Setelah dua
bulan saya menulis catatan ini, akhirnya pada akhir bulan februari rampung
sudah catatan saya selama tahun 2012. Disini mungkin hanya sedikit dari sekian
banyak kejadian yang saya alami yang bisa saya bagi melalui blog saya ini,
sebenarnya banyak hal yang mempunyai kesan mendalam bagi saya seperti masalah relationship
saya. Akan tetapi biarlah itu menjadi rahasia dalam kehidupan saya.
Selamat membaca… semoga anda mendapatkan
hikmah dari perjalanan saya di muka bumi selama setahun penuh.
Prolog
2012
sebuah tahun yang menurut segelintir orang di dunia ini mempercayainya
merupakan Tahun akan terjadinya Kiamat yang diprediksi akan terjadi pada akhir
tahun ini. Tetapi mohon maaf, disini saya tidak akan membahas mengenai fenomena
yang sepanjang tahun menjadi topik pembicaraan semua orang hampir diseantero
dunia. Dalam catatan ini saya ingin menulis mengenai beberapa kejadian dalam tahun
2012 yang telah saya alami, dengan berbagai kejadian yang semuanya atau mungkin
sebagian akan saya tuangkan dalam tulisan saya kali ini.
Tahun
2012 saya awali pergantian dengan berdiam diri di rumah, yah masih seperti
kebiasaan sewaktu saya masih menempuh pendidikan, di salah satu Perguruan
Tinggi Negeri di Kota Purwokerto. Saya selalu merasa lebih baik berdiam diri di
rumah atau dikosan dan merenung di dalam kamar---karena memang saya bukan tipe
Pria yang suka keramaian---sambil sesekali mengingat peristiwa-peristiwa yang
telah berlalu sambil mencoba membuat beberapa resolusi untuk menentukan
langkah-langkah yang akan saya ambil di masa depan.
Di
awal tahun ini---Januari---saya masih dalam suasana euforia karena saya telah menyelesaikan pendidikan Sarjana dalam
waktu tepat 4 tahun (dari tahun 2007 s.d 2011) dengan predikat nilai ehm… “Sangat Memuaskan”. Haha..
Mencari
Pekerjaan
![]() |
| Kutipan dari buku Billy Boen (1) |
Masih
di bulan Januari, di bulan ini saya mulai mengikuti tes-tes untuk mendapatkan
pekerjaan. Informasi pekerjaan saya dapatkan melalui Internet ataupun Surat Kabar/Koran bahkan terkadang saya
mendapatkan info dari beberapa teman kuliah ataupun teman sekolah saya,
kemudian beberapa surat lamaran pun saya ajukan baik melalui E-mail, Internet (karena zaman semakin
canggih) maupun melalui cara tradisional yaitu melalui Kotak Pos bahkan ada
yang langsung saya ajukan ke kantor nya secara langsung. Ada yang dipanggil
bahkan terkadang tidak, saya pun pernah beberapa kali mengikuti tes, akan
tetapi saya selalu gagal lebih tepatnya di Psychotest.
Tapi saya selalu tanamkan dalam benak saya “Tuhan lebih mengetahui apa yang
terbaik untuk Hamba-Nya” dan didalam doa saya pun saya selalu meminta “Ya Tuhan
berikanlah yang terbaik untuk saya” dan ada satu hal yang membuat saya selalu
semangat menjalani setiap tes dan optimis dalam menjalani hari, selain karena support dari orang tua juga karena
hadirnya seseorang dalam kehidupan saya.
Pernah suatu ketika
pada bulan Februari---tanggal tepatnya saya lupa---saya sudah menyelesaikan
tes-tes formal---di salah satu Bank BUMN di Kota kelahiran saya---seperti Interview awal, Psychotest dan Interview akhir.
Akan tetapi saya gagal di tahap akhir yaitu di tahap Medical Check Up (Baca : Tes
Kesehatan), dikarenakan saya mengidap sebuah cacat non-fisik yaitu Buta Warna
Parsial (Buta Warna yang tidak membedakan sebagian atau beberapa warna seperti
Orange, Hijau atau Merah). Padahal saya sudah mengikuti pendidikan hari pertama
di sebuah tempat pendidikan yang disediakan oleh BUMN tsb di Kota Bandung
dengan kondisi badan saya yang sangat lelah karena saya berangkat mendadak dari
rumah tepatnya pukul 2 pagi pada hari sabtu tanggal 3 maret dengan menggunakan
kendaraan umum---metromini---yang cukup jauh dari kata nyaman dengan jok yang
bolong serta jendela yang tak bisa ditutup, demi mengejar waktu Medical Check Up pada pukul 8 pagi. Tetapi
ada untungnya juga saya menumpang metromini itu daripada menaiki bus, karena
dengan menaiki metromini itu saya dapat langsung tiba di daerah Terminal
Leuwipanjang yang jaraknya cukup dekat dengan Laboratorium daripada menaiki bus yang turun di Terminal Cicaheum
yang jaraknya sangat jauh dari tempat
diadakannya Tes Kesehatan.
Sesampainya saya di Laboratorium, saya pun langsung menuju WC Laboratorium itu untuk sekedar
membasuh muka dan membasahi rambut wajah---saat itu wajah saya sangat kusut
dengan rambut yang acak-acakan---serta berganti pakaian dengan yang lebih
formal, setelah selesai merapikan penampilan saya pun langsung mendaftar untuk
di cek mengenai kesehatan saya. Dimulai dari diambil sample darah dan urine
dilanjutkan dengan di rontgen dada, diukur
tinggi badan dan berat badan saya tidak menemukan kendala, dan sampailah pada
tes terakhir yaitu interview dengan
Dokter mengenai riwayat kesehatan saya dengan diajukannya beberapa pertanyaan
kepada saya seperti “Merokok atau tidak?, Pernah sakit parah atau tidak, dll.”
