Thursday, 14 March 2013

2012




           Setelah dua bulan saya menulis catatan ini, akhirnya pada akhir bulan februari rampung sudah catatan saya selama tahun 2012. Disini mungkin hanya sedikit dari sekian banyak kejadian yang saya alami yang bisa saya bagi melalui blog saya ini, sebenarnya banyak hal yang mempunyai kesan mendalam bagi saya seperti masalah relationship saya. Akan tetapi biarlah itu menjadi rahasia dalam kehidupan saya.
        Selamat membaca… semoga anda mendapatkan hikmah dari perjalanan saya di muka bumi selama setahun penuh.


Prolog

        2012 sebuah tahun yang menurut segelintir orang di dunia ini mempercayainya merupakan Tahun akan terjadinya Kiamat yang diprediksi akan terjadi pada akhir tahun ini. Tetapi mohon maaf, disini saya tidak akan membahas mengenai fenomena yang sepanjang tahun menjadi topik pembicaraan semua orang hampir diseantero dunia. Dalam catatan ini saya ingin menulis mengenai beberapa kejadian dalam tahun 2012 yang telah saya alami, dengan berbagai kejadian yang semuanya atau mungkin sebagian akan saya tuangkan dalam tulisan saya kali ini.
        Tahun 2012 saya awali pergantian dengan berdiam diri di rumah, yah masih seperti kebiasaan sewaktu saya masih menempuh pendidikan, di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Kota Purwokerto. Saya selalu merasa lebih baik berdiam diri di rumah atau dikosan dan merenung di dalam kamar---karena memang saya bukan tipe Pria yang suka keramaian---sambil sesekali mengingat peristiwa-peristiwa yang telah berlalu sambil mencoba membuat beberapa resolusi untuk menentukan langkah-langkah yang akan saya ambil di masa depan.
        Di awal tahun ini---Januari---saya masih dalam suasana euforia karena saya telah menyelesaikan pendidikan Sarjana dalam waktu tepat 4 tahun (dari tahun 2007 s.d 2011) dengan predikat nilai ehm… “Sangat Memuaskan”. Haha..

Mencari Pekerjaan
Kutipan dari buku Billy Boen (1)
        Masih di bulan Januari, di bulan ini saya mulai mengikuti tes-tes untuk mendapatkan pekerjaan. Informasi pekerjaan saya dapatkan melalui Internet ataupun Surat Kabar/Koran bahkan terkadang saya mendapatkan info dari beberapa teman kuliah ataupun teman sekolah saya, kemudian beberapa surat lamaran pun saya ajukan baik melalui E-mail, Internet (karena zaman semakin canggih) maupun melalui cara tradisional yaitu melalui Kotak Pos bahkan ada yang langsung saya ajukan ke kantor nya secara langsung. Ada yang dipanggil bahkan terkadang tidak, saya pun pernah beberapa kali mengikuti tes, akan tetapi saya selalu gagal lebih tepatnya di Psychotest. Tapi saya selalu tanamkan dalam benak saya “Tuhan lebih mengetahui apa yang terbaik untuk Hamba-Nya” dan didalam doa saya pun saya selalu meminta “Ya Tuhan berikanlah yang terbaik untuk saya” dan ada satu hal yang membuat saya selalu semangat menjalani setiap tes dan optimis dalam menjalani hari, selain karena support dari orang tua juga karena hadirnya seseorang dalam kehidupan saya.
Pernah suatu ketika pada bulan Februari---tanggal tepatnya saya lupa---saya sudah menyelesaikan tes-tes formal---di salah satu Bank BUMN di Kota kelahiran saya---seperti Interview awal, Psychotest dan Interview akhir. Akan tetapi saya gagal di tahap akhir yaitu di tahap Medical Check Up  (Baca : Tes Kesehatan), dikarenakan saya mengidap sebuah cacat non-fisik yaitu Buta Warna Parsial (Buta Warna yang tidak membedakan sebagian atau beberapa warna seperti Orange, Hijau atau Merah). Padahal saya sudah mengikuti pendidikan hari pertama di sebuah tempat pendidikan yang disediakan oleh BUMN tsb di Kota Bandung dengan kondisi badan saya yang sangat lelah karena saya berangkat mendadak dari rumah tepatnya pukul 2 pagi pada hari sabtu tanggal 3 maret dengan menggunakan kendaraan umum---metromini---yang cukup jauh dari kata nyaman dengan jok yang bolong serta jendela yang tak bisa ditutup, demi mengejar waktu Medical Check Up pada pukul 8 pagi. Tetapi ada untungnya juga saya menumpang metromini itu daripada menaiki bus, karena dengan menaiki metromini itu saya dapat langsung tiba di daerah Terminal Leuwipanjang yang jaraknya cukup dekat dengan Laboratorium daripada menaiki bus yang turun di Terminal Cicaheum yang jaraknya sangat jauh dari tempat diadakannya Tes Kesehatan.
Sesampainya saya di Laboratorium, saya pun langsung menuju WC Laboratorium itu untuk sekedar membasuh muka dan membasahi rambut wajah---saat itu wajah saya sangat kusut dengan rambut yang acak-acakan---serta berganti pakaian dengan yang lebih formal, setelah selesai merapikan penampilan saya pun langsung mendaftar untuk di cek mengenai kesehatan saya. Dimulai dari diambil sample darah dan urine dilanjutkan dengan di rontgen dada, diukur tinggi badan dan berat badan saya tidak menemukan kendala, dan sampailah pada tes terakhir yaitu interview dengan Dokter mengenai riwayat kesehatan saya dengan diajukannya beberapa pertanyaan kepada saya seperti “Merokok atau tidak?, Pernah sakit parah atau tidak, dll.” Dan tibalah saat yang paling saya ingin hindari yaitu tes buta warna. Pada saat diperlihatkan buku itu saya sedikit panik---sebelumnya saya sudah pernah mengikuti tes ini untuk syarat mengikuti SPMB Nasional yang menyatakan saya positif buta warna---karena saya yakin tidak bisa melalui tes itu, dan betul saja ada beberapa huruf atau angka yang tidak bisa saya tebak di buku tes buta warna itu. Saya pun sempat memohon kepada Dokter itu untuk membantu saya lolos pada tes kesehatan karena saya tidak ingin mengecewakan Orangtua saya---terutama Ibu yang sangat berharap saya menjadi pegawai---. Setelah saya menyelesaikan seluruh tahapan tes kesehatan saya pun hendak melanjutkan perjalanan saya selanjutnya ke kantor Outsourcing BUMN yang lumayan jauh jaraknya. Dan Alhamdulillah, Tuhan memberkati saya kembali karena sebelum saya melanjutkan perjalanan, saya bertemu dengan kedua teman yang sama-sama mengikuti tes dari Kota Banjar yaitu Ardi dan Septian---kebetulan keduanya diantar oleh orangtua Ardi yang membawa kendaraan---keduanya mengajak saya pergi bersama ke Kantor Outsourcing BUMN itu untuk menandatangani kontrak kerja, dapat saya bayangkan kalau saya tidak bertemu mereka, saya akan kebingungan mencari kantor Outsourcing itu karena letak kantornya yang cukup terpencil serta jalanan di Kota Bandung yang macet karena hari itu merupakan hari Sabtu atau Weekend yang pastinya digunakan warga Kota Bandung bahkan dari luar kota untuk sekedar mencari hiburan.
