Kehidupan berasal dari kata “hidup” yang artinya
dalam kamus bahasa Indonesia adalah masih ada, terus bergerak dan bekerja
sebagaimana mestinya (tt manusia, binatang, tumbuhan, dsb). Sementara arti
“kehidupan”---masih menurut kamus bahasa Indonesia---artinya cara hidup.
Pada kali ini, saya ingin membahas mengenai arti
sebuah kehidupan dilihat dari cara pandang saya memaknai kehidupan itu sendiri.
Dan juga karena saya merasa terilhami oleh beberapa orang yang saya perhatikan karena
saya merasa tertarik dengan cara hidup mereka, dalam memaknai serta memanfaatkan kehidupannya---terutama
masyarakat kecil atau yang biasa di panggil wong
cilik---, apalagi untuk saya yang kesehariannya
berinteraksi sosial dengan berbagai macam
karakter manusia di pasar tradisional.
Beragam profesi serta pekerjaan menjadi bagian
dari keseharian kita sebagai insan ciptaan-NYA. Mulai dari pejabat sampai
rakyat, kaya-miskin, muda-tua setiap individu mempunyai cara tersendiri untuk
menghabiskan waktu hidupnya, tinggal bagaimana kita memanfaatkan kehidupan kita
yang telah diberikan oleh Tuhan. Apakah untuk hal-hal yang bermanfaat atau
untuk hal-hal yang bersifat mudharat (tidak bermanfaat / sia-sia).
Definisi kehidupan untuk setiap individu
berbeda-beda---antara saya dan anda pembaca pun pasti berbeda mendefinisikannya---,
untuk saya sendiri kehidupan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Maksud
“diperjuangkan” disini adalah hidup itu bukan hanya sekedar hidup, harus ada
tujuan dari hidup kita untuk lebih dari sekedar hidup. Bukan hanya melulu soal mengisi
urusan perut sendiri---dalam kata lain kita egois, hidup hanya untuk diri kita
sendiri---, tapi juga harus bisa mengisi urusan perut orang lain---maksudnya,
hidup saya juga harus bisa bermanfaat untuk orang lain---. Dari pemikiran sederhana tsb saya mencoba menjadi penulis dan mencoba menulis
beberapa catatan yang maksudnya adalah saya ingin perjalanan hidup saya menjadi
inspirasi bagi pembaca itu sendiri, bisa menjadi bahan referensi sekaligus
koreksi atau bahkan motivasi bagi saya
sendiri---khususnya---, maupun bagi pembaca---umumnya---dalam menjalani
kehidupan.
Setelah saya kembali ke kampung halaman saya,
setelah empat tahun lamanya saya merantau di kota lain untuk menuntut ilmu
secara formal maupun informal (silahkan
baca catatan saya yang berjudul “All About us” dan “Kehidupan setelah Kuliah”,
apabila pembaca ingin mengetahui ilmu mengenai kehidupan yang saya dapat selama
merantau), akhirmya saya kembali ke kampung halaman dengan menyandang gelar di
belakang nama saya. Sungguh bagi saya itu merupakan suatu kebahagiaan---karena selama empat tahun saya berjuang menyelesaikan pendidikan yang dipenuhi
pasang surut nilai akademik---serta tanggung jawab yang begitu besar, karena ketika saya resmi menyandang gelar itu
saya dititipi pesan oleh pengajar saya yaitu : “Tolong dijaga nama baik
almamater ini, dan semoga ilmu yang kamu dapat selama masa perkuliahan dapat
bermanfaat bukan untuk anda sendiri, tetapi bermanfaat pula bagi masyarakat.
Jadilah insan yang berguna. Selamat anda sudah resmi menyandang gelar Sarjana
Ekonomi”.
Setelah saya lulus saya sebetulnya bingung sendiri bagaimana saya
bisa mengaktualisasikan diri serta dapat meraih eksistensi diri di tengah
masyarakat---karena selama menjalani masa perkuliahan saya sempat mengikuti
beberapa organisasi kemahasiswaan---setelah saya lulus praktis saya tidak
mempunyai wadah untuk beraktualisasi diri. Namun setelah setahun saya menjalani
kehidupan bermasyarakat, akhirnya saya mendapatkan ruang untuk mengekspresikan
mengenai gagasan saya yaitu melalui blog ini, dan memang sebetulnya banyak
sekali ruang untuk mengaktualisasikan diri di masyarakat---diantaranya melalui
partai politik atau Lembaga Sosial Masyarakat---, tetapi entah kenapa hati saya
tidak terlalu tertarik untuk mengikuti organisasi kemasyarakatan itu karena
saya merasa politik itu kotor. Saya justru lebih suka berkecimpung di
lingkungan Rukun Tetangga dekat rumah saya, itu juga karena saya kenal dekat
dengan Ketua RT di lingkungan saya, jadi saya sering diajak berpartisipasi
bahkan terkadang menyumbangkan pemikiran demi kemajuan lingkungan tsb.