Dan tibalah saat yang paling saya ingin hindari yaitu tes buta warna. Pada saat
diperlihatkan buku itu saya sedikit panik---sebelumnya saya sudah pernah
mengikuti tes ini untuk syarat mengikuti SPMB Nasional yang menyatakan saya
positif buta warna---karena saya yakin tidak bisa melalui tes itu, dan betul
saja ada beberapa huruf atau angka yang tidak bisa saya tebak di buku tes buta
warna itu. Saya pun sempat memohon kepada Dokter itu untuk membantu saya lolos
pada tes kesehatan karena saya tidak ingin mengecewakan Orangtua
saya---terutama Ibu yang sangat berharap saya menjadi pegawai---. Setelah saya
menyelesaikan seluruh tahapan tes kesehatan saya pun hendak melanjutkan
perjalanan saya selanjutnya ke kantor Outsourcing
BUMN yang lumayan jauh jaraknya. Dan Alhamdulillah,
Tuhan memberkati saya kembali karena sebelum saya melanjutkan perjalanan,
saya bertemu dengan kedua teman yang sama-sama mengikuti tes dari Kota Banjar
yaitu Ardi dan Septian---kebetulan keduanya diantar oleh orangtua Ardi yang
membawa kendaraan---keduanya mengajak saya pergi bersama ke Kantor Outsourcing BUMN itu untuk
menandatangani kontrak kerja, dapat saya bayangkan kalau saya tidak bertemu
mereka, saya akan kebingungan mencari kantor Outsourcing itu karena letak kantornya yang cukup terpencil serta
jalanan di Kota Bandung yang macet karena hari itu merupakan hari Sabtu atau Weekend yang pastinya digunakan warga
Kota Bandung bahkan dari luar kota untuk sekedar mencari hiburan.
Kemudian sampailah kami di Kantor Oursourcing itu pada pukul setengah 11
siang, dan saya serta rekan saya pun bergegas masuk untuk mengikuti acara
penandatanganan kontrak kerja. Disana kami disuruh melengkapi berkas seperti
Ijasah untuk kemudian dititipkan di Kantor itu kalau-kalau kami diterima di
Lembaga Keuangan tsb., dan yang membuat saya terkejut adalah ketika saya
menandatangani berkas kontrak kerja disana. Saya dan peserta lain diberitahu
bahwa hasil Medical Checkup akan
diumumkan pada hari senin dikarenakan hari ini hari Sabtu dan besoknya Minggu
yang biasanya digunakan oleh pegawai untuk berlibur. Jadi semua peserta
diharapkan mengikuti pendidikan pada hari pertama untuk menunggu hasil Medical Checkup dari Laboratorium itu. Setelah sesi penandatanganan
berkas, saya dan peserta lain pun dikenakan kewajiban untuk membawa peralatan
untuk mengikuti pendidikan serta diwajibkan untuk memberikan Pas Photo yang pose-nya harus sesuai dengan
Standar Prosedur Lembaga Keuangan itu di studio photo yang jaraknya berjauhan dengan Kantor Outsourcing tsb. Kemudian setelah acara selesai pada pukul 1 siang,
kami pun bergegas kembali untuk mencetak photo
yang diwajibkan oleh Lembaga Keuangan itu, tetapi sebelumnya saya mengajak
kedua rekan saya untuk makan terlebih dahulu dikarenakan saya lemas sekali,
karena dari semenjak berangkat perut saya belum terisi makanan apapun bahkan
untuk sekadar minum pun tidak. Setelah selesai makan barulah kami mencari
studio photo untuk mengambil gambar
kami bertiga dengan pose---yang menurut saya agak menggelikan---sesuai standar
operasional Bank itu. Kemudian setelah sesi pemotretan selesai kami pun
menunggu hasil cetakan photo kami
bertiga di studio tersebut, kemudian setelah itu kami pun kembali lagi ke
Kantor Outsourcing itu untuk menyerahkan
hasil cetakan photo kami yang
perjalanannya sangat melelahkan untuk kembali ke Kantor itu karena kondisi
macet di sekitar Kota Bandung. Total waktu untuk keseluruhan kegiatan yang
dimulai dari keberangkatan saya, dilanjut Tes Kesehatan sampai sesi pengambilan
gambar itu ± memakan waktu lebih dari 12 jam, dimana saya merasa sangat
kelelahan karena dari semenjak berangkat dari rumah saya belum tidur, karena
sebelumnya saya juga mempersiapkan berkas-berkas yang saya anggap penting untuk
dibawa ke Kota Bandung. Serba mendadak dikarenakan pemberitahuan melalui sms dari Kantor Outsourcing itu saya terima pada pukul 10 malam---saya hanya
membawa baju seadanya dan seperlunya---. Dan akhirnya sampailah kami bertiga di
Kosan saudara teman saya---Ardi---yang jauh dari kata layak (baca : Kumuh) dan
masuk gang sempit bahkan hanya cukup untuk berjalan satu orang saja---di daerah
Geger Kalong---. Sekitar pukul 6 maghrib, saya baru bisa merebahkan badan saya.
Momen itu merupakan momen dimana saya merasakan betapa nikmatnya berbaring
walaupun hanya diatas kasur butut tanpa bantal, tanpa guling dan tanpa selimut.
Kemudian saya bergegas mengambil air wudhu
untuk melaksanakan Shalat Maghrib, baru setelahnya kemudian saya pun berbaring
kembali ke peraduan, tetapi sebelum saya tidur, saya memaksakan diri untuk
mencari makan malam walaupun dengan badan yang serasa remuk saya paksakan untuk
berjalan, baru setelah itu saya pun kembali ke tempat saya menginap untuk
beristirahat. Subhanallah… begitu
melelahkannya perjuangan untuk mendapatkan pekerjaan yang belum pernah saya
bayangkan prosesnya sewaktu saya masih menempuh pendidikan.
Esok
harinya saya bangun dan bergegas untuk bersiap-siap pergi ke tempat pendidikan
Bank itu yang lokasinya berada di daerah pegunungan---di daerah Lembang---. Sampailah
saya dan kedua teman saya disana pada pukul 12 siang. Disana suasananya lebih
dingin dibandingkan dengan tempat kos teman saya yang berada di daerah
Gegerkalong, dan disana kebetulan saya bertemu dengan teman lama saya sekelas sewaktu
kuliah yaitu Maradona Hadi yang berasal dari Cirebon. Dia pun sedang mengikuti
pendidikan yang diselenggarakan oleh Bank yang sama tetapi dia sudah tinggal
beberapa hari lagi untuk menyelesaikan pendidikannya. Setelah
berbincang-bincang sebentar dengan Maradona, saya dan kedua teman saya---Ardi
dan Septian---melapor ke Pos Satpam bahwa kami akan mengikuti pendidikan
disini, kemudian kami pun menandatangani tanda kehadiran peserta yang diberikan
Satpam, setelah itu kemudian kami diberi fotocopy-an
materi pendidikan untuk kami pelajari serta kunci kamar untuk beristirahat.