 Kemudian sampailah kami di Kantor Oursourcing itu pada pukul setengah 11 siang, dan saya serta rekan saya pun bergegas masuk untuk mengikuti acara penandatanganan kontrak kerja. Disana kami disuruh melengkapi berkas seperti Ijasah untuk kemudian dititipkan di Kantor itu kalau-kalau kami diterima di Lembaga Keuangan tsb., dan yang membuat saya terkejut adalah ketika saya menandatangani berkas kontrak kerja disana. Saya dan peserta lain diberitahu bahwa hasil Medical Checkup akan diumumkan pada hari senin dikarenakan hari ini hari Sabtu dan besoknya Minggu yang biasanya digunakan oleh pegawai untuk berlibur. Jadi semua peserta diharapkan mengikuti pendidikan pada hari pertama untuk menunggu hasil Medical Checkup dari Laboratorium itu. Setelah sesi penandatanganan berkas, saya dan peserta lain pun dikenakan kewajiban untuk membawa peralatan untuk mengikuti pendidikan serta diwajibkan untuk memberikan Pas Photo yang pose-nya harus sesuai dengan Standar Prosedur Lembaga Keuangan itu di studio photo yang jaraknya berjauhan dengan Kantor Outsourcing tsb. Kemudian setelah acara selesai pada pukul 1 siang, kami pun bergegas kembali untuk mencetak photo yang diwajibkan oleh Lembaga Keuangan itu, tetapi sebelumnya saya mengajak kedua rekan saya untuk makan terlebih dahulu dikarenakan saya lemas sekali, karena dari semenjak berangkat perut saya belum terisi makanan apapun bahkan untuk sekadar minum pun tidak. Setelah selesai makan barulah kami mencari studio photo untuk mengambil gambar kami bertiga dengan pose---yang menurut saya agak menggelikan---sesuai standar operasional Bank itu. Kemudian setelah sesi pemotretan selesai kami pun menunggu hasil cetakan photo kami bertiga di studio tersebut, kemudian setelah itu kami pun kembali lagi ke Kantor Outsourcing itu untuk menyerahkan hasil cetakan photo kami yang perjalanannya sangat melelahkan untuk kembali ke Kantor itu karena kondisi macet di sekitar Kota Bandung. Total waktu untuk keseluruhan kegiatan yang dimulai dari keberangkatan saya, dilanjut Tes Kesehatan sampai sesi pengambilan gambar itu ± memakan waktu lebih dari 12 jam, dimana saya merasa sangat kelelahan karena dari semenjak berangkat dari rumah saya belum tidur, karena sebelumnya saya juga mempersiapkan berkas-berkas yang saya anggap penting untuk dibawa ke Kota Bandung. Serba mendadak dikarenakan pemberitahuan melalui sms dari Kantor Outsourcing itu saya terima pada pukul 10 malam---saya hanya membawa baju seadanya dan seperlunya---. Dan akhirnya sampailah kami bertiga di Kosan saudara teman saya---Ardi---yang jauh dari kata layak (baca : Kumuh) dan masuk gang sempit bahkan hanya cukup untuk berjalan satu orang saja---di daerah Geger Kalong---. Sekitar pukul 6 maghrib, saya baru bisa merebahkan badan saya. Momen itu merupakan momen dimana saya merasakan betapa nikmatnya berbaring walaupun hanya diatas kasur butut tanpa bantal, tanpa guling dan tanpa selimut. Kemudian saya bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan Shalat Maghrib, baru setelahnya kemudian saya pun berbaring kembali ke peraduan, tetapi sebelum saya tidur, saya memaksakan diri untuk mencari makan malam walaupun dengan badan yang serasa remuk saya paksakan untuk berjalan, baru setelah itu saya pun kembali ke tempat saya menginap untuk beristirahat. Subhanallah… begitu melelahkannya perjuangan untuk mendapatkan pekerjaan yang belum pernah saya bayangkan prosesnya sewaktu saya masih menempuh pendidikan.
        Esok harinya saya bangun dan bergegas untuk bersiap-siap pergi ke tempat pendidikan Bank itu yang lokasinya berada di daerah pegunungan---di daerah Lembang---. Sampailah saya dan kedua teman saya disana pada pukul 12 siang. Disana suasananya lebih dingin dibandingkan dengan tempat kos teman saya yang berada di daerah Gegerkalong, dan disana kebetulan saya bertemu dengan teman lama saya sekelas sewaktu kuliah yaitu Maradona Hadi yang berasal dari Cirebon. Dia pun sedang mengikuti pendidikan yang diselenggarakan oleh Bank yang sama tetapi dia sudah tinggal beberapa hari lagi untuk menyelesaikan pendidikannya. Setelah berbincang-bincang sebentar dengan Maradona, saya dan kedua teman saya---Ardi dan Septian---melapor ke Pos Satpam bahwa kami akan mengikuti pendidikan disini, kemudian kami pun menandatangani tanda kehadiran peserta yang diberikan Satpam, setelah itu kemudian kami diberi fotocopy-an materi pendidikan untuk kami pelajari serta kunci kamar untuk beristirahat. Akhirnya kami bertiga sampai di kamar kami yang menurut saya sangat jauh sekali kondisinya dengan kosan tempat kami menginap semalam. Disini jauh lebih layak, bahkan fasilitasnya seperti hotel dengan masing-masing orang diberi kasur dengan bantal dan selimut tanpa perlu berbagi serta berdesak-desakan dengan orang lain seperti yang kami alami semalam, sungguh menyesakkan kalau saya ingat kejadian itu.