Kembali ke topik tulisan saya mengenai “kehidupan”, pada tulisan kali ini
saya ingin membahas mengenai beberapa orang yang saya rasa cukup unik
karakternya dalam menjalani kehidupan untuk dituangkan dalam tulisan saya kali
ini. Mereka bukan pejabat dengan jabatan yang disegani serta dihormati, bukan
artis yang dengan maha karya seninya, bukan pula orang kaya dengan segala
kemewahannya, (mohon maaf) dengan segala yang mereka punyai mereka pantas
mendapatkan seluruh perhatian atau atensi dari semua orang. Disini, melalui tulisan ini, saya ingin
mencoba mengangkat kehidupan mereka yang jauh dari sisi popularitas, jauh dari
ingar bingar kehidupan mewah, dan jauh dari perhatian masyarakat. Mereka ini
bukanlah pahlawan kemerdekaan, bukan pula pahlawan reformasi, atau pahlawan
revolusi yang mengubah negeri ini, tetapi mereka adalah pahlawan bagi
keluarganya, bagi lingkungannya serta bagi saya. Mereka tak pernah mengenyam
pendidikan tinggi, tetapi berbudi pekerti tinggi bahkan jauh lebih tinggi dari
orang-orang yang berpendidikan tinggi---bahkan saya terkadang malu sendiri oleh
mereka---. Mereka ini adalah rakyat jelata yang mencoba untuk diakui
keberadaannya (baca : existensi), di akui hak-hak hidupnya dan ingin
disamakan derajatnya dan mendapatkan perhatian sama seperti yang lain yang
punya pekerjaan dan pendapatan layak.
Mereka mempunyai profesi
yang mungkin untuk ukuran manusia modern---yang sibuk dengan pekerjaan yang
memerlukan teknologi---itu merupakan sebuah profesi yang dikategorikan rendah,
hina dan di cap kurang pantas disejajarkan dengan mereka yang merasa derajatnya
lebih tinggi karena orang-orang itu merasa mempunyai pendidikan tinggi, jabatan
atau kekayaan yang sehingga oleh karenanya mereka lupa akan perlunya saling
menghargai antar sesama manusia. Padahal dalam kehidupan nyata, sering kita jumpai
orang-orang yang merasa lebih tinggi derajatnya itu membutuhkan bantuan dari
orang-orang yang mereka anggap rendah itu.
Kita---terutama
saya---sudah bosan dengan kisah-kisah
sukses orang yang sukses secara finansial, padahal kekayaan bukan sebuah
tolak ukur kesuksesan. Success is Simple = Sukses itu sederhana, seperti
contoh ketika kita mampu menyelesaikan pekerjaan kita, itu merupakan kesuksesan.
Ketika kita On Time dalam menghadiri pertemuan, itu juga merupakan
kesuksesan. Dan kalau menurut saya sukses itu adalah ketika kita mampu memberi
atau berkontribusi terhadap sesamanya, lingkungannya, bahkan negaranya. Kontribusi
kita tidak melulu mengenai memberi secara finansial, tapi juga bisa melalui
tenaga atau pemikiran. Dan ukuran kesuksesan seseorang itu ditentukan oleh dirinya
sendiri, bukan orang lain. Sayang sekali paradigma bangsa ini telah salah
kaprah mengartikan kesuksesan itu adalah sebuah kekayaan.
Orang-orang yang saya tulis disini juga merupakan orang-orang
sukses, yang mampu berkontribusi kepada lingkungannya bahkan untuk negaranya.
Tapi entah kenapa mereka kurang dihargai, kurang diperhatikan. Maka dari itu
saya akan sedikit mengangkat kisah orang-orang ini, agar kita mampu menghargai
dan memperhatikan mereka. Jangan dilihat dari besar-kecilnya pekerjaan mereka,
setidaknya mereka lebih menikmati dan berbahagia dengan pekerjaan mereka.
Saya kira cukup untuk prolognya, ada
baiknya kita mengenal mereka melalui tulisan saya ini. Selamat menikmati!!
Tukang
Sol Sepatu
Waktu menunjukkan
jam setengah 12 siang, hari itu matahari membakar Kota ini. Jalanan aspal pun
dari kejauhan terlihat seperti wajan sedang memanaskan minyak, panasnya membuat
kulit seperti terbakar, keringat bercucuran dari pori-pori kulit. Pasar Banjar
sepi pembeli, hanya terlihat beberapa orang lalu-lalang itu pun sebagian besar
pedagang bukan pembeli.
![]() |
| Abah sedang memperbaiki sandal |
Dari arah timur
terlihat seorang berperawakan kurus tinggi, dengan kulit hitam yang sudah mulai
keriput menanggung sebuah kotak kayu kecil---yang berisi peralatannya---sambil
menyusuri jalanan. Topi bundar---khas tukang---menutupi kepalanya untuk
mengurangi sengatan panas, handuk di pundaknya sesekali dia pakai untuk
mengelap peluhnya. Ya begitulah
pekerjaannya, menyusuri jalan, setapak demi setapak, berharap orang membutuhkan
bantuannya dan dengan lantang memanggilnya “Tukang Sol Sepatu”.
Kebetulan hari itu saya mempunyai sebuah
pekerjaan untuknya, sandal kakak saya sobek di bagian pinggirnya. Saya panggil
dia, tak lama berselang dia menghampiri saya dan bertanya : “Aya nu tiasa
dibantos jang?”. (“Ada yang bisa dibantu cep?”)
