Friday, 7 June 2013

Ilmu Hidup

Sabtu, Juni 2005.

Masih jelas dalam ingatan aku, malam minggu itu seperti biasa aku tidak keluar rumah. Tak seperti ABG SMA kebanyakan yang tiap malam minggu menghabiskan waktunya diluar rumah, aku lebih memilih menghabiskan waktu di rumah menonton TV. Selain karena aku tak punya pacar, aku juga hanya punya sedikit teman.
Selepas isya' seperti biasanya Papap menyuruhku membuatkan secangkir kopi untuk menemaninya melewati malam di teras rumah. Tapi tidak seperti biasanya setelah aku membuatkan dia kopi, dia menyuruhku untuk menemaninya di teras. Obrolan serius pertama dengan Papap yang membuka pandanganku akan hidup.
"De, sini duduk temenin Papap ngobrol." Beliau menyuruhku duduk di kursi plastik di teras rumah.
"Iya, gimana Pap?". Aku bertanya sambil meletakkan pantatku diatas kursi plastik itu.
"Papap mau ngasih kamu "Ilmu".
"Ilmu apa Pap?". Aku agak kaget, soalnya jarang-jarang Papap ngomong serius.
"Ilmu gak mempan di bacok ma golok". Beliau menjelaskan.
"Maksudnya?". Aku sedikit menyela dengan nada kaget, karena setahu aku "Ilmu gak mempan dibacok ma golok" itu merupakan "ilmu" yang suka dipake orang untuk atraksi debus.
"Iya Papap mau nurunin ilmu ini buat kamu, karena kamu udah masuk usia dewasa. Kamu mau ilmu ini?" Beliau makin serius.
"Mau". Jawabku singkat.
"Ilmu ini Papap dapatkan dari Eyang kamu dulu. Ilmu ini singkat kok, kamu gak perlu puasa, atau menjalankan ritual seperti ilmu ghaib. Karena ini bukan ilmu ghaib, melainkan ilmu hidup". Beliau menerangkan.
"Terus yang ade perlu lakukan untuk mendapatkan ilmu ini apa?". Tanyaku.
"Yang kamu harus lakukan adalah kamu harus menjadi orang baik dan menyenangkan bagi semua orang. Berbuat baiklah kepada siapapun tanpa harus mengharapkan pamrih, bergaullah dengan siapapun tanpa harus memandang pekerjaan dan status sosialnya. Meskipun kamu bergaul dengan Preman atau maling, tidak jadi masalah asalkan kamu tidak terbawa menjadi maling. Yang penting ambil positifnya dari setiap pergaulan kamu dengan siapapun dan jadilah orang yang menyenangkan. Pasti kamu tidak akan mempan dibacok dengan golok, karena kalau kamu menjadi orang yang menyenangkan bagi setiap orang maka tidak akan ada orang yang membencimu dan golok pun tidak akan menghampirimu." Beliau menjelaskan dengan sangat antusias.
"Oh gitu Pap". Aku hanya mengangguk pelan meng-iya-kan perkataan Papap. Walaupun dalam hati ada sedikit ke-tidak setujuan, yaitu sulit untuk menyenangkan semua orang.
Papap pun melanjutkan pembicaraan. "Kamu mau gak Papap kasih bekal?".
"Mau". Jawabku.
"Nih Papap kasih kamu bekal "Duit Sajuta" (dlm bhs indonesia artinya uang satu juta)". Beliau melanjutkan bicaranya.
"Mana Duitnya?" Aku sedikit protes.
"Bukan duit asli de, tp Duit Sajuta tuh singkatan dari Du'a (baca : Do'a), Iman, Taqwa, Sabar, Jujur dan Tawaqal". Beliau menjelaskan.
"Oh.. Jadi gitu, kirain duit asli." Jawabku.
"Nah intinya gini, jadi kalau kamu memang punya keinginan. Mintanya jangan sama manusia, tapi mintanya sama yang diatas (Tuhan). Dia itu yang paling segala-galanya, kita mah manusia gak ada apa-apanya. Tapi kita juga kalau memang ada keinginan jangan hanya cukup meminta. Tapi usahakan juga." Beliau menceramahiku.
Aku hanya manggut-manggut, mencoba memahami dan menyelami setiap makna dari pembicaraan kami berdua. Hidup itu sederhana, tapi tidak sederhana seperti yang diucapkan oleh setiap orang.

----------------------------------

ikuti saya di twitter : @pelucida

No comments:

Post a Comment