        Kami pun langsung merebahkan diri di kasur yang empuk, sambil berselimut karena hawa dingin yang lumayan menusuk tulang diselimuti perasaan lega karena akhirnya saya dapat beristirahat dengan nyaman---untuk urusan hasil Medical Checkup belum saya pikirkan saat itu karena saya merasa badan saya sudah cukup lelah---. Setelah saya merasa cukup beristirahat, saya pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan, lagi-lagi saya merasa sangat dimanjakan karena kamar mandinya cukup luas serta di fasilitasi dengan Shower serta Heater sehingga saya tidak perlu repot memanaskan air---lagian saya tidak tahu dapurnya dimana..hihihi--- sehingga saya bisa mandi dengan nyaman---walaupun udara sangat dingin---karena adanya alat pemanas air otomatis, saya pun mandi cukup lama karena saya merasa badan saya sangat kotor. Selesai mandi saya pun bergegas untuk sholat dhuhur, dilanjutkan dengan menyeduh kopi dengan kedua rekan saya sambil berdiskusi ringan mengenai materi pendidikan. Karena kebetulan saya memang dari Fakultas Ekonomi---mungkin mereka menilai saya menguasai materi---, sementara kedua rekan saya Septian berasal dari Fakultas Peternakan dan Ardi berasal dari Fakultas Pendidikan Olahraga yang menurut saya kalau berdasarkan disiplin ilmu tidak cocok bekerja di Bank. Kami pun keasyikan berdiskusi sampai sore hari, karena kami tidak hanya berdiskusi mengenai soal materi pendidikan tetapi sampai keurusan pribadi.
        Setelah selesai berdiskusi kami pun melaksanakan shalat Ashar, sesudah shalat kami pun melanjutkan kegiatan kami untuk mengisi waktu kosong yaitu menonton film. Kebetulan Septian membawa Notebook yang berisi film-film sehingga mampu mengisi kekosongan waktu kami bertiga sambil menunggu hari pertama pendidikan yang akan dimulai esok hari. Pada waktu itu film yang kami bertiga tonton adalah film Indonesia yang bertemakan percintaan---judulnya kalo tidak salah “LOVE”---yang dibintangi oleh Widyawati, (Alm) Sophan Sophian, Laudya Chintya Bella dan Irwansyah. Film ini menceritakan mengenai kisah cinta keempat orang ini tetapi dengan latarbelakang yang berbeda dan ending yang berbeda, dan isinya cukup mengaduk-ngaduk emosi saya---karena saya memang mudah menangis, tapi bukan berarti saya cengeng---terutama ketika adegan yang menceritakan ketika Laudya mengidap penyakit kanker payudara dan Irwansyah shock mengetahui kejadian itu, disitulah adegan dimana kedua pasangan itu diuji mengenai perasaan mereka dan dilemma akan menerima nasib bahwa pasangannya mendapatkan suatu penyakit yang tergolong berat.
        Kembali ke pengalaman saya, untuk filmnya silahkan anda cari sendiri.
       Setelah berakhirnya film itu tepat pada saat adzan Maghrib. Kami pun segera melaksanakan ibadah Shalat Maghrib dilanjut dengan kegiatan makan malam di aula yang telah disediakan oleh panitia pendidikan Lembaga itu, kami merasa benar-benar dimanjakan dikarenakan fasilitas di tempat pendidikan yang benar-benar mewah, bukan hanya dari tempat dan fasilitasnya saja bahkan sampai  ke makanannya pun luar biasa dengan hidangan yang pasti bergizi dan nikmat. Setelah selesai makan malam, kami pun bergegas ke kamar untuk beristirahat kembali. Tetapi sebelum saya kembali ke kamar, saya sempatkan dulu mampir ke kamar Maradona untuk meminjam sepatu kets dan celana training untuk dipakai pada hari pertama yang rencananya akan diisi dengan acara perkenalan dan games. Setelah selesai meminjam perlengkapan, barulah saya kembali ke kamar untuk beristirahat.
        Sampailah pada keesokan harinya, saya terbangun tepat ketika Adzan Shubuh berkumandang. Saya dan kedua teman saya pun melaksanakan Shalat Shubuh, baru setelah itu tidur kembali sampai pukul 6. Hahaha… Tepat pukul 6 kami pun bangun dan bersiap untuk sarapan terlebih dahulu di aula, dikarenakan hari ini pasti akan sangat panjang dan betul sekali hari itu padat sekali dengan jadwal yang telah disusun rapi oleh panitia. Tepat pukul 7 atau setelah kami menyelesaikan sarapan kami dan peserta lain, acara pun dimulai dari perkenalan serta pembagian kaus yang bertuliskan “The Best Frontliner”. Sebetulnya saya risih memakai kaus itu, selain karena ukurannya kekecilan bagi tubuh jangkung saya juga karena tulisan di kaus itu. Karena saya malas kalau harus bekerja untuk melayani orang lain tapi dengan penghasilan yang telah ditetapkan, hati kecil saya memberontak karena sebetulnya saya ingin berwirausaha karena dengan berwirausaha walaupun sama-sama melayani customer tapi penghasilan yang saya dapatkan, saya tentukan sendiri tergantung dari kualitas layanan dan barang/jasa/program yang saya tawarkan kepada customer. Setidaknya itulah anggapan saya, karena sebetulnya saya melamar pekerjaan disini pun atas desakan orangtua saya terutama ibu.