“Aya,
ieu sendal soek disisi na, punten pang-ngesolkeun mang”. (“Ada, ini sandal
sobek di bagian sisinya, tolong di sol”). Saya menjawab sambil menyodorkan
sandal butut.
“Mangga”. Jawabnya sambil tangannya langsung
mengeluarkan alat-alat dari kotak kayu yang sepanjang jalan di tanggung di
pundaknya. Keluarlah Jojodog (kursi kayu kecil) untuk dia duduk, benang
sol, lem korea, dan jarum.
Bagian pertama dia membuat jalur jahitannya di
sandal, kemudian dia mulai mengelem sandal yang sobek agar merekat kembali.
Setelah itu barulah dia memulai pekerjaannya mengesol sandal butut yang saya
berikan tadi. Sambil dia bekerja, saya memperhatikan bagaimana dia bekerja,
menemaninya mengobrol dan bertanya mengenai apa saja alatnya, kegunaannya dan lain
sebagainya. Hingga saya pun akhirnya bertanya mengenai sejak kapan dia mulai
menggeluti usaha ini.
“Tos
aya 30 tahun langkung jang, Abah mah jadi tukang sol teh, ti tahun 80an we Abah
ngawitan usaha ieu teh. Seer padamelan nu tos dicobian ku Abah mah, ti kawit
nga-becak, janten kuli bangunan, icalan es, ngan nu minangka mindeng dipidameul
mah nya ngesol sapatu we”. (“Sudah ada 30 tahun lebih Abah jadi tukang sol,
sejak tahun 80an Abah memulai usaha ini. Banyak pekerjaan udah pernah dicoba
oleh Abah, mulai narik becak, jadi kuli bangunan, jualan es, cuma yang agak
sering dikerjakan ya ngesol sepatu”). Jawab si Abah bercerita.
“Ai
Abah linggih dimana?”. (“Abah tinggal dimana?”). Saya bertanya mengenai tempat
tinggalnya.
“Abah
mah ti Pamarican jang”. (“Abah dari Pamarican---desa yang jaraknya sekitar 15
KM dari Kota Banjar---“). Jawabnya
sambil tangannya tetap cekatan menjait sandal.
“Gening
tebih, Abah mapah kadieu? Ai paling tebih ngider dugi kamana?”. (Jauh amat,
Abah jalan kaki kesini? Paling jauh muter sampai mana?”)
“Muhun
jang, mapah. Paling jauh sampai Cisaga”.
(“Iya jang, jalan kaki. Paling jauh sampai cisaga---desa yang jaraknya 10 Km
dari Kota Banjar”).
Saya pun mengajukan pertanyaan berikut :
“Teu
cape kitu bah ngider dugi ka Banjar, komo dugi ka Cisaga?”. (Gak cape bah jalan
sampai Banjar, apalagi sampai Cisaga?”).
Saya tidak dapat membayangkan capeknya berjalan 25 Km, dan kalau pulang
pergi total jarak yang ditempuh Abah adalah 50 Km.
“Disebut
cape mah sadaya ge cape jang milari rejeki mah, tapi da kumaha deui. Jalan
rejeki Abah mah kedah kieu, apan ai cara ngajemput rejeki teh aya dua. Nu
kahiji diteang siga Abah, kudu neangan nu butuh jasa Abah, tah nu kadua mah
siga Ujang. Teu kudu neangan nu meuli, cukup cicing di toko nu balanja ge nyalamperkeun
ieuh nu meuli na”. (“Disebut cape ya cape semuanya juga mencari rejeki, tapi
mau bagaimana lagi. Jalan rejeki Abah begini, kan cara menjemput rejeki tuh ada
dua. Yang pertama harus nyari pembeli seperti Abah, yang kedua seperti Ujang
yang tidak usah mencari pembeli, cukup diam di toko, pembeli pun datang
sendiri”). Kuliah logika sederhana dan disisipi ilmu agama dari seorang Tukang
Sol, yang bahkan selama saya kuliah pun saya belum pernah diberikan materi
kuliah seperti itu dari Dosen.
“Enya oge sih bah, leres pisan ai ngemut
kadinya mah. Ai liren kangge istirahat sok dimana atuh bah?”. (“Iya juga sih
bah, benar sekali kalau kita berpikir ke arah sana. Kalau berhenti untuk
istirahat, suka dimana bah?”). Saya semakin tertarik mengobrol dengannya.
“Istirahat
mah sakasamperna we kasep, mung pami istirahat mah biasana Abah sok milari masjid nu caket meh tiasa bari
sakalian sholat. Bade ngarokok jang?”. (“Istirahat ya seinginnya aja, Cuma
kalau istirahat biasanya Abah suka mencari masjid yang dekat supaya bisa
sekalian sholat”). Kali ini dia menjawab sambil mengeluarkan Rokok Djarum
Cokelat dari kantong di samping bajunya dan kemudian menawari saya sebatang
rokok.
“Moal
Bah cekap, rokok mah aya”. (“Gak Bah cukup, saya punya rokok kok”). Jawab saya
sambil ikut-ikutan si Abah membakar rokok. Kemudian saya bertanya kembali. “Ai
sadinteun sok kenging pasien sabaraha hiji bah?”. (“Kalau dalam sehari suka
dapat berapa pasien?”).