Akhirnya kami bertiga sampai di kamar kami yang menurut saya sangat jauh sekali
kondisinya dengan kosan tempat kami menginap semalam. Disini jauh lebih layak,
bahkan fasilitasnya seperti hotel dengan masing-masing orang diberi kasur
dengan bantal dan selimut tanpa perlu berbagi serta berdesak-desakan dengan
orang lain seperti yang kami alami semalam, sungguh menyesakkan kalau saya
ingat kejadian itu.
Kami
pun langsung merebahkan diri di kasur yang empuk, sambil berselimut karena hawa
dingin yang lumayan menusuk tulang diselimuti perasaan lega karena akhirnya
saya dapat beristirahat dengan nyaman---untuk urusan hasil Medical Checkup belum saya pikirkan saat itu karena saya merasa
badan saya sudah cukup lelah---. Setelah saya merasa cukup beristirahat, saya
pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan, lagi-lagi saya merasa sangat
dimanjakan karena kamar mandinya cukup luas serta di fasilitasi dengan Shower serta Heater sehingga saya tidak perlu repot memanaskan air---lagian saya
tidak tahu dapurnya dimana..hihihi--- sehingga saya bisa mandi dengan nyaman---walaupun
udara sangat dingin---karena adanya alat pemanas air otomatis, saya pun mandi
cukup lama karena saya merasa badan saya sangat kotor. Selesai mandi saya pun
bergegas untuk sholat dhuhur, dilanjutkan dengan menyeduh kopi dengan kedua
rekan saya sambil berdiskusi ringan mengenai materi pendidikan. Karena
kebetulan saya memang dari Fakultas Ekonomi---mungkin mereka menilai saya
menguasai materi---, sementara kedua rekan saya Septian berasal dari Fakultas
Peternakan dan Ardi berasal dari Fakultas Pendidikan Olahraga yang menurut saya
kalau berdasarkan disiplin ilmu tidak cocok bekerja di Bank. Kami pun keasyikan
berdiskusi sampai sore hari, karena kami tidak hanya berdiskusi mengenai soal
materi pendidikan tetapi sampai keurusan pribadi.
Setelah
selesai berdiskusi kami pun melaksanakan shalat Ashar, sesudah shalat kami pun melanjutkan kegiatan kami untuk
mengisi waktu kosong yaitu menonton film. Kebetulan Septian membawa Notebook yang berisi film-film sehingga
mampu mengisi kekosongan waktu kami bertiga sambil menunggu hari pertama
pendidikan yang akan dimulai esok hari. Pada waktu itu film yang kami bertiga
tonton adalah film Indonesia yang bertemakan percintaan---judulnya kalo tidak
salah “LOVE”---yang dibintangi oleh Widyawati, (Alm) Sophan Sophian, Laudya
Chintya Bella dan Irwansyah. Film ini menceritakan mengenai kisah cinta keempat
orang ini tetapi dengan latarbelakang yang berbeda dan ending yang berbeda, dan
isinya cukup mengaduk-ngaduk emosi saya---karena saya memang mudah menangis,
tapi bukan berarti saya cengeng---terutama ketika adegan yang menceritakan
ketika Laudya mengidap penyakit kanker payudara dan Irwansyah shock mengetahui kejadian itu, disitulah
adegan dimana kedua pasangan itu diuji mengenai perasaan mereka dan dilemma
akan menerima nasib bahwa pasangannya mendapatkan suatu penyakit yang tergolong
berat.
Kembali
ke pengalaman saya, untuk filmnya silahkan anda cari sendiri.
Setelah
berakhirnya film itu tepat pada saat adzan Maghrib.
Kami pun segera melaksanakan ibadah Shalat Maghrib
dilanjut dengan kegiatan makan malam di aula yang telah disediakan oleh panitia
pendidikan Lembaga itu, kami merasa benar-benar dimanjakan dikarenakan
fasilitas di tempat pendidikan yang benar-benar mewah, bukan hanya dari tempat
dan fasilitasnya saja bahkan sampai ke
makanannya pun luar biasa dengan hidangan yang pasti bergizi dan nikmat.
Setelah selesai makan malam, kami pun bergegas ke kamar untuk beristirahat
kembali. Tetapi sebelum saya kembali ke kamar, saya sempatkan dulu mampir ke
kamar Maradona untuk meminjam sepatu kets dan celana training untuk dipakai pada hari pertama yang rencananya akan diisi
dengan acara perkenalan dan games. Setelah
selesai meminjam perlengkapan, barulah saya kembali ke kamar untuk
beristirahat.
Sampailah
pada keesokan harinya, saya terbangun tepat ketika Adzan Shubuh berkumandang.
Saya dan kedua teman saya pun melaksanakan Shalat Shubuh, baru setelah itu tidur kembali sampai pukul 6. Hahaha…
Tepat pukul 6 kami pun bangun dan bersiap untuk sarapan terlebih dahulu di
aula, dikarenakan hari ini pasti akan sangat panjang dan betul sekali hari itu
padat sekali dengan jadwal yang telah disusun rapi oleh panitia. Tepat pukul 7
atau setelah kami menyelesaikan sarapan kami dan peserta lain, acara pun
dimulai dari perkenalan serta pembagian kaus yang bertuliskan “The Best
Frontliner”. Sebetulnya saya risih memakai kaus itu, selain karena ukurannya
kekecilan bagi tubuh jangkung saya juga karena tulisan di kaus itu. Karena saya
malas kalau harus bekerja untuk melayani orang lain tapi dengan penghasilan
yang telah ditetapkan, hati kecil saya memberontak karena sebetulnya saya ingin
berwirausaha karena dengan berwirausaha walaupun sama-sama melayani customer tapi penghasilan yang saya
dapatkan, saya tentukan sendiri tergantung dari kualitas layanan dan
barang/jasa/program yang saya tawarkan kepada customer. Setidaknya itulah anggapan saya, karena sebetulnya saya
melamar pekerjaan disini pun atas desakan orangtua saya terutama ibu.
![]() |
| Saya bersama kelompok di tempat pendidikan |
Pada
hari itu, seharian kami bermain games
yang disediakan oleh panitia diselingi dengan Coffee Break pada pukul 10, kemudian istirahat siang pada pukul 12
yang dipergunakan untuk makan siang serta sholat Dzuhur, dan pukul 3 Coffee
Break kembali. Yang lucu pada acara itu, saya diminta menjadi ketua
kelompok untuk regu saya---nama tiap regunya diambil dari nama program tabungan
di Bank itu sendiri---disana saya memimpin 9 orang, sebagian diantaranya yang
saya ingat nama-namanya adalah Redi berasal dari Tasik, Fifin dari Bandung, dan
Opiw dari Cirebon---kami sempat bertukar Pin BBM dan Nomor Handphone---.