Saya bersama kelompok di tempat pendidikan
        Pada hari itu, seharian kami bermain games yang disediakan oleh panitia diselingi dengan Coffee Break pada pukul 10, kemudian istirahat siang pada pukul 12 yang dipergunakan untuk makan siang serta sholat Dzuhur, dan pukul 3 Coffee Break kembali. Yang lucu pada acara itu, saya diminta menjadi ketua kelompok untuk regu saya---nama tiap regunya diambil dari nama program tabungan di Bank itu sendiri---disana saya memimpin 9 orang, sebagian diantaranya yang saya ingat nama-namanya adalah Redi berasal dari Tasik, Fifin dari Bandung, dan Opiw dari Cirebon---kami sempat bertukar Pin BBM dan Nomor Handphone---. Kami disana membuat yel-yel serta goyangan yang berasal dari lagu Ayu Ting-ting yang berjudul “Sik-asik”, acaranya cukup menarik karena hari pertama hanya diisi dengan acara yang tidak formal dan semuanya serba hiburan. Saya menikmati acara itu dan merasa senang bertemu dengan orang-orang baru sambil bertukar informasi mengenai daerah asal kami, tapi selama acara berlangsung saya tidak sepenuhnya menikmati acara karena tersita dengan ingatan akan nasib saya yang belum pasti diterima atau tidak di Bank itu---takut mengecewakan Ibu saya, karena beliau hampir tiap 2 jam sekali mengirim sms mengenai hasil tes kesehatan saya---.
        Dan tiba saatnya beberapa saat sebelum penutupan acara, dan ketika acara masih berlangsung. Saya mendapatkan telepon dari Kantor Outsourcing yang menyatakan saya tidak lolos Medical Checkup dikarenakan saya menderita Buta Warna Parsial. Memang dari sebelum saya berangkat pun sebetulnya saya tidak terlalu yakin bahwa saya akan diterima bekerja di Bank ini. Yah, akhirnya saya pun menerima dengan lapang dada mungkin ini bukan takdir saya. Saya pun langsung menelepon orangtua saya---terutama ibu yang mengharapkan saya dapat diterima bekerja---,bahwa saya gagal dalam tes kesehatan. Alhamdulillah beliau mengerti dan mencoba memberi dorongan semangat untuk Putranya ini agar tidak menyerah, dan saya pun memberi tahu pacar saya (ehm) bahwa saya gagal di tes kesehatan. Dia pun memberi semangat dan mencoba menghibur saya kalau itu mungkin bukan rezeki saya, sungguh saat itu dukungan dari orang-orang terdekat mampu sedikit menghapus kekecewaan saya karena saya merasa sungguh lelah dengan seluruh proses yang saya tempuh sampai pada tahap akhir, dan ternyata saya gagal.
        Setelah itu kemudian saya pun memberi tahu teman seperjuangan saya---Ardi dan Septian---kalau saya gagal dalam tes kesehatan. Mereka turut prihatin dengan nasib saya, dan saya pun berkata “Itu bukan rejeki saya”. Kemudian setelah acara ditutup dan dibubarkan, saya pun bergegas kembali ke kamar untuk berkemas dan pulang hari itu juga. Entah apa lagi musibah yang menimpa saya setelah gagal di tes kesehatan, sandal saya pun dicuri ketika saya melaksanakan kegiatan.  Alhasil saya pun pulang dengan sandal capit---hasil membeli di warung, padahal saya ketika pergi menggunakan sandal yang ± layak untuk digunakan di acara formal sekalipun. Selesai saya berkemas saya tidak langsung pulang, akan tetapi saya memanfaatkan fasilitas terakhir di mess itu yaitu makan malam gratis. Itung-itung menghemat uang bekal. 
        Kemudian setelah makan malam, saya pun berpamitan kepada rekan-rekan saya di tempat pendidikan. Bahkan sebagian diantara mereka ada yang mengantarkan saya sampai ke halte untuk menunggu kendaraan yang akan membawa saya pulang. Tak lupa saya pun mengucapkan terimakasih kepada mereka untuk momen yang telah terlewatti, dan turut mendoakan mereka sukses dalam karir mereka. Kemudian saya pun menaiki kendaraan umum yang akan membawa saya pulang.
Ketika saya sudah menaiki angkot untuk pulang, saya tidak terburu-buru untuk pulang ke rumah, melainkan saya sempatkan mampir dulu di kosan teman saya---yang saya kenal dari Facebook---. Sesampainya saya di terminal ledeng, saya pun dijemput teman saya dan langsung mengajak saya makan malam di emperan di sekitar daerah Trans Studio Bandung, lumayan cukup untuk membuang rasa capai dan kesal saya karena saya diajak berbincang ringan bahkan dibumbui dengan humor yang membuat saya tertawa terbahak-bahak. Setelah selesai makan malam barulah saya dibawa teman saya ke rumahnya yang berada di daerah turangga untuk beristirahat, karena besok saya harus melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah.
Keesokan harinya saya pun bangun terlalu siang----sekitar jam 11 siang----, dikarenakan saya kecapekan. Saya pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bergegas untuk kemudian bersiap-siap pulang ke rumah, tetapi sebelumnya saya harus ke kantor Outsourcing karena sebelum diumumkannya hasil tes kesehatan, saya menandatangani kontrak kerja disana dan Ijazah saya ditahan untuk kepentingan Bank itu. Beruntung daerah itu tidak terlalu jauh dari kediaman teman saya sehingga saya dapat sedikit menghemat waktu, barulah setelah saya mendapatkan Ijazah saya kembali saya langsung melanjutkan perjalanan ke Terminal Cicaheum untuk pulang, kali ini benar-benar pulang.
Sampailah saya dirumah pada jam 8 malam, karena saya berangkat dari Bandung jam 4 sore. Dan ketika saya buka pintu rumah, saat itu juga saya merasakan perasan lega yang luar biasa setelah 4 hari­­----dari sabtu sampai selasa----saya habiskan waktu di luar kota. Saya cium tangan kedua orangtua saya, dan saya pun melihat raut muka mereka yang sedikit kecewa----karena saya gagal, terutama ibu----tapi tetap memberikan dorongan supaya saya tetap semangat. Ya rumah memang tempat yang nyaman, walaupun terkadang sedikit menjengkelkan.
Itulah sedikit mengenai pengalaman melamar pekerjaan saya, terhitung sejak bulan Desember 2012 saya telah mengikuti berbagai tes pekerjaan sejumlah Perusahaan. Dan beberapa kali saya gagal, dan doa saya pada saat tes terakhir saya setiap selepas Shalat dhuha adalah “Ya Tuhan, berikanlah pekerjaan yang layak untuk saya, pekerjaan yang engkau ridhoi. Tunjukkanlah saya jalan rejeki saya, apabila jalan rejeki saya adalah bekerja maka berikanlah pekerjaan bagi saya. Tapi apabila jalan rejeki saya ada pada perniagaan, maka lancarkanlah usaha saya. Amin..”. Mungkin itu hanya sedikit cerita mengenai perjalanan saya setelah lulus. Untuk selanjutnya saya akan menceritakan mengenai kondisi perdagangan di pasar banjar.

