Tuesday, 17 December 2013

Waktu yang Tak Ternilai

Dia yang tahu mengapa dia hidup, akan bisa menghadapi bagaimana menjalaninya.
(FRIEDRICH NIETZSCHE)
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Banjar, 16 Desember 2013
            Udah lama ya saya gak nulis di blog ini, sekitar 3-4 bulan lamanya blog ini tidak di update oleh saya. Dikarenakan aktivitas saya yang cukup padat beberapa bulan ini, sebenarnya bahan tulisan untuk blog ini cukup banyak. Akan tetapi mencari waktu untuk menuliskannya yang susah dijumpai.  Pagi sampai sore saya menunggu toko di Pasar Banjar, pulangnya otomatis saya kurang bertenaga karena waktu dan tenaga saya banyak tersita di toko. Akhirnya setelah saya sampai dirumah, saya lebih memilih beristirahat dibandingkan dengan melakukan kegiatan lain.
Oke balik lagi ke bahasan tulisan saya kali ini, yaitu mengenai waktu. Ya waktu, apa sih yang disebut waktu? Waktu menurut kamus bahasa indonesia adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung;.
Pernahkah kita hitung waktu kita dimulai ketika anda lahir sampai detik ini? Saya yakin jawabannya: “tidak”.  Karena saya sendiri dan pada umumnya orang-orang jarang sekali menghitung waktu hidupnya, menganggapnya sepele atau bahkan tidak penting sama sekali.  Tapi tahukah kita, berapa banyak orang yang telah menyesali waktu hidupnya yang telah terlewati sekian tahun, bulan, menit atau detik lamanya, jawabannya: “banyak”. Jumlahnya? Satuan, puluhan, ratusan, jutaan,  miliaran, atau triliunan? Jawabannya: “tak terhingga” banyaknya orang-orang yang menyesali waktu yang telah dilaluinya.
Oke, saya mungkin sering menganggap sepele terhadap waktu. Tapi saya baru menyadari betapa berharganya waktu, adalah ketika saya membaca sebuah koran Olahraga yang membahas mengenai betapa tipisnya sebuah kemenangan seorang Atlet lari di sebuah perlombaan, hanya karena selisih 0.5 detik dari pesaingnya.
 Saya baru menyadari ketika atlet-atlet itu berkompetisi, sebetulnya yang sedang mereka hadapi adalah bukan soal kompetitor-kompetitor yang berada dihadapannya, melainkan dengan kompetitor yang tidak terlihat; yaitu waktu.
Saya beri contoh, seorang Pelari yang bertanding di Olimpiade. Katakanlah Usain Bolt (Pelari asal Jamaika), ketika dia berkompetisi, yang pertama kali dia lakukan adalah memperhatikan kapan timing/waktu-nya Juri menari pelatuk pistolnya untuk memulai perlombaan. Ketika suara pistol terdengar, maka Usain Bolt akan berlari sekencang-kencangnya menuju garis Finish lebih dahulu daripada para pesaingnya dari berbagai negara, ---dalam situasi ini dapat saya pastikan si Usain Bolt tidak punya waktu sama sekali untuk melihat kompetitornya---. Dan kemudian sesampainya dia di garis Finish, apa yang dilihatnya terlebih dahulu adalah catatan waktunya, bukan ke arah pesaingnya. Tepat ketika dia melihat catatan waktunya berada tepat di depan pesaingnya walaupun hanya berbeda sepersekian detik, maka rona bahagia yang akan terlihat di wajahnya. Dan tanpa perlu diberitahu pun anda tahu sendiri rona wajah pesaingnya yang menunjukkan wajah kekecewaan, ketika dia mengetahui catatan waktunya hanya berbeda tipis dengan Usain Bolt.
 Dari ilustrasi diatas, dapat saya simpulkan. Waktu itu sangat-sangat berharga walaupun bedanya hanya sepersekian detik, tapi itu adalah saat-saat yang sebenarnya menentukan untuk masa depan kita, akan berhasil atau gagal. Kita perhatikan, atlet tadi dimulai dari awal sampai akhir perlombaan benar-benar sangat memperhatikan waktu yang dilewatinya. Mulai dari garis start---dia memperhatikan timing juri menarik pelatuk pistol sebagai tanda dimulainya perlombaan---, kemudian ketika dia berlomba; yang dilihatnya adalah hanya garis finish dan berlari sekencang-kencangnya untuk membuat catatan waktu yang lebih cepat daripada pesaingnya. Terakhir, ketika dia telah sampai di garis, Finish yang dilakukan Atlet itu adalah memperhatikan catatan waktunya, bukan menoleh ke arah pesaingnya. Dan ketika dia berhasil mengalahkan catatan waktu orang lain, atau bahkan memecahkan rekor dari Atlet sebelumnya maka yang dia tunjukkan adalah catatan waktunya, bukan pialanya. Bukti kalau pesaing sesungguhnya dari hidup seorang Atlet lari itu adalah waktu yang tidak terlihat sama sekali, bukan pesaingnya yang bisa dia lihat secara kasat mata.