Sambil mengisap asap rokok sembari tangannya
mengesol dia menjawab, “Nya kadang 3, kadang 2, mun keur alus poe na mah 5 nepi
8 urang ge menang. Nya ngaranna ge rejeki mah saha nu apal jang, nu ku Abah
apal mah rejeki mah kudu diteang”. (“Ya kadang 3, kadang 2, kalau lagi bagus
hari nya ya 5 sampai 8 orang juga dapat. Yang namanya rejeki siapa yang tahu,
setau Abah yang namanya rejeki ya harus dicari”). Kembali dia mengkuliahi saya
dengan materi serupa. Saya pun menggelengkan kepala sambil berpikir :
“Pemikiran orang ini lebih hebat dari seorang Sarjana yang hobinya hanya
menunggu panggilan kerja. Harusnya dia jadi motivator nih”. Otak saya
mengkhayal terlalu jauh.
Setelah dia berbicara seperti itu, pekerjaannya
selesai. “Yeuh jang, sendalna tos beres. Insya Alloh ayena mah moal soek deui”.
(“Nih, sandalnya sudah beres. Insya Alloh sekarang tidak akan sobek lagi”).
Sambil tangannya memberikan sandal yang telah diperbaiki ke arah saya.
“Sabarahaeun
sadayana?”. (“Berapa semuanya?”). Saya bertanya berapa harganya.
“7
rebu sadayana mah”. (“7 ribu semuanya”). Dia menjawab sambil membereskan alat-alatnya
ke dalam kotak kayu.
“Yeuh
rejeki Abah”. (“ini rejeki Abah”). Sambil saya sodorkan uang 15 ribu rupiah,
“Langkung teuing jang”. (“Kelebihan jang”).
Sambil dia kembalikan uang itu kepada saya.
Saya tolak dan saya jawab, “Eta rejeki Abah, ulah
kedah di angsulan”. (“Itu rejeki Abah, tidak perlu dikembalikan”).
“Alhamdullillahirabbil’alamiin,
mudah-mudahan kasaean ujang sing digentosan langkung-langkung tibatan ieu ku nu
Maha Uninga”. (“Alhamdullillahirabbil’alamiin, mudah-mudahan kebaikan
ujang diganti dengan yang lebih banyak daripada ini”).
“Amin”.
Saya jawab sambil menjabat tangannya. Adapun saya memberi lebih kepadanya
karena dia telah memberikan saya kuliah ilmu dan kehidupan, uang sebesar itu
sebetulnya sangat sedikit untuk mengganti ilmu yang diberikan oleh Tukang Sol
Sepatu itu---tanpa dia sadari---ketika mengobrol dengan saya.
Setelah beres semua peralatannya masuk ke dalam
kotak kayu yang ditanggung dipundaknya, dia pun berpamitan dan tak lupa
mengucapkan salam sambil berterimakasih kepada saya. Dia kembali berjalan
menyusuri aspal panas, yang membuat hitam kulit serta mengeluarkan peluhnya.
Ilmu yang dia berikan sungguh menyadarkan saya akan arti perjuangan, semoga
Tuhan memberikan dia ganjaran berkali lipat dari apa yang sekedar dia dapat. Amin…
Mantri Atang
“Ud’unii Astajib Lakum”
(Artinya : “Silahkan kalian meminta kepada Kami, maka Kami akan kabulkan).
Begitulah kiranya kata-kata yang sering beliau ucapkan setiap kali saya bertemu
dengannya sambil beliau menawarkan barang dagangannya yang dia tenteng di
lengannya, perawakannya yang pendek dengan perut buncit membuat beliau tidak
sulit dikenali. Topi hitam butut---untuk
menutupi rambutnya yang memutih---, baju berkerah berwarna krem yang
bertuliskan “DOES” (nama salah satu Penjual sayur di Pasar Banjar) di
punggungnya serta sandal yang terlalu
besar untuk ukuran kakinya sudah menjadi ciri khas untuk stelan kerjanya setiap
hari. Kami---masyarakat Pasar Banjar---memanggilnya “Pak Mantri” .
Beliau berasal dari Garut,
tetapi sudah sejak lama beliau menetap di Kota Banjar sebagai tempat menjemput
rejekinya. Menurut saya Kakek tua ini merupakan salah satu
Entrepreneur sejati di kota ini,
beliau sudah mulai berdagang di Pasar Banjar jauh sebelum saya lahir. Saya
mendengar dari kedua orangtua saya dan saya pun mengingatnya---karena waktu itu
usia saya sudah menginjak lima tahun---, jauh sebelum beliau menjadi tukang
obat, beliau dulunya---± tahun 90-an---adalah seorang tukang kiridit (orang yang sering menjual berbagai macam barang
tetapi pembayarannya dicicil oleh pelanggannya). Berbagai macam barang dia jual untuk
dikreditkan kepada customer-nya,
mulai dari sabun, odol (pasta gigi), shampo
bahkan sikat gigi sampai panci sekalipun dia kreditkan. Nah disini yang unik
adalah sasaran pelanggannya yang kebanyakan bukan Ibu Rumah Tangga, melainkan
para tukang becak, pedagang kaki lima, dan kuli panggul di lingkungan Pasar
Banjar. Alasannya dia merasa kasihan kepada mereka yang pendapatannya hanya
cukup untuk makan saja, sementara kebutuhan penunjang kehidupan lain sulit untuk
mereka dapatkan---kalaupun mereka menginginkan barang itu, mereka harus
menabung lama dengan cara mengurangi jatah makan---. Nah dari situ beliau
melihat sebuah peluang dan mencoba menjual barang yang menjadi kebutuhan
manusia dengan cara dikreditkan, tujuannya untuk meringankan beban para tukang
becak sampai kuli panggul yang pendapatannya kalau dibawa kerumah habis untuk
makan. Sebuah pemikiran yang brilian yang dipadu-padankan dengan sikap empati
terhadap sesamanya, yang bahkan untuk kebanyakan Sarjana Ekonomi seperti saya
mungkin tidak pernah terpikirkan ide-ide bisnis sederhana seperti itu, karena
kami terlalu banyak dicekoki dengan ide-ide bisnis yang berorientasi
profit---sementara sikap empati terhadap sesama dikesampingkan---, walaupun
pada kenyataannya kadangkala tidak sesuai dengan teori yang ada.