Toko Karung
Toko karung keluarga saya di Pasar Darurat
        Sebetulnya setelah lulus saya tidak pernah menjadi pengangguran, dikarenakan setelah lulus saya langsung mengelola toko milik keluarga saya yang telah berdiri dari tahun 1992. Adapun usaha toko milik kami meliputi kebutuhan untuk komoditas pertanian, akan tetapi bukan jual-beli pupuk atau obat untuk tanaman padi dan sebagainya. Melainkan usaha keluarga saya adalah toko karung---untuk mengantongi padi ataupun beras---serta terpal untuk berbagai kebutuhan seperti menutupi barang ataupun kendaraan agar tidak kehujanan ataupun untuk menjemur padi untuk dikeringkan kemudian di huller atau ditumbuk---bisa melalui mesin ataupun ditumbuk cara tradisional---untuk kemudian menjadi beras yang kita makan.
        Toko ini pertama dirintis oleh Ibu dan Ayah saya, dikarenakan waktu itu Ayah saya----seorang Guru  Biologi di salah satu SMA di Kota Banjar---hanya berpenghasilan kurang dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya---bisa dibayangkan gaji seorang Guru pada waktu itu kurang dihargai, berbanding terbalik dengan era sekarang dimana kesejahteraan Guru begitu diperhatikan---dengan dua anak kembar yang membutuhkan asupan makanan tetapi dengan gaji kecil tsb. jangankan membeli susu, untuk makan pun pas-pasan---katanya sih waktu itu saya dan kembaran saya sering dikasih air gula merah dan nasi merah selain ASI tentunya, untuk memenuhi kebutuhan gizi kedua anaknya. Sementara itu Ibu saya merupakan Guru Honorer di TK (Baca : Taman Kanak-kanak) yang gajinya itu hanya cukup untuk jajan dirinya sendiri.
Suasana Pasar Darurat, SEPI PEMBELI
Dimulai dari segala keterbatasan tsb. akhirnya orangtua saya berinisiatif untuk memperbaiki nasib keluarga, jalannya yaitu berniaga. Dan pada saat itu peluangnya yaitu berjualan karung, karena pada waktu itu Kakek saya---Ayah dari Ibu saya---mempunyai usaha karung dan beberapa toko di pasar Banjar. Pada waktu itu, ibu saya ditawari untuk membuka toko karung di toko beliau yang kebetulan tidak ditempati. Mengenai permasalahan barang untuk dijual, dan gaji pegawai ditanggung oleh Kakek saya, intinya Ibu dan Ayah saya hanya tinggal mengelola dan mencatat keluar masuknya barang. Semua itu dilakukan dengan cara disambi, soalnya Ayah dan Ibu saya masih bekerja di Instansinya masing-masing. Barulah selepas pulang dari kantor, mereka mengelola usaha keluarga kami. Dan pada tahun 1996, barulah toko benar-benar dikelola sepenuhnya oleh orangtua saya---terutama ibu, dikarenakan beliau resign dari instansi beliau bekerja karena beliau merasa penghasilan dari toko lebih besar dibandingkan bekerja---mulai dari keluar masuk barang sampai kepada menggaji pegawai pun orangtua kami mampu dan sudah tidak tergantung kepada Kakek saya. Tandanya kesejahteraan keluarga kami meningkat, terbukti dengan bisa nya kedua orangtua saya beribadah haji pada tahun 2000, memperbaiki rumah---yang sebelumnya jauh dari kata layak---, mempunyai kendaraan yang lebih layak (baca : mobil) pada tahun 1998---sebelumnya kendaraan keluarga kami Vespa tahun 1980---, intinya keluarga kami jauh lebih sejahtera daripada sebelumnya. Dan pada tahun 1999, Ibu saya diangkat menjadi PNS di salah satu SMP di Kota Banjar tetapi toko masih tetap berjalan dan dikelola setelah Ibu dan Ayah saya pulang dari kantor, keadaan ini berlanjut sampai saya lulus kuliah.
        Kembali ke masa setelah saya lulus kuliah, pada bulan Desember 2011 setelah lulus saya langsung dipercaya mengelola toko. Kondisi toko waktu itu dalam kondisi yang menurut orangtua saya toko berada dalam kondisi hampir collapse, karena sebelumnya pada awal tahun 2010 pasar banjar di renovasi dan akhirnya pedagang di relokasi ke pasar sementara yang kondisinya jauh dari kata layak, dengan bangunan yang hanya berukuran 2x3 meter serta keadaan pasar yang sepi pembeli jauh berbeda bila dibandingkan dengan pasar sebelum di relokasi. Bayangkan saja dalam sehari toko kami hanya mampu menjual 1-5 lembar karung dalam sehari yang harganya berkisar dari Rp. 800,- s.d Rp. 4.000,-, keuntungannya pun tidak mampu untuk menutupi ongkos makan pegawai kami yang di upah Rp. 10.000,- per hari nya belum termasuk uang gaji bulanannya. Pedagang lain di pasar sementara pun mengalami nasib serupa, barang dagangannya banyak yang tidak laku terjual, bahkan sampai ada tukang pakaian yang terpaksa berjualan gorengan, kopi, makanan dan minuman ringan sebagai alternatif demi menutupi kebutuhan hidup sehari-hari. Dikarenakan pendapatan dari usaha utamanya tidak dapat diandalkan, bahkan dalam sehari pakaian yang dijualnya pun tidak keluar satu potong pun. Juga ada seorang tukang sayur, yang karena barang dagangannya tidak laku----sayur dalam sehari cepat busuk dan kerugiannya pun lumayan besar dalam sehari bisa sampai Rp. 10 juta----beralih profesi menjadi seorang sopir. Sungguh krisis menimpa semua pedagang di pasar sementara. Sementara menurut saya itu merupakan tantangan tersendiri, supaya saya lebih dituntut berpikir untuk mencari solusi dari permasalahan yang menimpa kondisi pasar sementara ini.
