shaleh yang mengharap ridha-Mu maka keluarkanlah kami dari gua ini."
Setelah setiap orang menceritakan amal shalehnya maka akhirnya pintu gua yang tertutupi bebatuan akhirnya terbuka dan mereka akhirnya keluar dengan selamat.
“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.” (Q.S Nuh, 71:28)
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sumber tulisan:
1. Al-Quran
2. Hadits
3.Kitab Ihya Ulumudin (Penulis: Imam Al-Ghazali)
4. http://kcabindo.blogspot.ae/2013/03/ayat-ayat-al-quran-tentang-berbakti.html?m=1
5. http://www.solusiislam.com/2013/05/anjuran-untuk-berbakti-kepada-orang-tua.html?m=0
1. Al-Quran
2. Hadits
3.Kitab Ihya Ulumudin (Penulis: Imam Al-Ghazali)
4. http://kcabindo.blogspot.ae/2013/03/ayat-ayat-al-quran-tentang-berbakti.html?m=1
5. http://www.solusiislam.com/2013/05/anjuran-untuk-berbakti-kepada-orang-tua.html?m=0
No comments:
Post a Comment