Nah dimulailah perjalanan
Pak Mantri sebagai Tukang Kiridit,
seperti biasa urusan usaha itu tidak selalu datar-datar saja tetapi penuh
dengan liku-liku permasalahannya. Begitu juga yang dialami Pak Mantri untuk
usaha awalnya ini, untuk awal-awal usaha ini mungkin menjanjikan keuntungan
yang sangat besar tetapi beliau belum pernah memikirkan resiko yang akan dia
dapatkan akibat dari mengkreditkan barang-barang jualannya. Untuk satu sampai
enam bulan pada awalnya usaha ini berjalan lancar dan menguntungkan, karena Customer pun mencari kepercayaan Pak
Mantri selaku Penjual dengan cara mencicil hingga lunas agar Pak Mantri yakin
dan percaya untuk mengkreditkan kembali barang dagangannya kepada pelanggannya.
Dan disinilah letak kesalahannya, Pak Mantri terlalu percaya kepada semua
pelanggannya bahwa mereka akan membayar cicilannya. Satu persatu pelanggannya
mulai menunggak, tidak jarang ketika mereka mengetahui Pak Mantri mulai
berjalan mendekat ke arah mereka dan para pelanggannya melihat Pak Mantri dari
kejauhan. Para pelanggan ini saling memberi tahu, dan memulai aksi melarikan
diri menghindari kejaran Pak Mantri. Usaha ini “sukses” ditutup karena Pak
Mantri selalu harus menambah modal, sementara arus kas tersendat karena
banyaknya kredit macet. Usaha ini pun hanya dijalaninya beberapa tahun saja.
![]() |
| Pak Mantri dengan barang jualannya |
Akhirnya kembali beliau
merintis usaha terbarunya, sekarang beliau berjualan obat. Obat yang dijual
beliau bermacam-macam, mulai dari obat sakit kepala, sakit perut, vitamin
sampai obat kuat serta kondom pun dia jual. Maap-maap nih, obat kuat serta
kondom yang dia jual pun terkadang punya keunikan tersendiri, seperti misalnya
kondom yang bergerigi (ada semacam benjolan-benjolan) di kondomnya. Terus saya
pun sempat heran, dengan berbagai macam jenis dan merk obat kuat yang
dijualnya, ada yang berbentuk kapsul, pil, kaplet sampai tissue. Saya pun
sampai menggelengkan kepala, untuk urusan yang satu ini, bahkan untuk urusan
humor porno yang menjurus esek-esek
beliau ini memang Rajanya. Karena itu dia pun punya julukan lain yang diberikan
pelanggannya seperti “Mantri Ijut dan Uwa Eder (yang dalam bahasa Slang Terminal
Banjar, Uwa Eder itu artinya Ew*)”.
Sempat saya bertanya kepada
beliau perihal ini. “Gening Pak Mantri tiasa ngicalan obat kuat? Kumaha
kawitna?”. (dalam bahasa sunda artinya begini : “Kok Pak Mantri bisa ngejual
obat kuat? Bagaimana awalnya”?)
“Pan sok aya nu peryogieun sareng narosken cep,
sapertos tukang parkir, tukang becak, sopir angkot sareng nu sanesna. Panginten
aranjeunna teh isineun ai kedah ka toko obat mah narosken obat kieu mah, nya
tos we ku Pak Mantri di ayaan”. (“Kan suka ada yang membutuhkan dan menanyakan
cep, seperti tukang parkir,dll. Mungkin mereka malu kalo ke toko obat untuk
membeli obat begini mah, ya sudah akhirnya Pak
Mantri menyediakan obat begini”). Beliau menjawab sambil terkekeh.
Kembali saya gelengkan
kepala, ide usahanya selalu sederhana serta orisinal tapi tetap dia mampu
mengakomodir kebutuhan sesamanya. Untuk usahanya yang sekarang, kali ini beliau
tidak mengkreditkan kepada para pelanggannya melainkan dengan sistem cash.
Namun untuk usahanya yang sekarang, kurang terlalu ramai dikarenakan hanya
orang tertentu saja yang membutuhkan barang dagangannya.
Saya
bertanya. “Teu cape kitu Pak Mantri icalan bari mapah?”. (“Gak cape gitu Pak
Mantri jualan sambil berjalan kaki?”).