Sarjana Karung
        Saya pun mencoba berdiskusi dan mencoba menganalisis latar belakang permasalahannya dengan orangtua saya mengenai permasalahan ini, apakah mungkin dari cara pengelolaan dan pelayanan yang salah karena selama ini toko pengelolaannya diserahkan kepada pegawai yang hanya lulusan SD (Baca : Sekolah Dasar). Ataukah mungkin dari segi pengadaan barang ada yang tidak komplit sehingga pembeli tidak tertarik untuk sekedar melihat-lihat, juga mungkin karena posisi yang kurang strategis. Setelah berdikusi dengan Ayah serta Kembaran saya akhirnya kami mengambil kesimpulan, yang menjadi penyebab utama dari permasalahan yang menimpa toko kami adalah dari segi pengelolaan dikarenakan orangtua saya tidak bisa selalu standby  di toko----dikarenakan Ayah dan Ibu saya harus mengajar di Sekolah----sehingga pelayanan terhadap pelanggan pun menjadi kurang maksimal. Baik dari segi keramahan, komunikasi dan penjelasan mengenai detail barang yang dijual, serta kurang adanya sense of belong (baca : rasa memiliki) terhadap toko sehingga pengelolaan toko kurang maksimal, dan menurut saya wajar saja karena toko kami diamanatkan kepada pegawai kami dan dalam bekerja pun dia hanya sekedar bekerja, maksudnya asal menerima uang gaji tanpa mempunyai rasa tanggung jawab untuk memajukan toko yang sudah kami amanatkan.
Kutipan dari Buku karya Billy Boen (2)
        Dari situ diambillah kesimpulan, bahwa saya harus menyelamatkan asset utama keluarga saya yaitu dengan cara dikelola langsung oleh saya----sambil menunggu kakak saya lulus----, awalnya dalam hati saya merasa terlalu berat dengan tanggung jawab yang saya emban karena pada waktu itu saya sebetulnya belum ingin terjun langsung untuk berniaga, tetapi rencana awal saya sebetulnya adalah mencari pengalaman terlebih dahulu di perusahaan di kota besar barulah saya ingin memulai usaha saya sendiri. Well, manusia boleh berencana tapi Tuhan punya kehendak lain. Akhirnya setelah beberapa kali saya gagal dalam tes pekerjaan, saya pun diplot untuk berkonsentrasi di toko. Jadilah saya mengelola toko, satu sampai dua bulan pertama begitu pedih yang saya rasakan dikarenakan seperti yang tadi saya bilang ; paling barang yang terjual hanya 1-10 lembar, terkadang kalau sedang beruntung terjual terpal yang keuntungannya sedikit lebih besar daripada menjual karung sehingga saya baru bisa jajan. Untuk uang makan pegawai pun terkadang kurang, belum lagi saya yang kadang harus membeli rokok untuk membuang rasa jenuh. Dan untuk memenuhi kebutuhan saya sendiri pun terkadang saya mengeluarkan dari uang tabungan saya karena praktis setelah lulus saya tidak mendapatkan uang bulanan seperti ketika masih kuliah. Sungguh masa sulit ketika itu, dimana istilah “mengetatkan ikat pinggang” benar-benar saya pakai ketika itu. Yang biasanya merokok sehari sebungkus, pada waktu itu paling jadi dua batang. Yang biasa pagi-pagi minum kopi, ketika itu jadi air putih. Yang pagi-pagi biasanya sarapan diluar, ketika itu saya bawa bekal dari rumah. Terkadang saya meratap ; “kok nasib sarjana begini amat ya..” Haha… dan coba membandingkannya dengan teman-teman saya yang setelah lulus langsung bekerja, tapi saya coba singkirkan kembali pikiran negatif seperti itu dan mencoba untuk berpikir ulang ; “orangtua saya menyekolahkan supaya saya bisa membantu mereka, bukan hanya untuk membantu diri saya sendiri (baca : egois)”.
        Situasi seperti itu saya alami selama dua bulan, tepatnya dari bulan desember----setelah saya lulus----sampai pertengahan februari. Terkadang sambil menjaga toko yang pembelinya tidak kunjung datang, saya sempatkan setiap harinya untuk shalat dhuha meminta pertolongan Tuhan untuk menurunkan dan mengeluarkan rejekinya untuk saya. Tak jarang saya pun berdoa : “kalau memang takdir saya berniaga dan bukan menjadi pegawai, Tuhan tolong tunjukkan kekuasaan-MU, berilah saya kesabaran dan saya akan ridho menjalankan semua ini”. Sekali waktu saya buka Terjemahan Al-Quran, saya menemukan beberapa potongan ayat sebagai pelipur lara kesulitan yang saya alami, diantaranya : 
Fainnama'al yusri yusroo.. Inna ma'al yusri yusro
(Artinya : Maka sesungguh nya setelah  kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan. ; Q.S. Ash-Sharh : 5-6).
Innallaha Ma’as Shabirin” (Artinya “Sesungguhnya Tuhan bersama Orang-orang yang sabar”)
“Laa Tahzan Innallaa Ma’ana (Artinya : “Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”)
Memang benar sekali saya percaya (baca : iman) akan hal itu selain karena saya orang beriman dan tentunya setelah saya alami sendiri. Setelah melewati dua bulan----yang menurut saya neraka----akhirnya sampailah ketika dimana toko mulai ramai pembeli, selain dikarenakan musim panen padi, barang di toko kami lebih komplit ditambah dengan pelayanan yang kali ini langsung saya dan Kakak saya tangani serta dibantu dengan doa dari kedua orangtua kami, termasuk kami berdua. Akhirnya toko ramai pembeli, barang yang menumpuk selama hampir setahun pun sedikit demi sedikit mulai terjual. Hampir tiap hari omset toko kami tidak kurang dari Rp. 5 juta. Alhamdulillah… berkah yang sungguh tidak pernah saya duga sebelumnya.
