Sunday, 8 May 2016

Ketika Tuhan Memberikan Agama kepada Manusia

Diceritakan di sebuah padepokan, terjadilah pembicaraan antara murid dan guru. Hingga sampailah sang murid bertanya kepada gurunya:
"Wahai Guru, kenapa agama diberikan kepada manusia? Bukan kepada makhluk-makhluk lain?"
Sang Guru hanya tersenyum. "Jadi itu yang menjadi pertanyaan dalam kalbumu?"
"Betul Guru, itulah yang menjadi ganjalan dalam kalbu muridmu ini. Mohon dijawab, supaya menjadi lebih jelas".
"Baiklah, untuk menjelaskannya. Kita perlu mengetahui arti dari agama itu sendiri".
Arti agama menurut bahasa sansakerta [a = tidak; gama = kacau] artinya tidak kacau; atau adanya keteraturan dan peraturan untuk mencapai arah atau tujuan tertentu. Religio [dari religere, Latin] artinya mengembalikan ikatan, memperhatikan dengan saksama; jadi agama adalah tindakan manusia untuk mengembalikan ikatan atau memulihkan hubungannya dengan Ilahi.
"Jadi agama itu singkatnya adalah tidak kacau. Maka ketika seseorang sudah memeluk agama, orang itu tidak berbuat kacau yang dapat merugikan masyarakat."
Si murid belum puas, dan dia pun kembali bertanya. "Lantas apalagi yang membuat Tuhan memberikan agama kepada manusia?"
Sang Guru kembali tersenyum. Kemudian menyebutkan salah satu ayat Quran:
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. (QS. Al Isra’ : 70)
"Itulah yang membuat manusia diberikan agama oleh Tuhan, karena manusia itu makhluk sempurna. Bukan hanya akal, pikir dan budinya saja yang sempurna, tapi kejahatan yang dilakukannya pun sempurna?".
"Memang ada kejahatan yang sempurna dari manusia wahai guru?". Si murid kembali bertanya.
gambar via http://warungsatekamu.org
"Banyak sekali kejahatan manusia yang sempurna, akan saya contohkan. Misal, ada seekor kambing yang mencuri daun singkong di halaman rumah manusia. Si kambing pasti hanya memakan daun singkongnya, karena dia hanya suka daunnya saja. Coba manusia, bukan hanya daun singkongnya saja yang dimakan, singkongnya juga dimakan, tanamannya dirusak. Malah kalau manusia punya niat lebih jahat, rumah pemilik kebun singkongnya pun dirampok, pemilik rumahnya pun dibunuh. Jadi, bukan hanya fisik, akal dan budi pekertinya saja yang sempurna, tapi kejahatan manusia pun sempurna. Itulah kenapa Tuhan memberikan agama kepada manusia, paham?". Sang guru menjawab.
"Paham guru".
"Saya contohkan kembali, Singa disebut sebagai Raja Hutan. Tapi sejahat-jahatnya singa, dia hanya memakan daging. Coba manusia, bukan hanya daging penghuni hutannya saja yang diburu dan dimakan, tapi juga pohonnya ditebang dan dibakar, malah tempat penghuni hutannya pun dirampas. Jadi manusia itu bukan hanya akal dan akhlaknya saja yang sempurna, tapi kejahatannya juga lebih sempurna daripada binatang". Sang Guru pun tersenyum.
Si murid pun bersimpuh sembari mengucapkan: "Terima kasih Guru, saya sekarang menjadi paham kenapa Tuhan memberikan agama kepada manusia, supaya manusia tidak berbuat kacau dan bertindak sesuai hawa nafsunya".
Semoga kita menjadi manusia yang beragama dengan ikhlas sesuai dengan firman-Nya:
"Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya." (An-Nisā':125)
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sumber:
1. Al-Qur'an
2. Wayang Golek Lakon "Sanghyang Dewa Brata". Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya

No comments:

Post a Comment