“Ai Cape mah
kantenan, mung kumaha deui tuda. Da padamelan Pak Mantri mah siga kieu, atuh
pami teu icalan mah moal aya kangge meser uas benang (bahasa slang pasar
artinya beras)”. Beliau menjawab sambil tertawa.
“Kumaha
hasil usaha dinten ayena?”. (“Gimana hasil usaha hari ini?”). Kembali saya
bertanya.
“Alhamdulillah, aya kangge meser beas sareng
gas mah cep”, (“Alhamdulillah,
ada untuk
sekedar membeli beras dan gas”). Beliau menjawab seperti
itu jikalau saya bertanya mengenai hasil jualannya laku atau tidak, sungguh
sifat Qana’ah (menerima akan pemberian
Tuhan) yang perlu kita tiru tanpa sekalipun beliau mengeluh. Jawaban sederhana
tetapi sarat makna, menyadarkan saya
akan pentingnya bersyukur dengan rejeki yang kita dapat. Karena tak jarang di
era modern seperti sekarang ini, banyak manusia kurang bersyukur dengan rejeki
yang telah diperolehnya, padahal gaji atau pendapatan yang mereka dapat lebih
daripada penghasilan seorang tukang obat keliling ini.
Pernah suatu ketika saya
diajak untuk berkunjung kerumahnya. “Aya cep ai sakalieun kopi mah, hayu atuh
cuang ameng ka rorompok”, (Ada kalo sekedar kopi saja cep, ayo main ke rumah”).
Dan pada suatu malam akhirnya saya berkunjung ke rumahnya, sebuah rumah petak
yang dari luarnya saja sudah menandakan bahwa penghuninya merupakan seorang
manusia yang sederhana dan bersahaja. Saya pun mengetuk pintu dan mengucapkan
salam beberapa kali, dan setelah menunggu---respon dari si tuan rumah---sedikit
lama akhirnya pintu rumah itu dibuka oleh si pemiliknya. Saya disambut bak
seorang tamu agung dengan wajah penuh senyum terlihat dari penghuninya yang
memperlihatkan betapa senangnya ada orang yang mau berkunjung ke rumahnya. Pada waktu itu beliau mengenakan baju koko,
sarung untuk menutupi auratnya serta kopiah di kepalanya karena sepertinya
beliau telah menyelesaikan kewajiban yang di perintahkan Tuhan sebelum menerima
saya sebagai tamu dirumahnya.
![]() |
| Pak Mantri ketika saya bertamu di rumah sederhananya |
Saya pun dipersilakan masuk,
dan betapa kagetnya saya melihat rumah ini. Kagetnya saya disini bukan karena
melihat perabotan mewah, tetapi lebih pada tidak terurusnya rumah ini. Dengan
atap yang bocor disana-sini, tembok yang sudah mulai rapuh dan semennya yang
mengelupas, serta perabotan yang berserakan menandakan rumah ini tidak terurus
sama sekali oleh pemiliknya. Jemuran yang belum disetrika---bahkan sepertinya
tidak pernah disetrika---menggantung di setiap sudut rumahnya, lantai rumah
penuh debu dan pasir menandakan rumah ini tidak pernah di sapu dan dipel oleh
pemiliknya. Saya pun duduk di kursi sudut
dengan meja kecil sebagai pemanis dari kursi yang sudah kusam dan usang di
ruang tamu---merangkap ruang tengah---.
“Cep,
bade Energen atanapi Kopi ABC Susu?”. Pertanyaan itu menyadarkan saya dari
keheranan saya mengenai kondisi rumah itu.
“
Kopi we Pak Mantri, moal ngadamelkeun kitu?”, (“Kopi saja Pak Mantri, tidak
merepotkan gitu?”. Jawab saya.
“Teu
sawios-wios cep, atuh da ncep teh tamu kedah disuguhan. Kaleresan kopi sareng
energen mah aya tos nyiapkeun, janten Pak Mantri teu kedah ka warung”. (“Gak
apa-apa cep, kan ncep tamu ya harus dikasih suguhan. Kebetulan kopi dan energen
ada dan sudah disiapkan, jadi Pak Mantri tidak perlu ke warung”). Jawab beliau
sambil berlalu ke arah dapur.
Kembali dia ke ruang tamu sambil membawa gelas
besar berisi kopi, dengan tangan yang sedikit gemetar dia letakkan gelas itu
diatas meja tamu . “Waduh, ageng-ageng teuing gelas na Pak Mantri, atuh hambar
panginten rasa na kopi teh”. (“Waduh,
besar sekali gelasnya Pak Mantri, hambar mungkin rasa kopinya”). Saya sedikit
protes.
“Hapuntenna
we cep, Pak Mantri mah kagungan na gelas kieu. Teu kagungan cangkir mah, bilih
seer teuing cai na mah, beu kadieu cuang dipiceun saalit cai na”. (“Mohon maap
cep, Pak Mantri cuma puya gelas begini.
Gak punya cangkir, kalo dirasa kebanyakan airnya sini Pak Mantri buang
airnya”). Beliau menjawab sambil tersenyum seraya hendak mengambil gelas itu.
“Wios
Pak Mantri, abi nu lepat. Hapunten na abdi teu uninga, manawi teh Pak Mantri
kagungan cangkir”. (“Gak apa-apa Pak Mantri, saya yang salah. Maap saya tidak
tahu, dikira saya Pak Mantri punya cangkir”). Saya jawab dengan sedikit malu.
