Sunday, 9 June 2013

Tak Perlu Malu

Februari 2013

Masih seperti biasa dengan kegiatanku sehari-hari berjualan karung di Pasar Banjar. Orang-orang berlalu lalang dengan atau tanpa barang belanjaan, aktivitas bongkar muat beras dan pupuk pun berjalan seperti biasanya, parkiran penuh dengan motor dan mobil dari pengunjung Pasar.
Tidak ada yang aneh, sama seperti hari-hari biasa. Namun ada satu hal yang selalu menyita perhatikanku secara seksama setiap hari diantara hiruk pikuk keramaian pasar, seorang anak perempuan yang sepertinya sebaya dengan adik perempuanku---Ghefira---yang masih duduk di kelas 4 SD.
Aku perhatikan setiap hari anak itu setiap jam 1 siang---tak peduli panas atau hujan---selalu mengayuh sepedanya ke pasar dan memarkirkannya di depan tokoku. Ada kalanya dia masih memakai seragam sekolah, ada kalanya juga dia memakai baju seperti anak-anak sebayanya. Yang membedakannya mungkin hanya pakaiannya lebih lusuh daripada kebanyakan anak seumurnya.
Anak itu sering sekali berbelanja di Toko kelontongan Mang Uyat, salah satu toko kelontongan yang terkenal murah di pasar banjar.
Aku perhatikan anak itu berbelanja kebutuhan warung, mulai dari kopi, mie instan, dsb bahkan jajanan anak-anak sebayanya. Belanjanya hanya secukupnya, tidak pernah lebih dari satu kardus mie rebus. Sepertinya orangtuanya membuka warung  kecil-kecilan, karena terlihat dari belanjaannya yang alakadarnya. Tidak seperti kebanyakan Warung-warung yang lebih komplit, yang apabila pemiliknya belanja di Pasar Banjar belanjaannya bisa satu mobil bak penuh.
Yang aku perhatikan disini bukan masalah belanjaan anak perempuan itu atau penampilannya, tetapi yang aku perhatikan adalah bagaimana anak itu mampu menghapus rasa mindernya dan tidak malu akan kegiatan yang dilakukannya. Tak risau kalau-kalau dia nanti akan diledek di sekolah kalau dia ketauan teman-teman sebayanya sering keluyuran di pasar untuk berbelanja kebutuhan warung.
Hey dude, this is 2013. Jarang banget ada anak SD yang sebaya anak perempuan itu mau dan pergi berbelanja kebutuhan warung sendiri ke pasar. Lazimnya anak umur segitu biasanya bermain-main dengan teman sebayanya selepas pulang sekolah atau mungkin di hari libur seperti yang dilakukan adik perempuanku. Tapi ini beda, dia hampir setiap hari melakukan aktivitas tsb.
Banyak sekali pertanyaan di benakku yang sebetulnya ingin aku tanyakan pada anak itu. Tapi aku tahan saja semua itu di kepalaku.

April 2013
Hari itu sekitar jam setengah 1 siang, saat itu cuaca di pasar banjar sedikit mendung. Aku lihat anak itu dari kejauhan mengayuh sepedanya seperti biasa hendak berbelanja. Kali kedua dia ke pasar untuk berbelanja, sebelumnya dia sudah belanja pada jam 11 siang selepas dia pulang sekolah. Dan seperti biasa, dia pun memarkirkan sepedanya didepan tokoku.
Aku bertanya "Belanja Neng?"
"Iyah A". Jawabnya singkat, sepertinya dia buru-buru karena awan semakin gelap.
Selang 15 menit dia sudah selesai berbelanja, kali ini dia belanja
2 dus minuman ringan. Namun baru juga dia mengikat erat belanjaannya di sepedanya, air dari awan gelap sudah mulai berjatuhan.
Ya, dia terjebak hujan. Aku tawarkan dia untuk berteduh di depan tokoku, tapi dia menolaknya sambil tangannya sibuk mengikat belanjaannya.
Aku sempatkan bertanya. "Jualan dimana Neng?"
"Di depan SMP 1 A, Mamah yang jualan". Jawabnya, tangannya masih sibuk mengikat. Sementara hujan semakin lebat.
Setelah semua selesai, dia pun berpamitan. "Permisi A, Mamah udah nungguin".
Dia mengayuh sepedanya. Menembus hujan, menyusuri jalanan basah yang menutupi peluhnya.
Perbincangan singkatku dengannya membuat pertanyaan dalam kepalaku terjawab sudah. Aku tahu sekarang, dia melakukan kegiatan berbelanja di pasar karena dituntut keadaan, karena bakti dan cinta kasihnya kepada orangtuanya. Dia merelakan waktu bermainnya untuk membantu orangtuanya, tanpa perlu malu, tanpa perlu risau dengan sekitarnya. Karena yang dia tahu, Ibunya menunggunya kembali membawa barang belanjaan untuk dijual di warung kecilnya, untuk menyambung kebutuhan hidup mereka. Dia bagaikan Malaikat Kecil yang dikirim Tuhan untuk membantu orangtuanya.
Aku pun hanya bisa terdiam dan merenung, baktiku kepada orangtuaku sepertinya masih belum cukup. Aku masih banyak menuntut banyak hal, sementara mereka selalu memenuhi kebutuhanku. Aku masih banyak mengeluh dengan kegiatan sehari-hariku, sementara orangtuaku tidak pernah mengeluh untuk menghidupiku.
Ah sudahlah... Baktiku kepada orang tua masih kalah dengan anak itu.

-----------------------------------------

ikuti saya di twitter : @pelucida

No comments:

Post a Comment