Kami disana membuat yel-yel serta goyangan yang berasal dari lagu Ayu Ting-ting
yang berjudul “Sik-asik”, acaranya cukup menarik karena hari pertama hanya
diisi dengan acara yang tidak formal dan semuanya serba hiburan. Saya menikmati
acara itu dan merasa senang bertemu dengan orang-orang baru sambil bertukar
informasi mengenai daerah asal kami, tapi selama acara berlangsung saya tidak
sepenuhnya menikmati acara karena tersita dengan ingatan akan nasib saya yang
belum pasti diterima atau tidak di Bank itu---takut mengecewakan Ibu saya,
karena beliau hampir tiap 2 jam sekali mengirim sms mengenai hasil tes
kesehatan saya---.
Dan
tiba saatnya beberapa saat sebelum penutupan acara, dan ketika acara masih
berlangsung. Saya mendapatkan telepon dari Kantor Outsourcing yang menyatakan saya tidak lolos Medical Checkup dikarenakan saya menderita Buta Warna Parsial. Memang dari sebelum saya
berangkat pun sebetulnya saya tidak terlalu yakin bahwa saya akan diterima
bekerja di Bank ini. Yah, akhirnya saya pun menerima dengan lapang dada mungkin
ini bukan takdir saya. Saya pun langsung menelepon orangtua saya---terutama ibu
yang mengharapkan saya dapat diterima bekerja---,bahwa saya gagal dalam tes
kesehatan. Alhamdulillah beliau
mengerti dan mencoba memberi dorongan semangat untuk Putranya ini agar tidak
menyerah, dan saya pun memberi tahu pacar saya (ehm) bahwa saya gagal di tes
kesehatan. Dia pun memberi semangat dan mencoba menghibur saya kalau itu
mungkin bukan rezeki saya, sungguh saat itu dukungan dari orang-orang terdekat
mampu sedikit menghapus kekecewaan saya karena saya merasa sungguh lelah dengan
seluruh proses yang saya tempuh sampai pada tahap akhir, dan ternyata saya
gagal.
Setelah
itu kemudian saya pun memberi tahu teman seperjuangan saya---Ardi dan
Septian---kalau saya gagal dalam tes kesehatan. Mereka turut prihatin dengan
nasib saya, dan saya pun berkata “Itu bukan rejeki saya”. Kemudian setelah
acara ditutup dan dibubarkan, saya pun bergegas kembali ke kamar untuk berkemas
dan pulang hari itu juga. Entah apa lagi musibah yang menimpa saya setelah
gagal di tes kesehatan, sandal saya pun dicuri ketika saya melaksanakan
kegiatan. Alhasil saya pun pulang dengan sandal capit---hasil membeli di
warung, padahal saya ketika pergi menggunakan sandal yang ± layak untuk
digunakan di acara formal sekalipun. Selesai saya berkemas saya tidak langsung
pulang, akan tetapi saya memanfaatkan fasilitas terakhir di mess itu yaitu
makan malam gratis. Itung-itung menghemat uang bekal.
Kemudian
setelah makan malam, saya pun berpamitan kepada rekan-rekan saya di tempat
pendidikan. Bahkan sebagian diantara mereka ada yang mengantarkan saya sampai
ke halte untuk menunggu kendaraan yang akan membawa saya pulang. Tak lupa saya
pun mengucapkan terimakasih kepada mereka untuk momen yang telah terlewatti,
dan turut mendoakan mereka sukses dalam karir mereka. Kemudian saya pun menaiki
kendaraan umum yang akan membawa saya pulang.
Ketika saya sudah
menaiki angkot untuk pulang, saya tidak terburu-buru untuk pulang ke rumah,
melainkan saya sempatkan mampir dulu di kosan teman saya---yang saya kenal dari
Facebook---. Sesampainya saya di terminal ledeng, saya pun dijemput teman saya
dan langsung mengajak saya makan malam di emperan di sekitar daerah Trans
Studio Bandung, lumayan cukup untuk membuang rasa capai dan kesal saya karena
saya diajak berbincang ringan bahkan dibumbui dengan humor yang membuat saya
tertawa terbahak-bahak. Setelah selesai makan malam barulah saya dibawa teman
saya ke rumahnya yang berada di daerah turangga untuk beristirahat, karena
besok saya harus melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah.
Keesokan harinya
saya pun bangun terlalu siang----sekitar jam 11 siang----, dikarenakan saya
kecapekan. Saya pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bergegas
untuk kemudian bersiap-siap pulang ke rumah, tetapi sebelumnya saya harus ke
kantor Outsourcing karena sebelum
diumumkannya hasil tes kesehatan, saya menandatangani kontrak kerja disana dan
Ijazah saya ditahan untuk kepentingan Bank itu. Beruntung daerah itu tidak
terlalu jauh dari kediaman teman saya sehingga saya dapat sedikit menghemat
waktu, barulah setelah saya mendapatkan Ijazah saya kembali saya langsung
melanjutkan perjalanan ke Terminal Cicaheum untuk pulang, kali ini benar-benar
pulang.
Sampailah saya
dirumah pada jam 8 malam, karena saya berangkat dari Bandung jam 4 sore. Dan
ketika saya buka pintu rumah, saat itu juga saya merasakan perasan lega yang luar
biasa setelah 4 hari----dari sabtu sampai selasa----saya habiskan waktu di
luar kota. Saya cium tangan kedua orangtua saya, dan saya pun melihat raut muka
mereka yang sedikit kecewa----karena saya gagal, terutama ibu----tapi tetap
memberikan dorongan supaya saya tetap semangat. Ya rumah memang tempat yang
nyaman, walaupun terkadang sedikit menjengkelkan.
Itulah sedikit
mengenai pengalaman melamar pekerjaan saya, terhitung sejak bulan Desember 2012
saya telah mengikuti berbagai tes pekerjaan sejumlah Perusahaan. Dan beberapa kali
saya gagal, dan doa saya pada saat tes terakhir saya setiap selepas Shalat
dhuha adalah “Ya Tuhan, berikanlah pekerjaan yang layak untuk saya, pekerjaan
yang engkau ridhoi. Tunjukkanlah saya jalan rejeki saya, apabila jalan rejeki
saya adalah bekerja maka berikanlah pekerjaan bagi saya. Tapi apabila jalan
rejeki saya ada pada perniagaan, maka lancarkanlah usaha saya. Amin..”. Mungkin itu hanya sedikit cerita mengenai
perjalanan saya setelah lulus. Untuk selanjutnya saya akan menceritakan
mengenai kondisi perdagangan di pasar banjar.