Saya pun meminum sedikit kopi dari gelas besar
itu, dan memang rasanya sedikit hambar---seperti yang sudah saya kira---. Tapi
tak apalah yang penting niat dari orangtua itu untuk membuatkan saya kopi, sudah
lebih dari cukup untuk membuat kopi itu terasa lebih enak.
Setelah saya letakkan kembali gelas kopi itu diatas
meja, saya pun mulai mengajak beliau untuk berbincang. “Ai Pak Mantri sareng
saha linggih didieu?”.
“Ah
cep, Pak Mantri mah nyalira we di rorompok mah. Numawi istri da tos
ngantunkeun, pun anak tos rumah tanggi”. (“Ah cep, Pak Mantri sendiri di rumah.
Karena Istri sudah meninggalkan, anak-anak sudah berumah tangga”). Beliau menjawab dengan nada lesu sambil
bibirnya tetap tersenyum.
“Innalillahi,
ti iraha Istri ngantunkeun Pak Mantri?”. (“Dari kapan Istri meninggal Pak
Mantri?”). Kembali saya bertanya.
“Tos
opat taun kapengker cep, pun bojo teh ngantunkeun. Nikah deui sareng pameget nu
sanes”. (“Sudah Empat taun ke belakang istri meninggalkan. Menikah lagi dengan
Lelaki lain”). Jawab Pak Mantri sambil tersenyum.
“Hapunten
Pak Mantri, abdi kumawantun. Manawi teh bojo Pak Mantri teh ngantunkeun ka Alam
Barzah”. (Maap Pak Mantri, saya lancing. Saya kira istri Pak Mantri meninggal
ke Alam Barzah”. Jawab saya dengan wajah sedikit panik, takut menyinggung
perasaan Pak Mantri.
“Teu
sawios-wios cep, da kitu aya na. Matak pun bojo kitu ge panginten pedah Pak
Mantri seer kirangna”. (Tidak apa-apa cep, emang begitu adanya. Istri begitu
juga mungkin karena Pak Mantri banyak kekurangannya”). Lagi-lagi sambil
tersenyum dia menjawab saya.
Dari situ saya baru tahu yang sebenarnya mengenai
kondisi rumah tangga beliau, dan dari situ saya bisa menarik kesimpulan
mengenai pertanyaan-pertanyaan saya ketika memasuki rumah beliau. Mengenai
kenapa rumah ini tidak terurus, kenapa rumah ini terlalu kotor untuk
ditinggali, dll. Suatu kewajaran karena rumah ini hanya dihuni oleh seorang
kakek tua, yang tentunya daripada mengurus rumah ini seorang diri, lebih baik
dia memakai waktunya untuk beristirahat guna melemaskan otot-otot kakinya yang
hampir setiap hari dipakai berjalan untuk menjemput rejekinya.
Saya sungguh terkesan dengan jawaban beliau,
alih-alih beliau menyalahkan Istrinya atau selingkuhannya. Beliau lebih memilih
menyalahkan dirinya sendiri, dan lebih memilih berintrospeksi diri akan
kejadian yang telah menimpa dirinya. Bertolak belakang dengan perilaku kita di
masa sekarang, yang mungkin apabila kita yang ditimpa musibah seperti yang
dialami Pak Mantri. Alih-alih introspeksi diri, mungkin kita akan lebih senang
menyalahkan oranglain daripada mencoba mengkoreksi perilaku diri.
Malam itu kami berbicara ngalor-ngidul,
berbicara mengenai pengalaman hidup Pak Mantri, berbicara mengenai arti
kehidupan, banyak sekali nilai-nilai kehidupan yang saya dapat ketika saya
berkunjung ke rumah Pak Mantri malam itu. Beliau mengajarkan saya mengenai arti
sebuah kesederhanaan, dalam artian walaupun dia hidup berkekurangan tapi beliau
tetap mencoba untuk member terhadapa sesama. Beliau mengajarkan arti sebuah
keikhlasan akan merelakan sesuatu yang beliau punyai untuk diambil oleh yang
Maha Mempunyai, beliau sangat memakanai ucapan “Innalillahi Wa Inna Ilaihi
Raaji’un” ; (“Sesungguhnya kepunyaan Allah akan kembali kepada Allah”). Bukan
sekedar diucapkan dengan mulut, tetapi disesuaikan dengan hati.
Setelah lama saya berbicara, saya agak sedikit
nelangsa. Terpikirkan oleh saya bagaimana jadinya kalau saya atau orangtua saya
yang menjadi Pak Mantri, hidup seorang diri tanpa ada yang mengurus, tanpa ada
yang menemani. Yang membuat saya nelangsa adalah karena beliau menceritakan,
pernah suatu ketika beliau terjatuh di kamar mandi---setelah berwudhu---yang
menyebabkan beliau pinggangnya sakit sampai beliau tidak sanggup berdiri.
Beliau berteriak meminta tolong, tetapi
tidak ada yang mendengarkan. Selain karena beliau hanya sendiri dirumah, juga
karena pada siang hari tetangganya sedang sibuk beraktivitas diluar rumah.