Usaha Kami masuk Koran PRIANGAN
        Tiba saatnya pada akhir bulan April, pedagang pasar sementara di Kota Banjar mulai direlokasi kembali ke area pasar lama----yang sebelumnya direnovasi----yang kini telah rampung pengerjaannya. Dengan kondisi yang lebih bersih karena lantainya dikeramik serta pintunya diganti menjadi rolling door, jadilah pasar tradisional Kota Banjar menjadi pasar modern. Akhirnya toko kami pindah ke area pasar lama, dengan harapan ; “semoga kembalinya kami di area pasar lama ini dan setelah di relokasi pendapatan kami menjadi lebih baik”. Ya (lagi-lagi) manusia hanya bisa mengira-ngira, tetap Tuhan yang punya rencana. Saya pun diuji kembali sama seperti ketika awal-awal saya mengelola toko, disini pun untuk satu sampai dua bulan pertama toko mengalami gangguan yaitu sepi pembeli. Ayah saya pun memberitahu bahwa dengan pindahnya kembali kami ke area pasar lama yang sudah selesai direnovasi, toko kami pun ibarat kembali dirintis dari nol. Karena pembeli yang sebelumnya sudah menjadi langganan kami pun pasti masih mencari letak dimana keberadaan toko kami, dan memang benar adanya setelah selang dua-tiga bulan kami lewati pelanggan pun berdatangan kembali diikuti dengan beberapa pelanggan baru.
Suasana Pasar Banjar yang baru, masih sepi pembeli
        Alhamdulillah… semakin hari semakin ada peningkatan, apalagi setelah kakak---kembaran---saya lulus pada bulan Juni tepatnya dan setelah kami kelola toko bersama-sama pendapatan toko kami pun semakin stabil, jauh berbeda bila dibandingkan dengan pendapatan toko kami ketika dikelola oleh pegawai kami pada tahun-tahun sebelumnya. Orangtua kami mempunyai dua lapak di pasar banjar, yang keduanya berbeda blok. Saya diserahi untuk mengelola toko yang berada di blok pedagang beras, obat untuk tanaman padi dan sayuran serta karung. Sementara kakak saya diserahi toko di blok pedagang sayur untuk dikelola, keduanya sama yaitu berjualan terpal dan karung. Alhamdulillah setelahnya kakak saya lulus, saya jadi punya teman untuk berdiskusi mengenai permasalahan bisnis yang kami geluti. Tidak jarang pula kami berdua saling bercerita dan berbagi mengenai kehidupan pribadi kami, sungguh saya rasakan kakak saya bukan hanya sebatas teman didalam kandungan, tetapi juga teman dalam kehidupan. Terimakasih Tuhan telah kau berikan nikmat serta kekuatan kepada saya dan keluarga saya untuk melewati setiap ujian hidup yang telah engkau berikan. Saya masih ingin bercerita mengenai kehidupan saya bersama orang-orang di lingkungan pasar, tetapi untuk cerita itu nanti akan saya ceritakan di bagian berikutnya.

Sarjana Pasar

        Mungkin pada umumnya di kota ini malah mungkin di negeri ini gelar Sarjana itu identik dengan pekerjaan di kantor, berstelan kemeja dengan celana bahan dan sepatu formal, berdiam di ruangan AC dan dipenuhi dokumen laporan, duduk di kursi nyaman dengan ditemani Notebook sambil mengetik laporan atau apapun yang berhubungan dengan suasana kantor. Nah apa yang saya alami jauh berbeda dengan kondisi itu, saya bekerja tidak di kantor tetapi di toko, saya berstelan T-shirt dengan celana Jeans belel dan sandal jepit, saya berada di ruangan terbuka---yang langsung berhubungan dengan terik panas mentari---bukan di ruangan ber-AC dan ruangan itu dipenuhi barang seperti digudang, saya duduk di kursi kayu dengan ditemani buku catatan barang dan hasil penjualan bukan dengan Notebook.
Saya di toko dengan Koran sbg Referensi
Itulah kondisi selama saya menyibukkan diri untuk mencari rejeki di pasar, jauh dari kesan mewah dan wah.  Terkadang ejekan atau cemoohan saya terima, tapi saya mencoba untuk tak mengindahkannya karena menurut saya tidak terlalu penting untuk saya tanggapi. Terlalu banyak waktu dan tenaga yang terbuang percuma hanya untuk menanggapi orang-orang seperti itu, saya selalu berpikir : “Biarlah saya fokus pada urusan saya sendiri. Silahkan orang lain tidak menyukai atau memandang remeh pekerjaan saya, asal saya tetap menyukai pekerjaan saya dan tidak memandang remeh pekerjaan saya. Silahkan orang lain tidak menyukai saya, karena pada dasarnya saya tidak bisa membuat semua orang menyukai saya”.
        Pernah suatu hari ketika saya sedang duduk di depan toko sambil menunggui pembeli, saya diajak berbincang oleh salah satu kuli panggul di sana. Berikut petikan pembicaraannya :
Kuli    : De, gimana kuliah udah beres?
Saya   : Alhamdulillah sudah beres mang. Hehe..
Kuli    : Kok udah lulus disini (maksudnya pasar)? kayaknya belum lulus ya kamu, soalnya kalo udah lulus mah kerjanya pasti dikantoran?
Saya   : Masa saya mesti bawa-bawa Ijazah saya terus saya tempel di tembok toko biar orang-orang tau kalo saya udah lulus mang, nanti saya dikira sombong atau apa lho. Hehehe.. Emang gak boleh ya mang kalo Sarjana di pasar?
Kuli    : Boleh aja sih, tapi ya kalo di pasar sama ngurus toko begini mah lulusan SMP jg bisa de. Harusnya Sarjana ya ngurusnya perusahaan besar.
Saya   : (Sambil tersenyum) ini juga sama kok mang perusahaan, bedanya perusahaan ini masih kecil tapi saya pengen buat jadi besar. (sambil masuk ke dalam toko karena saya ingin menghindari perdebatan)
Kuli Panggul dan Tukang Parkir
        Ya begitulah nasib seorang Sarjana yang diluar kebiasaan kalo meminjam bahasa jawa mah ORA UMUM, kadang jadi bahan ejekan karena pekerjaannya penuh dengan debu. Ya nasib jualan karung ya begini, gak bisa jadi orang bersih karena saya selalu bersentuhan dengan berbagai macam karung. Masih mending untuk karung baru macam karung beras, karung gabah ataupun terpal yang dikirim langsung dari pabrik masih bersih karena belum bersentuhan dengan apapun, tetapi toko saya kan bukan hanya menjual karung baru saja, melainkan juga menjual karung bekas macam karung bekas pakan ayam yang luar biasa berdebu karena masih ada sisa pakan ayamnya, terus juga karung gula bekas yang lengket luar biasa ditangan.