Toko
Karung
![]() |
| Toko karung keluarga saya di Pasar Darurat |
Sebetulnya setelah
lulus saya tidak pernah menjadi pengangguran, dikarenakan setelah lulus saya
langsung mengelola toko milik
keluarga saya yang telah berdiri dari tahun 1992. Adapun usaha toko milik kami
meliputi kebutuhan untuk komoditas pertanian, akan tetapi bukan jual-beli pupuk
atau obat untuk tanaman padi dan sebagainya. Melainkan usaha keluarga saya
adalah toko karung---untuk mengantongi padi ataupun beras---serta terpal untuk
berbagai kebutuhan seperti menutupi barang ataupun kendaraan agar tidak
kehujanan ataupun untuk menjemur padi untuk dikeringkan kemudian di huller atau ditumbuk---bisa melalui
mesin ataupun ditumbuk cara tradisional---untuk kemudian menjadi beras yang
kita makan.
Toko
ini pertama dirintis oleh Ibu dan Ayah saya, dikarenakan waktu itu Ayah
saya----seorang Guru Biologi di salah
satu SMA di Kota Banjar---hanya berpenghasilan kurang dari cukup untuk memenuhi
kebutuhan hidup keluarganya---bisa dibayangkan gaji seorang Guru pada waktu itu
kurang dihargai, berbanding terbalik dengan era sekarang dimana kesejahteraan
Guru begitu diperhatikan---dengan dua anak kembar yang membutuhkan asupan
makanan tetapi dengan gaji kecil tsb. jangankan membeli susu, untuk makan pun
pas-pasan---katanya sih waktu itu saya dan kembaran saya sering dikasih air
gula merah dan nasi merah selain ASI tentunya, untuk memenuhi kebutuhan gizi
kedua anaknya. Sementara itu Ibu saya merupakan Guru Honorer di TK (Baca :
Taman Kanak-kanak) yang gajinya itu hanya cukup untuk jajan dirinya sendiri.
![]() |
| Suasana Pasar Darurat, SEPI PEMBELI |
Dimulai dari segala
keterbatasan tsb. akhirnya orangtua saya berinisiatif untuk memperbaiki nasib
keluarga, jalannya yaitu berniaga. Dan pada saat itu peluangnya yaitu berjualan
karung, karena pada waktu itu Kakek saya---Ayah dari Ibu saya---mempunyai usaha
karung dan beberapa toko di pasar Banjar. Pada waktu itu, ibu saya ditawari
untuk membuka toko karung di toko beliau yang kebetulan tidak ditempati.
Mengenai permasalahan barang untuk dijual, dan gaji pegawai ditanggung oleh
Kakek saya, intinya Ibu dan Ayah saya hanya tinggal mengelola dan mencatat
keluar masuknya barang. Semua itu dilakukan dengan cara disambi, soalnya Ayah
dan Ibu saya masih bekerja di Instansinya masing-masing. Barulah selepas pulang
dari kantor, mereka mengelola usaha keluarga kami. Dan pada tahun 1996, barulah
toko benar-benar dikelola sepenuhnya oleh orangtua saya---terutama ibu, dikarenakan
beliau resign dari instansi beliau
bekerja karena beliau merasa penghasilan dari toko lebih besar dibandingkan
bekerja---mulai dari keluar masuk barang sampai kepada menggaji pegawai pun orangtua
kami mampu dan sudah tidak tergantung kepada Kakek saya. Tandanya kesejahteraan
keluarga kami meningkat, terbukti dengan bisa nya kedua orangtua saya beribadah
haji pada tahun 2000, memperbaiki rumah---yang sebelumnya jauh dari kata layak---,
mempunyai kendaraan yang lebih layak (baca : mobil) pada tahun 1998---sebelumnya
kendaraan keluarga kami Vespa tahun 1980---, intinya keluarga kami jauh lebih
sejahtera daripada sebelumnya. Dan pada tahun 1999, Ibu saya diangkat menjadi
PNS di salah satu SMP di Kota Banjar tetapi toko masih tetap berjalan dan
dikelola setelah Ibu dan Ayah saya pulang dari kantor, keadaan ini berlanjut
sampai saya lulus kuliah.
Kembali
ke masa setelah saya lulus kuliah, pada bulan Desember 2011 setelah lulus saya
langsung dipercaya mengelola toko. Kondisi toko waktu itu dalam kondisi yang
menurut orangtua saya toko berada dalam kondisi hampir collapse, karena sebelumnya pada awal tahun 2010 pasar banjar di
renovasi dan akhirnya pedagang di relokasi ke pasar sementara yang kondisinya
jauh dari kata layak, dengan bangunan yang hanya berukuran 2x3 meter serta
keadaan pasar yang sepi pembeli jauh berbeda bila dibandingkan dengan pasar
sebelum di relokasi. Bayangkan saja dalam sehari toko kami hanya mampu menjual
1-5 lembar karung dalam sehari yang harganya berkisar dari Rp. 800,- s.d Rp.
4.000,-, keuntungannya pun tidak mampu untuk menutupi ongkos makan pegawai kami
yang di upah Rp. 10.000,- per hari nya belum termasuk uang gaji bulanannya.
Pedagang lain di pasar sementara pun mengalami nasib serupa, barang dagangannya
banyak yang tidak laku terjual, bahkan sampai ada tukang pakaian yang terpaksa berjualan
gorengan, kopi, makanan dan minuman ringan sebagai alternatif demi menutupi
kebutuhan hidup sehari-hari. Dikarenakan pendapatan dari usaha utamanya tidak
dapat diandalkan, bahkan dalam sehari pakaian yang dijualnya pun tidak keluar
satu potong pun. Juga ada seorang tukang sayur, yang karena barang dagangannya
tidak laku----sayur dalam sehari cepat busuk dan kerugiannya pun lumayan besar
dalam sehari bisa sampai Rp. 10 juta----beralih profesi menjadi seorang sopir.
Sungguh krisis menimpa semua pedagang di pasar sementara. Sementara menurut
saya itu merupakan tantangan tersendiri, supaya saya lebih dituntut berpikir
untuk mencari solusi dari permasalahan yang menimpa kondisi pasar sementara
ini.