Sehingga akhirnya beliau memaksakan diri---dengan sisa-sisa tenaga yang ada
untuk keluar dari kamar mandi dengan cara menyeret badannya untuk pergi ke
kamar dan melaksanakan shalat baru kemudian beristirahat. Sungguh pengalaman
yang buruk, dan membuat saya teringat akan kedua orangtua saya yang mulai
beranjak tua.
Dari situ pun saya sempat mengusulkan agar Pak Mantri
tinggal di rumah anaknya, supaya beliau ada yang mengurus karena usia nya yang
sudah mulai sepuh. Tapi beliau menolak dengan alasan : “beliau tidak mau
merepotkan anaknya yang sudah berkeluarga dan punya tanggung jawab terhadap
keluarganya”. Tadinya saya mau mendebat, tapi saya pikir ulang alangkah baiknya
saya hargai keputusannya.
Saya pun hanya bisa berharap ketika nanti Pak
Mantri meninggal, beliau tidak dalam keadaan seorang diri di rumah ini. Beliau
menjawab : “Amin.. Harepan Pak Mantri mah cep, dimana ngke Pak Mantri dicabut
nyawa ku nu Maha Kawasa. Pak Mantri sing digampilken maot na, ulah kedah
ngangge acara teu damang dugi dirawat di Rumah Sakit sagala meh teu janten
ngarepotkeun ka kulawarga”. (“Harapan Pak Mantri, ketika nanti Pak Mantri
dicabut nyawa oleh yang Maha Kuasa. Pak Mantri dimudahkan dalam menghadapi kematian, tanpa perlu sakit
apalagi sampai dirawat di Rumah Sakit segala, supaya tidak jadi beban untuk
keluarga”).
Begitulah Pak Mantri, orang tua yang sudah sepuh
tetapi tak pernah mengeluh. Selalu berjuang untuk kehidupannya, bahkan untuk
sesamanya. Banyak nilai-nilai kehidupan yang saya petik dari perjuangannya.
Hari sudah larut malam, saya pun terpaksa
berpamitan kepada Pak Mantri untuk pulang. Tak lupa beliau selalu mendoakan
saya setiap kami mengakhiri pertemuan, dengan doa : “Mudah-mudahan ncep sing
sehat sakulawargi, usahana sing lancar, sing laris. Teras sing enggal kenging
jodoh anu nyaaheun ka ncep, anu sae akhlakna, oge sae agamana”. (Mudah-mudahan
ncep sehat sekeluarga, usahanya lancar, laris. Terus cepat dapat jodoh yang
sayang sama ncep, yang bagus akhlaknya juga agamanya”).
Beliau mengantarkan saya sampai ke pintu depan,
saya pun berpamitan kembali untuk pulang. Seraya mendoakan Pak Mantri supaya
sehat selalu. Sesampainya saya dirumah, saya langsung berwudhu dan melaksanakan
shalat, setelah selesai shalat pikiran saya melayang ke dalam lamunan dan
menggumam : “Ah, beruntungnya hidup saya dibandingkan dengan Pak Mantri”. Saya
pun larut dalam doa dan berjanji tidak akan menelantarkan orang tua saya ketika
orang tua saya sudah mulai beranjak sepuh seperti Pak Mantri. Saya ingin
membalas budi akan kebaikan orang tua yang telah merawat dan membesarkan saya
hingga saat ini.
Penutup
Sebetulnya banyak sekali orang-orang yang
menginspirasi kehidupan saya, mungkin ke depannya akan saya bahas di tulisan
saya di lain waktu. Semoga kedua orang ini dapat menginspirasi kita
semua---terutama bagi kaum muda---khususnya untuk penulis sendiri, umumnya
untuk pembaca.
Oh iya, ini pertama kali saya menyelesaikan
tulisan dalam 3 hari lho. Mudah-mudahan saya dapat lebih produktif lagi ke
depannya, sehingga anda semua dapat menikmati tulisan saya. Rencananya minimal 1
tulisan saya posting tiap satu bulan.
Semoga saya dapat terus berkarya. Amin.
Banjar,
4 April 2013
----Ditulis
di Tempat Rahasia, dibaca dimana saja---
Ikuti
saya di twitter : @pelucida



Halo, saya Ibu Joyce, pemberi pinjaman pinjaman swasta yang memberikan pinjaman kesempatan waktu hidup. Apakah Anda membutuhkan pinjaman mendesak untuk melunasi utang Anda atau Anda membutuhkan pinjaman untuk meningkatkan bisnis Anda? Anda telah ditolak oleh bank dan lembaga keuangan lainnya? Apakah Anda membutuhkan pinjaman konsolidasi atau hipotek? mencari lebih karena kita berada di sini untuk membuat semua masalah keuangan Anda sesuatu dari masa lalu. Kami meminjamkan dana kepada individu yang membutuhkan bantuan keuangan, yang memiliki kredit buruk atau membutuhkan uang untuk membayar tagihan, untuk berinvestasi di bisnis di tingkat 2%. Saya ingin menggunakan media ini untuk memberitahu Anda bahwa kami memberikan bantuan yang handal dan penerima dan akan bersedia untuk menawarkan pinjaman. Jadi hubungi kami hari ini melalui email di: joycemeyerloanfirm@gmail.com
ReplyDelete