Resiko berjualan karung selalu berdekatan dengan debu, tetapi karena saya dari kecil di didik untuk tidak menjadi orang yang mudah merasa jijik dengan apapun maka saya pun sudah terbiasa. Mungkin di benak orang lain barang sepele begini apalagi karung bekas mungkin hanyalah sekedar onggokan sampah, tetapi bagi saya barang ini adalah harta karun yang ada nilainya karena bisa dijual dengan keuntungan yang sebenarnya cukup lumayan. Dari barang-barang yang bisa dikatakan sampah inilah keluarga saya bisa hidup, keluarga saya bisa sejahtera, orangtua saya bisa menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang Perguruan Tinggi, orangtua saya bisa beribadah Haji, dll. Kalau orang lain mengatakan saya menjual barang sampah, terus kenapa pencapaian keluarga saya bisa lebih dari mereka yang hanya sekedar berbicara, yang hanya sekedar mengandalkan gengsi, yang hanya sekedar ingin pakaiannya bersih? Kalau memang keluarga saya menjual barang yang menurut mereka tidak ada nilainya, mengapa keluarga saya bisa melebihi pencapaian daripada yang hanya sekedar berbicara. Nah disitulah, antara sampah dan harta itu kadang tipis sekali perbedaannya tergantung seseorang itu melihatnya, saya ambil contoh ; seseorang (katakan Si A) mempunyai barang yaitu perhiasan berupa kalung dan gelang emas, sedangkan seorang lainnya (katakan Si B) hanya mempunyai barang yaitu berupa onggokan Plastik sampah bekas kantong makanan atau minuman. Si A menganggap perhiasan itu merupakan hartanya dan karena terlalu sayangnya terhadap perhiasannya maka dia hanya mengenakannya dan tidak punya pikiran untuk menjualnya walaupun dia dalam keadaan terdesak. Sementara si B karena dia hanya mempunyai plastik bekas makanan atau minuman sebagai hartanya, maka dia pun menjual plastik-plastik bekas makanan dan minuman itu ke tukang rongsok untuk menyambung hidupnya. Dia pun berpikiran kenapa saya tidak mencoba mengumpulkan kembali plastik-plastik itu, toh plastik-plastik bekas itu mudah didapatkan dimana-mana. Walhasil si B pun menjadi pengumpul plastik-plastik untuk dijual kembali dan mendapatkan nilai tambah dari barang yang menurut anggapan oranglain hanya sekedar sampah, sementara Si A hanya bisa memamerkan perhiasannya saja tanpa mau menjualnya karena Si A beranggapan bahwa perhiasannya terlalu berharga untuk dijual. Nah jadi yang mana harta, apakah sampah atau perhiasan?? Tipis sekali bukan perbedaannya. Disini jelas sekali bukan, harta jadi sampah sementara sampah jadi harta. Silahkan simpulkan sendiri.
Salah satu contoh barang yang saya jual
Saya berkeyakinan, setiap pekerjaan yang dilakukan secara continue hasilnya akan lebih baik dan lebih besar hasilnya dibandingkan dengan pekerjaan yang dilakukan secara asal-asalan dan kurang sabaran. Contohnya saja dalam penulisan skripsi, dimana sebetulnya ada makna dalam penulisan skripsi itu dimana kita membutuhkan kesabaran dan ketelitian ekstra untuk penggarapan skripsi. Dimulai dari penelitian, kemudian menulisnya menjadi sebuah tulisan yang merangkum hasil penelitian kita akan tetapi masih saja direvisi oleh Dosen pembimbing kita. Disinilah sebetulnya mental kita diuji, agar kita bisa menjadi lebih sabar dan lebih teliti dalam mengerjakan sesuatu. Pernah suatu ketika dulu saya kurang sabaran dalam menulis skripsi dan saya terburu-buru dalam pengerjaannya karena saya ingin cepat-cepat selesai, saya malah mendapatkan teguran keras dari Dosen pembimbing saya karena dalam tulisan saya banyak terdapat kesalahan. Dan parahnya lagi saya tidak teliti ketika saya meng-copy paste tulisan skripsi orang lain sehingga ketahuan oleh dosen bahwa saya menjiplak. Hahaha… Ada baiknya jangan ditiru.. Nah dari kejadian itu, saya mencoba mengambil hikmah. Saya mencoba untuk mengendalikan emosi saya untuk tidak terburu-buru, untuk bisa lebih sabar, untuk bisa lebih teliti dan yang paling penting untuk tidak terpengaruh oleh pencapaian orang lain. Dan Alhamdulillah saya pun bisa lulus tepat 4 tahun dengan nilai skripsi yang “Sangat Memuaskan”. Tidak pernah terbayang sebelumnya saya mampu menulis sebuah tulisan sampai 110 halaman, dan itulah bukti kesabaran dan ketelitian saya selama proses pengerjaan skripsi hingga sampai saya menyelesaikan studi saya.
Dari proses pengerjaan skripsi tadi, saya pun menarik kesimpulan ; bahwa dalam berusaha pun kita harus selalu continue, harus sabar dan teliti. Seberapa lamanya kita meraih kesuksesan tergantung sejauh mana batas kesabaran kita, selama kita masih mampu berusaha
Sebagai seorang Sarjana saya tidak merasa malu dengan pekerjaan yang saya lakoni, saya tidak merasa minder walaupun dengan pekerjaan yang penuh debu, maap ralat saya terkadang hanya merasa minder kalau saya sedang mendekati perempuan dan menjelaskan mengenai pekerjaan saya sebagai seorang penjual karung. Karena dewasa ini umumnya perempuan zaman sekarang lebih suka dengan Executive muda yang berpakaian rapi, berseragam dan bekerja di kantor, sementara saya berkebalikannya. Tapi saya selalu mencoba untuk jujur apa adanya dengan apa yang ada pada diri saya, karena saya yakin suatu hari nanti saya juga akan mendapatkan jodoh yang mampu menerima saya. Hahaha…
        Ok… Mungkin itu saja dulu yang saya bisa tuliskan, untuk lebih lanjutnya nanti akan saya tuliskan lagi ditulisan saya yang berikutnya. Semoga bermanfaat dan pembaca dapat mengambil hikmah dari pengalaman saya. Salam sukses


Best Regards


Lananda Pelucida, S.E

No comments:

Post a Comment