Dan yang lebih membuat saya makin meyakini bahwa waktu itu semakin berharga adalah ketika mengetahui, berapa lamanya waktu latihan yang dihabiskan si Atlet lari ini hanya untuk perlombaan yang diadakan satu hari itu dan bahkan perlombaannya pun hanya menghabiskan kurang lebih waktu 3 menit. Tapi waktu yang dihabiskan si atlet untuk menorehkan kemenangan ini, lebih dari sekedar waktu yang ditempuh hanya untuk perlombaan yang hanya sebentar itu. Betapa persiapan untuk perlombaan menentukan kemenangan si atlet itu di hari pertandingan.
Tanpa saya sadari sebenarnya yang saya---atau bahkan orang di dunia---hadapi kebanyakan adalah waktu. Berapa banyak waktu yang saya habiskan dalam hidup saya, baik untuk hal-hal positif maupun hal-hal negatif. Waktu mungkin sering saya anggap sepele, tapi saya---atau bahkan anda (baca:pembaca)---jarang menyadari kalau waktu itu sungguh-sungguh berharga. Dan saya sering terlupa, bahwa waktu yang terlewati tak-kan pernah bisa kembali.
Mungkin dahulu saya sering menganggap sepele waktu yang ada, tak jarang waktu saya pakai untuk berhura-hura, santai-santai, dan saya habiskan dengan hal-hal yang tidak berguna. Lalu sampailah pada kesimpulan saya bertanya pada diri sendiri: “Mau sampai kapan? Sementara usia saya semakin tua, bukan semakin muda. Waktu saya semakin berkurang, bukan bertambah. Saya mungkin sering mendengar ungkapan; “kita bisa membeli Jam dinding atau Jam tangan berapa-pun harganya, tapi kita tidak bisa membeli waktu”.  Tetapi hanya sebuah slogan tanpa sebuah tindakan.
Saya tidak pernah tahu, berapa lama lagi saya hidup di dunia ini. Saya tidak pernah tahu waktu saya tersisa berapa tahun, bulan, minggu, hari, jam lagi. Tapi saya sekarang tahu, betapa berharganya waktu saya yang tersisa ini.
Sebelum saya mengakhiri tulisan singkat ini, saya teringat akan beberapa kejadian yang pernah saya alami, pada pengalaman saya yang pernah menyia-nyiakan waktu, tapi waktu juga yang menyelamatkan saya. Ini pengalaman saya ketika saya masih menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Tengah. Dari semester satu sampai semester empat, saya menghabiskan waktu saya dengan kegiatan-kegiatan yang banyak nilai negatifnya. Walhasil IPK saya hancur-hancuran, paling pol hanya sampai nilai 2.50. Tapi dengan waktu saya yang tersisa, saya maksimalkan usaha, peluang  dan waktu yang tersisa. Dan sampai pada akhirnya saya bisa menyelesaikan studi tepat 4 tahun 0 bulan.
Waktu... Yaa... Waktu.. saya merampungkan tulisan ini juga disela-sela kesibukan saya menata masa depan, sama seperti Atlet lari yang saya ilustrasikan diatas. Saya juga sedang menempuh diri dengan berusaha menjadi lebih baik dan lebih baik lagi, sampai saya tidak mempunyai waktu untuk sekedar bersantai-santai di tiap harinya, hampir setahun ini saya full work. Sama sekali tidak ada liburan.
Tapi satu hal yang saya yakini dari setiap hari dan waktu yang saya lalui, setiap tetes keringat yang saya keluarkan juga toh untuk masa depan saya sendiri, dan mudah-mudahan untuk masa depan orang lain juga. Sama seperti Atlet lari itu, dia juga menghabiskan waktunya untuk latihan terlebih dahulu sebelum dia memenangkan perlombaan. Dan saya juga sekarang mencoba untuk meniru Atlet lari tersebut dengan mengorbankan waktu yang saya miliki sekarang dengan bekerja keras dari sekarang, senang-senangnya belakangan. J
Satu hal yang pasti;
Sejauh mana kita tersesat, selama masih ada waktu, selalu ada kesempatan untuk mencari jalan keluar. Dan ketika kita sudah kehabisan waktu, maka disana kesempatan kita sudah berakhir.
So, mari kita pergunakan waktu kita sebaik mungkin.

Usain Bolt dengan Catatan Waktunya

No comments:

Post a Comment