![]() |
| Sarjana Karung |
Saya
pun mencoba berdiskusi dan mencoba menganalisis latar belakang permasalahannya
dengan orangtua saya mengenai permasalahan ini, apakah mungkin dari cara
pengelolaan dan pelayanan yang salah karena selama ini toko pengelolaannya
diserahkan kepada pegawai yang hanya lulusan SD (Baca : Sekolah Dasar). Ataukah
mungkin dari segi pengadaan barang ada yang tidak komplit sehingga pembeli
tidak tertarik untuk sekedar melihat-lihat, juga mungkin karena posisi yang
kurang strategis. Setelah berdikusi dengan Ayah serta Kembaran saya akhirnya
kami mengambil kesimpulan, yang menjadi penyebab utama dari permasalahan yang
menimpa toko kami adalah dari segi pengelolaan dikarenakan orangtua saya tidak
bisa selalu standby di toko----dikarenakan Ayah dan Ibu saya harus
mengajar di Sekolah----sehingga pelayanan terhadap pelanggan pun menjadi kurang
maksimal. Baik dari segi keramahan, komunikasi dan penjelasan mengenai detail
barang yang dijual, serta kurang adanya sense
of belong (baca : rasa memiliki) terhadap toko sehingga pengelolaan toko
kurang maksimal, dan menurut saya wajar saja karena toko kami diamanatkan
kepada pegawai kami dan dalam bekerja pun dia hanya sekedar bekerja, maksudnya
asal menerima uang gaji tanpa mempunyai rasa tanggung jawab untuk memajukan
toko yang sudah kami amanatkan.
![]() |
| Kutipan dari Buku karya Billy Boen (2) |
Dari
situ diambillah kesimpulan, bahwa saya harus menyelamatkan asset utama keluarga saya yaitu dengan cara dikelola langsung oleh
saya----sambil menunggu kakak saya lulus----, awalnya dalam hati saya merasa
terlalu berat dengan tanggung jawab yang saya emban karena pada waktu itu saya
sebetulnya belum ingin terjun langsung untuk berniaga, tetapi rencana awal saya
sebetulnya adalah mencari pengalaman terlebih dahulu di perusahaan di kota
besar barulah saya ingin memulai usaha saya sendiri. Well, manusia boleh berencana tapi Tuhan punya kehendak lain.
Akhirnya setelah beberapa kali saya gagal dalam tes pekerjaan, saya pun diplot
untuk berkonsentrasi di toko. Jadilah saya mengelola toko, satu sampai dua
bulan pertama begitu pedih yang saya rasakan dikarenakan seperti yang tadi saya
bilang ; paling barang yang terjual hanya 1-10 lembar, terkadang kalau sedang
beruntung terjual terpal yang keuntungannya sedikit lebih besar daripada
menjual karung sehingga saya baru bisa jajan. Untuk uang makan pegawai pun
terkadang kurang, belum lagi saya yang kadang harus membeli rokok untuk
membuang rasa jenuh. Dan untuk memenuhi kebutuhan saya sendiri pun terkadang saya
mengeluarkan dari uang tabungan saya karena praktis setelah lulus saya tidak
mendapatkan uang bulanan seperti ketika masih kuliah. Sungguh masa sulit ketika
itu, dimana istilah “mengetatkan ikat pinggang” benar-benar saya pakai ketika
itu. Yang biasanya merokok sehari sebungkus, pada waktu itu paling jadi dua
batang. Yang biasa pagi-pagi minum kopi, ketika itu jadi air putih. Yang
pagi-pagi biasanya sarapan diluar, ketika itu saya bawa bekal dari rumah.
Terkadang saya meratap ; “kok nasib sarjana begini amat ya..” Haha… dan coba
membandingkannya dengan teman-teman saya yang setelah lulus langsung bekerja,
tapi saya coba singkirkan kembali pikiran negatif seperti itu dan mencoba untuk
berpikir ulang ; “orangtua saya menyekolahkan supaya saya bisa membantu mereka,
bukan hanya untuk membantu diri saya sendiri (baca : egois)”.
Situasi
seperti itu saya alami selama dua bulan, tepatnya dari bulan desember----setelah
saya lulus----sampai pertengahan februari. Terkadang sambil menjaga toko yang
pembelinya tidak kunjung datang, saya sempatkan setiap harinya untuk shalat
dhuha meminta pertolongan Tuhan untuk menurunkan dan mengeluarkan rejekinya
untuk saya. Tak jarang saya pun berdoa : “kalau memang takdir saya berniaga dan
bukan menjadi pegawai, Tuhan tolong tunjukkan kekuasaan-MU, berilah saya
kesabaran dan saya akan ridho menjalankan semua ini”. Sekali waktu saya buka
Terjemahan Al-Quran, saya menemukan beberapa potongan ayat sebagai pelipur lara
kesulitan yang saya alami, diantaranya :
Fainnama'al yusri yusroo.. Inna ma'al yusri yusro
(Artinya : Maka sesungguh nya
setelah kesulitan ada kemudahan,
sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan. ; Q.S. Ash-Sharh : 5-6).
“Innallaha Ma’as Shabirin” (Artinya
“Sesungguhnya Tuhan bersama Orang-orang yang sabar”)
“Laa
Tahzan Innallaa Ma’ana (Artinya : “Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama
kita”)
Memang benar sekali
saya percaya (baca : iman) akan hal itu selain karena saya orang beriman dan
tentunya setelah saya alami sendiri. Setelah melewati dua bulan----yang menurut
saya neraka----akhirnya sampailah ketika dimana toko mulai ramai pembeli,
selain dikarenakan musim panen padi, barang di toko kami lebih komplit ditambah
dengan pelayanan yang kali ini langsung saya dan Kakak saya tangani serta
dibantu dengan doa dari kedua orangtua kami, termasuk kami berdua. Akhirnya
toko ramai pembeli, barang yang menumpuk selama hampir setahun pun sedikit demi
sedikit mulai terjual. Hampir tiap hari omset toko kami tidak kurang dari Rp. 5
juta. Alhamdulillah… berkah yang sungguh tidak pernah saya duga sebelumnya.
