(FRIEDRICH NIETZSCHE)
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Banjar, 16 Desember 2013
Udah
lama ya saya gak nulis di blog ini, sekitar 3-4 bulan lamanya blog ini tidak di
update oleh saya. Dikarenakan aktivitas saya yang cukup padat beberapa
bulan ini, sebenarnya bahan tulisan untuk blog ini cukup banyak. Akan tetapi
mencari waktu untuk menuliskannya yang susah dijumpai. Pagi sampai sore saya menunggu toko di Pasar
Banjar, pulangnya otomatis saya kurang bertenaga karena waktu dan tenaga saya
banyak tersita di toko. Akhirnya setelah saya sampai dirumah, saya lebih
memilih beristirahat dibandingkan dengan melakukan kegiatan lain.
Oke balik lagi ke
bahasan tulisan saya kali ini, yaitu mengenai waktu. Ya waktu, apa sih yang
disebut waktu? Waktu menurut kamus bahasa indonesia adalah seluruh rangkaian
saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung;.
Pernahkah kita
hitung waktu kita dimulai ketika anda lahir sampai detik ini? Saya yakin
jawabannya: “tidak”. Karena saya
sendiri dan pada umumnya orang-orang jarang sekali menghitung waktu hidupnya,
menganggapnya sepele atau bahkan tidak penting sama sekali. Tapi tahukah kita, berapa banyak orang yang
telah menyesali waktu hidupnya yang telah terlewati sekian tahun, bulan, menit
atau detik lamanya, jawabannya: “banyak”. Jumlahnya? Satuan, puluhan,
ratusan, jutaan, miliaran, atau
triliunan? Jawabannya: “tak terhingga” banyaknya orang-orang yang
menyesali waktu yang telah dilaluinya.
Oke, saya mungkin
sering menganggap sepele terhadap waktu. Tapi saya baru menyadari betapa
berharganya waktu, adalah ketika saya membaca sebuah koran Olahraga yang
membahas mengenai betapa tipisnya sebuah kemenangan seorang Atlet lari
di sebuah perlombaan, hanya karena selisih 0.5 detik dari pesaingnya.
Saya baru menyadari ketika atlet-atlet itu
berkompetisi, sebetulnya yang sedang mereka hadapi adalah bukan soal
kompetitor-kompetitor yang berada dihadapannya, melainkan dengan kompetitor
yang tidak terlihat; yaitu waktu.
Saya beri contoh,
seorang Pelari yang bertanding di Olimpiade. Katakanlah Usain Bolt (Pelari asal
Jamaika), ketika dia berkompetisi, yang pertama kali dia lakukan adalah
memperhatikan kapan timing/waktu-nya Juri menari pelatuk pistolnya untuk
memulai perlombaan. Ketika suara pistol terdengar, maka Usain Bolt akan berlari
sekencang-kencangnya menuju garis Finish lebih dahulu daripada para
pesaingnya dari berbagai negara, ---dalam situasi ini dapat saya pastikan si
Usain Bolt tidak punya waktu sama sekali untuk melihat kompetitornya---. Dan
kemudian sesampainya dia di garis Finish, apa yang dilihatnya terlebih
dahulu adalah catatan waktunya, bukan ke arah pesaingnya. Tepat ketika dia
melihat catatan waktunya berada tepat di depan pesaingnya walaupun hanya
berbeda sepersekian detik, maka rona bahagia yang akan terlihat di wajahnya.
Dan tanpa perlu diberitahu pun anda tahu sendiri rona wajah pesaingnya yang
menunjukkan wajah kekecewaan, ketika dia mengetahui catatan waktunya hanya
berbeda tipis dengan Usain Bolt.
Dari ilustrasi diatas, dapat saya simpulkan.
Waktu itu sangat-sangat berharga walaupun bedanya hanya sepersekian detik, tapi
itu adalah saat-saat yang sebenarnya menentukan untuk masa depan kita, akan
berhasil atau gagal. Kita perhatikan, atlet tadi dimulai dari awal
sampai akhir perlombaan benar-benar sangat memperhatikan waktu yang
dilewatinya. Mulai dari garis start---dia memperhatikan timing juri
menarik pelatuk pistol sebagai tanda dimulainya perlombaan---, kemudian ketika
dia berlomba; yang dilihatnya adalah hanya garis finish dan berlari
sekencang-kencangnya untuk membuat catatan waktu yang lebih cepat daripada
pesaingnya. Terakhir, ketika dia telah sampai di garis, Finish yang
dilakukan Atlet itu adalah memperhatikan catatan waktunya, bukan menoleh
ke arah pesaingnya. Dan ketika dia berhasil mengalahkan catatan waktu orang
lain, atau bahkan memecahkan rekor dari Atlet sebelumnya maka yang dia
tunjukkan adalah catatan waktunya, bukan pialanya. Bukti kalau pesaing
sesungguhnya dari hidup seorang Atlet lari itu adalah waktu yang tidak
terlihat sama sekali, bukan pesaingnya yang bisa dia lihat secara kasat mata.
