Juli 2011
Kulihat jam tanganku menunjukkan jam 10.15, aku masih menunggu Dosen Pembimbingku datang. Aku buka twitter di Blackberry-ku, melihat timeline di twitter dan membaca beberapa twit teman-teman seangkatanku, yang isinya berupa keluhan dalam mengerjakan skripsi. Aku hanya tersenyum, mungkin itu seni mengerjakan skripsi. Aku pun juga sama, beberapa kali revisi membuatku sedikit frustasi.
Dari arah pintu selatan, seorang pria bongkok berjalan pincang memasuki ruangan ini. Dia membawa buku kecil yang berisi nama penyumbangnya. Ritualnya adalah dia mendatangi setiap orang, lalu menyodorkan buku itu sambil mengucapkan "Assalamualaikum" kepada setiap orang yang dia temui, dengan harapan akan mendapat sumbangan. Seringkali aku melihat Pria bongkok ini mondar-mandir di sekitar kampus, kadang di ruang tunggu Dosen, kadang di area kelas sampai di kantin kampus.
Sebenarnya aku sedikit muak dengannya, walapun aku menyadari keterbatasannya. Sudah 4 tahun aku hidup di lingkungan kampus Fakultas Ekonomi ini, hampir setiap hari dia menyodorkan buku catatan---yang berisi nama-nama penyumbangnya---itu, setiap bertemu denganku. Pertama kali aku melihatnya, aku merasa kasihan karena keterbatasannya, aku pikir apa salahnya membantunya. Namun ketika itu dilakukan hampir setiap hari, lama-lama aku menjadi jengah.
Ini bukan suatu pekerjaan, tetapi sebuah ke-putus-asaan. Aku tahu dia mempunyai keterbatasan, tapi keterbatasan bukanlah alasan untuk dijadikan kesempatan, mengharap belas kasihan dari setiap orang yang ditemuinya.
---------------------------------------------------
Juni 2013
Suatu ketika aku menonton tayangan Liputan 6 Award, acara penghargaan dari salah satu stasiun televisi swasta, yang menganugerahkan penghargaan kepada insan yang dianggap memberikan manfaat kepada sesamanya.
Dan aku kaget, ternyata yang mendapatkan penghargaan tertinggi dari ajang ini adalah Ibu Een Sukaesih, seorang Guru Freelance yang mempunyai keterbatasan fisik. Beliau mendapatkan sebuah penyakit yang aneh dan belum ditemukan obat untuk penyakitnya. Seluruh tubuhnya lumpuh tak mampu digerakkan sama sekali. Anggota tubuhnya yang masih bisa berfungsi hanya mulut, telinga dan matanya saja.
Keterbatasannya itu tidak menghentikan beliau untuk berbagi apa yang dimilikinya. Beliau masih mampu membagi ilmu yang dimilikinya---hasil dari menempuh pendidikan di SPG---kepada beberapa anak yang mengikuti les dirumahnya. Walaupun beliau hanya bisa tidur dan hanya mulut sebagai alat penyambung lidah untuk mentransfer ilmu kepada anak didiknya, tapi dengan kondisinya yang seperti ini, tidak membuat beliau menyerah dengan keterbatasannya. Dan yang lebih luar biasa lagi, beliau tidak memungut biaya sepeser pun terhadap anak didiknya. Murni karena ingin hidupnya bermanfaat untuk sesamanya.
Simak ucapan beliau :
"Saya ikhlas dengan penyakit saya, saya ingin berbagi dengan mereka, meskipun sebatas kemampuan saya. Saya ingin hidup saya bermanfaat untuk sesama." Kata Beliau kepada pewarta dari TV Swasta tsb.
----------------------------------------------
Melihat berita mengenai Ibu Een, aku menjadi teringat akan saudara jauhku yang berada di desa terpencil di Kabupaten Ciamis. Beliau adalah Bibi Oyoh, Beliau adalah anak dari Nini Tarsih---Bibi dari Papap---yang menderita penyakit kanker kulit. Dimana di sekujur tubuhnya terdapat benjolan dari wajah sampai kakinya. Dan penyakitnya diturunkan kepada anaknya, yaitu Bi Oyoh.
Bibi Oyoh menderita penyakit ini semenjak dia kecil, tetapi lain dari Ibunya yang menderita benjolan di sekujur tubuhnya. Bi Oyoh hanya mendapatkan satu benjolan di pipinya. Tetapi benjolan itu semakin lama semakin membesar sampai dia menginjak dewasa. Dan itu mempengaruhi kepercayaan dirinya dalam hal penampilan.
Tetapi keterbatasannya itu tidak dia jadikan alasan untuk berdiam diri saja, pasrah dan malu dengan keadaannya. Namun Beliau berusaha untuk bermanfaat kepada warga dilingkungannya. Caranya, dia menjadi Guru Mengaji bagi lingkungan di sebuah surau dekat rumahnya.
Aku mengaguminya, walaupun dia mempunyai keterbatasan. Tetapi tidak membuat dia menyerah dengan keadaan untuk memberikan manfaat untuk sesamanya. Terkadang aku dibuat malu olehnya, karena aku belum bisa memberikan apa-apa untuk lingkunganku sendiri.
---------------------------------------------------
Melalui catatan ini aku ingin membagi dan berbagi sebuah kisah. Tentang sebuah perjuangan melawan keterbatasan, tentang sebuah tujuan, yaitu kematian.
Hidup untuk pasrah dalam kesengsaraan, atau mati meninggalkan warisan. Tentunya warisan yang bermanfaat.
Tanpa kita sadari, kita pun pernah mengalami keterbatasan dalam kehidupan. Walaupun bukan dalam bentuk fisik seperti mereka. Entah berapa kali kita putus asa, tetapi ketika kita melangkah dan berusaha. Akhirnya kita mampu melewati batasan kemampuan kita.
Seringkali kita menemui keterbatasan dalam kehidupan, tapi sesungguhnya kita sendiri yang memberi batasan dalam hidup. Ketika kita hidup dalam keterbatasan, sesungguhnya Tuhan sedang menguji kita. Apakah akan tetap bertahan atau menyerah pada keadaan.
Tapi yang jelas, ketika kita menyerahkan diri kepada keadaan dan kita mencoba meminta selain kepada Tuhan. Terlebih kita meminta-minta kepada manusia, itu artinya kita sama saja dengan mempersekutukan Tuhan.
Aku teringat kembali dengan kata-kata SMS yang dituliskan Dosen Pembimbingku, ketika aku hendak menghadapi Sidang. Isinya sangat menghentak alam bawah sadarku.
"Maksimalkan usaha, sempurnakan dengan do'a"
Kemudian aku sadari, kemampuan manusia hanya sekedar berusaha semaksimal mungkin. Dan sisanya, kita hanya perlu meminta dan memasrahkan diri kepada Tuhan untuk segala kepasrahan dan usaha kita sebagai Manusia.
-------------------------------------------------
Ikuti saya di twitter : @pelucida
No comments:
Post a Comment