![]() |
| Usaha Kami masuk Koran PRIANGAN |
Tiba
saatnya pada akhir bulan April, pedagang pasar sementara di Kota Banjar mulai
direlokasi kembali ke area pasar lama----yang sebelumnya direnovasi----yang
kini telah rampung pengerjaannya. Dengan kondisi yang lebih bersih karena
lantainya dikeramik serta pintunya diganti menjadi rolling door, jadilah pasar
tradisional Kota Banjar menjadi pasar modern. Akhirnya toko kami pindah ke area
pasar lama, dengan harapan ; “semoga kembalinya kami di area pasar lama ini dan
setelah di relokasi pendapatan kami menjadi lebih baik”. Ya (lagi-lagi) manusia
hanya bisa mengira-ngira, tetap Tuhan yang punya rencana. Saya pun diuji
kembali sama seperti ketika awal-awal saya mengelola toko, disini pun untuk
satu sampai dua bulan pertama toko mengalami gangguan yaitu sepi pembeli. Ayah
saya pun memberitahu bahwa dengan pindahnya kembali kami ke area pasar lama
yang sudah selesai direnovasi, toko kami pun ibarat kembali dirintis dari nol.
Karena pembeli yang sebelumnya sudah menjadi langganan kami pun pasti masih
mencari letak dimana keberadaan toko kami, dan memang benar adanya setelah
selang dua-tiga bulan kami lewati pelanggan pun berdatangan kembali diikuti
dengan beberapa pelanggan baru.
![]() |
| Suasana Pasar Banjar yang baru, masih sepi pembeli |
Alhamdulillah…
semakin hari semakin ada peningkatan, apalagi setelah kakak---kembaran---saya
lulus pada bulan Juni tepatnya dan setelah kami kelola toko bersama-sama
pendapatan toko kami pun semakin stabil, jauh berbeda bila dibandingkan dengan
pendapatan toko kami ketika dikelola oleh pegawai kami pada tahun-tahun
sebelumnya. Orangtua kami mempunyai dua lapak di pasar banjar, yang keduanya
berbeda blok. Saya diserahi untuk mengelola toko yang berada di blok pedagang
beras, obat untuk tanaman padi dan sayuran serta karung. Sementara kakak saya
diserahi toko di blok pedagang sayur untuk dikelola, keduanya sama yaitu
berjualan terpal dan karung. Alhamdulillah setelahnya kakak saya lulus, saya
jadi punya teman untuk berdiskusi mengenai permasalahan bisnis yang kami
geluti. Tidak jarang pula kami berdua saling bercerita dan berbagi mengenai
kehidupan pribadi kami, sungguh saya rasakan kakak saya bukan hanya sebatas
teman didalam kandungan, tetapi juga teman dalam kehidupan. Terimakasih Tuhan
telah kau berikan nikmat serta kekuatan kepada saya dan keluarga saya untuk
melewati setiap ujian hidup yang telah engkau berikan. Saya masih ingin
bercerita mengenai kehidupan saya bersama orang-orang di lingkungan pasar, tetapi
untuk cerita itu nanti akan saya ceritakan di bagian berikutnya.
Sarjana
Pasar
Mungkin
pada umumnya di kota ini malah mungkin di negeri ini gelar Sarjana itu identik
dengan pekerjaan di kantor, berstelan kemeja dengan celana bahan dan sepatu
formal, berdiam di ruangan AC dan dipenuhi dokumen laporan, duduk di kursi
nyaman dengan ditemani Notebook
sambil mengetik laporan atau apapun yang berhubungan dengan suasana kantor. Nah
apa yang saya alami jauh berbeda dengan kondisi itu, saya bekerja tidak di
kantor tetapi di toko, saya berstelan T-shirt
dengan celana Jeans belel dan
sandal jepit, saya berada di ruangan terbuka---yang langsung berhubungan dengan
terik panas mentari---bukan di ruangan ber-AC dan ruangan itu dipenuhi barang
seperti digudang, saya duduk di kursi kayu dengan ditemani buku catatan barang
dan hasil penjualan bukan dengan Notebook.
![]() |
| Saya di toko dengan Koran sbg Referensi |
Itulah kondisi selama
saya menyibukkan diri untuk mencari rejeki di pasar, jauh dari kesan mewah dan
wah. Terkadang ejekan atau cemoohan saya
terima, tapi saya mencoba untuk tak mengindahkannya karena menurut saya tidak
terlalu penting untuk saya tanggapi. Terlalu banyak waktu dan tenaga yang
terbuang percuma hanya untuk menanggapi orang-orang seperti itu, saya selalu
berpikir : “Biarlah saya fokus pada urusan saya sendiri. Silahkan orang lain
tidak menyukai atau memandang remeh pekerjaan saya, asal saya tetap menyukai
pekerjaan saya dan tidak memandang remeh pekerjaan saya. Silahkan orang lain
tidak menyukai saya, karena pada dasarnya saya tidak bisa membuat semua orang
menyukai saya”.
Pernah
suatu hari ketika saya sedang duduk di depan toko sambil menunggui pembeli,
saya diajak berbincang oleh salah satu kuli panggul di sana. Berikut petikan
pembicaraannya :
Kuli :
De, gimana kuliah udah beres?
Saya :
Alhamdulillah sudah beres mang. Hehe..
Kuli :
Kok udah lulus disini (maksudnya pasar)? kayaknya belum lulus ya kamu, soalnya
kalo udah lulus mah kerjanya pasti dikantoran?
Saya :
Masa saya mesti bawa-bawa Ijazah saya terus saya tempel di tembok toko biar orang-orang
tau kalo saya udah lulus mang, nanti saya dikira sombong atau apa lho. Hehehe..
Emang gak boleh ya mang kalo Sarjana di pasar?
Kuli :
Boleh aja sih, tapi ya kalo di pasar sama ngurus toko begini mah lulusan SMP jg
bisa de. Harusnya Sarjana ya ngurusnya perusahaan besar.
Saya :
(Sambil tersenyum) ini juga sama kok mang perusahaan, bedanya perusahaan ini
masih kecil tapi saya pengen buat jadi besar. (sambil masuk ke dalam toko
karena saya ingin menghindari perdebatan)
![]() |
| Kuli Panggul dan Tukang Parkir |
Ya
begitulah nasib seorang Sarjana yang diluar kebiasaan kalo meminjam bahasa jawa
mah ORA UMUM, kadang jadi bahan
ejekan karena pekerjaannya penuh dengan debu. Ya nasib jualan karung ya begini,
gak bisa jadi orang bersih karena saya selalu bersentuhan dengan berbagai macam
karung. Masih mending untuk karung baru macam karung beras, karung gabah
ataupun terpal yang dikirim langsung dari pabrik masih bersih karena belum
bersentuhan dengan apapun, tetapi toko saya kan bukan hanya menjual karung baru
saja, melainkan juga menjual karung bekas macam karung bekas pakan ayam yang
luar biasa berdebu karena masih ada sisa pakan ayamnya, terus juga karung gula
bekas yang lengket luar biasa ditangan.