Dan yang lebih
membuat saya makin meyakini bahwa waktu itu semakin berharga adalah ketika
mengetahui, berapa lamanya waktu latihan yang dihabiskan si Atlet lari ini
hanya untuk perlombaan yang diadakan satu hari itu dan bahkan perlombaannya pun
hanya menghabiskan kurang lebih waktu 3 menit. Tapi waktu yang dihabiskan si
atlet untuk menorehkan kemenangan ini, lebih dari sekedar waktu yang ditempuh
hanya untuk perlombaan yang hanya sebentar itu. Betapa persiapan untuk
perlombaan menentukan kemenangan si atlet itu di hari pertandingan.
Tanpa saya sadari
sebenarnya yang saya---atau bahkan orang di dunia---hadapi kebanyakan adalah
waktu. Berapa banyak waktu yang saya habiskan dalam hidup saya, baik untuk
hal-hal positif maupun hal-hal negatif. Waktu mungkin sering saya anggap
sepele, tapi saya---atau bahkan anda (baca:pembaca)---jarang menyadari kalau
waktu itu sungguh-sungguh berharga. Dan saya sering terlupa, bahwa waktu yang
terlewati tak-kan pernah bisa kembali.
Mungkin dahulu saya
sering menganggap sepele waktu yang ada, tak jarang waktu saya pakai untuk
berhura-hura, santai-santai, dan saya habiskan dengan hal-hal yang tidak
berguna. Lalu sampailah pada kesimpulan saya bertanya pada diri sendiri: “Mau
sampai kapan? Sementara usia saya semakin tua, bukan semakin muda. Waktu saya
semakin berkurang, bukan bertambah. Saya mungkin sering mendengar ungkapan;
“kita bisa membeli Jam dinding atau Jam tangan berapa-pun harganya, tapi kita
tidak bisa membeli waktu”. Tetapi hanya sebuah
slogan tanpa sebuah tindakan.
Saya tidak pernah
tahu, berapa lama lagi saya hidup di dunia ini. Saya tidak pernah tahu waktu saya
tersisa berapa tahun, bulan, minggu, hari, jam lagi. Tapi saya sekarang tahu,
betapa berharganya waktu saya yang tersisa ini.
Sebelum saya
mengakhiri tulisan singkat ini, saya teringat akan beberapa kejadian yang
pernah saya alami, pada pengalaman saya yang pernah menyia-nyiakan waktu, tapi
waktu juga yang menyelamatkan saya. Ini pengalaman saya ketika saya masih
menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Tengah. Dari
semester satu sampai semester empat, saya menghabiskan waktu saya dengan kegiatan-kegiatan
yang banyak nilai negatifnya. Walhasil IPK saya hancur-hancuran, paling pol
hanya sampai nilai 2.50. Tapi dengan waktu saya yang tersisa, saya maksimalkan
usaha, peluang dan waktu yang tersisa.
Dan sampai pada akhirnya saya bisa menyelesaikan studi tepat 4 tahun 0 bulan.
Waktu... Yaa...
Waktu.. saya merampungkan tulisan ini juga disela-sela kesibukan saya menata
masa depan, sama seperti Atlet lari yang saya ilustrasikan diatas. Saya
juga sedang menempuh diri dengan berusaha menjadi lebih baik dan lebih baik
lagi, sampai saya tidak mempunyai waktu untuk sekedar bersantai-santai di tiap
harinya, hampir setahun ini saya full work. Sama sekali tidak ada
liburan.
Tapi satu hal
yang saya yakini dari setiap hari dan waktu yang saya lalui, setiap tetes
keringat yang saya keluarkan juga toh untuk masa depan saya sendiri, dan
mudah-mudahan untuk masa depan orang lain juga. Sama seperti Atlet lari itu,
dia juga menghabiskan waktunya untuk latihan terlebih dahulu sebelum dia
memenangkan perlombaan. Dan saya juga sekarang mencoba untuk meniru Atlet lari
tersebut dengan mengorbankan waktu yang saya miliki sekarang dengan bekerja
keras dari sekarang, senang-senangnya belakangan. J
Satu hal yang
pasti;
Sejauh
mana kita tersesat, selama masih ada waktu, selalu ada kesempatan untuk mencari
jalan keluar. Dan ketika kita sudah kehabisan waktu, maka disana kesempatan
kita sudah berakhir.

No comments:
Post a Comment