Resiko berjualan
karung selalu berdekatan dengan debu, tetapi karena saya dari kecil di didik
untuk tidak menjadi orang yang mudah merasa jijik dengan apapun maka saya pun
sudah terbiasa. Mungkin di benak orang lain barang sepele begini apalagi karung
bekas mungkin hanyalah sekedar onggokan sampah, tetapi bagi saya barang ini
adalah harta karun yang ada nilainya karena bisa dijual dengan keuntungan yang
sebenarnya cukup lumayan. Dari barang-barang yang bisa dikatakan sampah inilah
keluarga saya bisa hidup, keluarga saya bisa sejahtera, orangtua saya bisa
menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang Perguruan Tinggi, orangtua saya bisa
beribadah Haji, dll. Kalau orang lain mengatakan saya menjual barang sampah,
terus kenapa pencapaian keluarga saya bisa lebih dari mereka yang hanya sekedar
berbicara, yang hanya sekedar mengandalkan gengsi, yang hanya sekedar ingin
pakaiannya bersih? Kalau memang keluarga saya menjual barang yang menurut
mereka tidak ada nilainya, mengapa keluarga saya bisa melebihi pencapaian
daripada yang hanya sekedar berbicara. Nah disitulah, antara sampah dan harta
itu kadang tipis sekali perbedaannya tergantung seseorang itu melihatnya, saya
ambil contoh ; seseorang (katakan Si A) mempunyai barang yaitu perhiasan berupa
kalung dan gelang emas, sedangkan seorang lainnya (katakan Si B) hanya
mempunyai barang yaitu berupa onggokan Plastik sampah bekas kantong makanan
atau minuman. Si A menganggap perhiasan itu merupakan hartanya dan karena
terlalu sayangnya terhadap perhiasannya maka dia hanya mengenakannya dan tidak
punya pikiran untuk menjualnya walaupun dia dalam keadaan terdesak. Sementara
si B karena dia hanya mempunyai plastik bekas makanan atau minuman sebagai
hartanya, maka dia pun menjual plastik-plastik bekas makanan dan minuman itu ke
tukang rongsok untuk menyambung hidupnya. Dia pun berpikiran kenapa saya tidak
mencoba mengumpulkan kembali plastik-plastik itu, toh plastik-plastik bekas itu
mudah didapatkan dimana-mana. Walhasil si B pun menjadi pengumpul
plastik-plastik untuk dijual kembali dan mendapatkan nilai tambah dari barang
yang menurut anggapan oranglain hanya sekedar sampah, sementara Si A hanya bisa
memamerkan perhiasannya saja tanpa mau menjualnya karena Si A beranggapan bahwa
perhiasannya terlalu berharga untuk dijual. Nah jadi yang mana harta, apakah
sampah atau perhiasan?? Tipis sekali bukan perbedaannya. Disini jelas sekali
bukan, harta jadi sampah sementara sampah jadi harta. Silahkan simpulkan
sendiri.
![]() |
| Salah satu contoh barang yang saya jual |
Saya berkeyakinan,
setiap pekerjaan yang dilakukan secara continue
hasilnya akan lebih baik dan lebih besar hasilnya dibandingkan dengan pekerjaan
yang dilakukan secara asal-asalan dan kurang sabaran. Contohnya saja dalam
penulisan skripsi, dimana sebetulnya ada makna dalam penulisan skripsi itu
dimana kita membutuhkan kesabaran dan ketelitian ekstra untuk penggarapan skripsi.
Dimulai dari penelitian, kemudian menulisnya menjadi sebuah tulisan yang merangkum
hasil penelitian kita akan tetapi masih saja direvisi oleh Dosen pembimbing
kita. Disinilah sebetulnya mental kita diuji, agar kita bisa menjadi lebih
sabar dan lebih teliti dalam mengerjakan sesuatu. Pernah suatu ketika dulu saya
kurang sabaran dalam menulis skripsi dan saya terburu-buru dalam pengerjaannya
karena saya ingin cepat-cepat selesai, saya malah mendapatkan teguran keras
dari Dosen pembimbing saya karena dalam tulisan saya banyak terdapat kesalahan.
Dan parahnya lagi saya tidak teliti ketika saya meng-copy paste tulisan skripsi orang lain sehingga ketahuan oleh dosen bahwa saya menjiplak. Hahaha… Ada baiknya jangan ditiru.. Nah dari
kejadian itu, saya mencoba mengambil hikmah. Saya mencoba untuk mengendalikan
emosi saya untuk tidak terburu-buru, untuk bisa lebih sabar, untuk bisa lebih
teliti dan yang paling penting untuk tidak terpengaruh oleh pencapaian orang
lain. Dan Alhamdulillah saya pun bisa
lulus tepat 4 tahun dengan nilai skripsi yang “Sangat Memuaskan”. Tidak pernah
terbayang sebelumnya saya mampu menulis sebuah tulisan sampai 110 halaman, dan
itulah bukti kesabaran dan ketelitian saya selama proses pengerjaan skripsi
hingga sampai saya menyelesaikan studi saya.
Dari proses
pengerjaan skripsi tadi, saya pun menarik kesimpulan ; bahwa dalam berusaha pun
kita harus selalu continue, harus
sabar dan teliti. Seberapa lamanya kita meraih kesuksesan tergantung sejauh
mana batas kesabaran kita, selama kita masih mampu berusaha
Sebagai seorang
Sarjana saya tidak merasa malu dengan pekerjaan yang saya lakoni, saya tidak
merasa minder walaupun dengan pekerjaan yang penuh debu, maap ralat saya
terkadang hanya merasa minder kalau saya sedang mendekati perempuan dan
menjelaskan mengenai pekerjaan saya sebagai seorang penjual karung. Karena
dewasa ini umumnya perempuan zaman sekarang lebih suka dengan Executive muda yang berpakaian rapi,
berseragam dan bekerja di kantor, sementara saya berkebalikannya. Tapi
saya selalu mencoba untuk jujur apa adanya dengan apa yang ada pada diri saya,
karena saya yakin suatu hari nanti saya juga akan mendapatkan jodoh yang mampu
menerima saya. Hahaha…
Ok… Mungkin itu saja dulu yang saya bisa tuliskan, untuk lebih lanjutnya
nanti akan saya tuliskan lagi ditulisan saya yang berikutnya. Semoga bermanfaat dan pembaca dapat mengambil hikmah dari pengalaman saya. Salam sukses
Best Regards
Lananda Pelucida, S.E











No comments:
Post a Comment