Sunday, 2 March 2014

Kepastian dalam Ketidakpastian



26 Februari 2014

“Ku Tunggu walau dalam ketidakpastian”
Tulisan di karoseri Truck itu Saya baca ketika Saya sedang mengendarai mobil bersama teman wanita Saya di jalan ke arah pasar pancasila, tasikmalaya. Teman Saya tertawa membaca tulisan itu, karena mungkin lucu seperti khas tulisan-tulisan di belakang karoseri truck pada umumnya. Misal: “Papa pulang, Mama senang”, dll.
Teman Saya nyeletuk: “Masih mending ‘Ku Tunggu JAndamu’ ya A? Soalnya ada pastinya”, sambil dia masih cengar-cengir membaca tulisan itu. Saya hanya tersenyum kecil saja, karena Saya malah memikirkan makna dari kata-kata: “Ku Tunggu walau dalam ketidakpastian”, saking kepikirannya sampai Saya tulis menjadi sebuah catatan ini.
Salah satu tulisan di karoseri belakang Truck
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Gara-gara tulisan di pantat truck itu Saya malah kepikiran dan berkaca pada kehidupan Saya yang sebetulnya juga berada dalam “ketidakpastian” . Lha wong, pekerjaan Saya menunggu “ketidakpastian”  kok. Saya akui, orang yang pekerjaannya berwirausaha (baca: pedagang) seperti Saya tuh, memang kerjaannya menunggu ketidakpastian.

Bayangkan saja, apakah ada jaminan seorang “pedagang“ di hari ini barang dagangannya akan laku? Tidak bukan? Hari ini laris, besok sepi pembeli. Kadang bulan ini omset naik, bulan depan turun. Benar-benar tidak ada kepastian bukan? Makanya Saya analogikan pekerjaan Saya adalah menunggu ketidakpastian. Dan malah mungkin tulisan di pantat karoseri truck itu akan Saya jadikan motto dalam hidup Saya. Jadi, kalau ada orang yang nanya: “NAnda, apa motto hidup kamu?”. Maka akan Saya jawab dengan tegas: “Ku tunggu walau dalam ketidakpastian”. Haha

Sebetulnya bukan cuma Saya yang hidup dalam ketidakpastian. Tapi Kita semua sebetulnya hidup dalam ketidakpastian, serius.” Lho kok bisa ngomong gitu? Ngawur aja nih penulis, orang Saya PNS yang udah pasti masa depannya , udah pasti gajinya, udah pasti dapet tunjangan pensiunnya”; mungkin itu jawaban PNS. Kalau pengusaha sukses jawabnya mungkin: “Perusahaan Saya tidak mungkin bangkrut, soalnya perusahaan Saya merupakan perusahaan terbesar di negeri ini. Assetnya banyak, jadi masa depan Saya terjamin”.

Itu hanya bayangan Saya saja, bisa jadi mungkin banyak jawaban-jawaban yang berbeda dari Kita semua yang mungkin latar belakangnya bukan pegawai negeri atau pengusaha kaya raya. Pertinyiinnyi, kenapa Saya berani bilang “hidup Kita semua sebetulnya berada dalam ketidakpastian”?. Karena, di dunia ini tidak ada suatu jaminan apapun dan tidak ada siapapun yang berani menjamin kalau Kita akan hidup aman, damai, sejahtera, dll. Bahkan sekelas Nabi pun yang merupakan utusan Tuhan, hidupnya berada dalam ketidakpastian kok. Gak percaya? Tidak pernah ditemukan dalam satu ayat pun didalam Al-quran yang menyebutkan bahwa Tuhan akan menjamin Nabi-Nya itu akan dimudahkan dalam perjuangannya menyerukan jalan kebenaran, tidak pernah diceritakan ada seorang Nabi dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad dalam perjuangannya dia dimudahkan untuk menyeru umatnya ke jalan yang benar. Justru yang  mereka dapatkan adalah hambatan, rintangan sampai cobaan dalam memperjuangkan kebenaran. Itu sekelas Nabi, apalagi Kita yang manusia biasa.

Oke, balik lagi ke bahasan dengan pemikiran yang mudah dipahami, lagipula ini bukan tulisan keagamaan, tapi lebih ke aspek sarana berbagi pemikiran dengan sedikit unsur hiburan.

Bicara mengenai ketidakpastian, Saya akan membahasnya tidak hanya secara general akan tetapi akan Saya arahkan lebih spesifik lagi. Bukan hanya dalam aspek kehidupan saja, tetapi lebih ke arah yang bersifat pribadi. Contohnya tadi Saya membicarakan mengenai ketidakpastian dalam pekerjaan, memang di setiap pekerjaan itu tidak ada yang pasti. Walaupun seperti Kita bahas tadi, ada Pegawai Negeri yang pemikirannya sudah merasa hidupnya aman, nyaman, serta yakin terjamin masa depannya. Hal seperti itu sebetulnya salah besar, karena siapa yang tahu tiba-tiba negara ini menghadapai krisis perekonomian sampai negara tidak mampu membayar gaji pegawainya. Atau mungkin negeri ini dilAnda perang, sehingga semua rakyatnya---baik dari kalangan rakyat jelata sampai aparat---diwajibkan ikut berperang, sehingga rasa aman, nyaman dan keyakinan akan terjaminnya masa depan dalam kehidupan yang sudah diimpikan Pegawai Negeri pun hilang.
Kalau pedagang seperti Saya mungkin bisa terjebak dalam pemikiran; bahwa Saya telah mempunyai perusahaan yang kuat, dengan asset dan harta yang banyak. Padahal mungkin dalam beberapa tahun ke depan negeri ini akan dilAnda kekacauan ekonomi yang mungkin bisa mengganggu jalannya usaha Saya yang mungkin bisa membuat Saya bangkrut. Jadi, dalam aspek sebuah pekerjaan, terlepas dari apapun yang dikerjakan oleh masing-masing individu. Sebetulnya tidak ada jaminan dan kepastian sama sekali bahwa pekerjaannya akan selamanya lancar.

Lanjut ke masalah ketidak pastian dalam status hubungan, ini sebetulnya bahasan yang menarik. Karena penulis pun sebetulnya mempunyai masalah dalam status, apalagi di umur yang sudah hampir menginjak seperempat abad. 

Diceritakan ada seorang pria, yang sudah mendapatkan kekasih. Karena dia sudah merasa bahwa pasangan perempuannya merupakan pasangan yang pasti di kehidupan masa depannya, maka akhirnya dia menjadi yakin dan terlampau PD (baca: percaya diri) bahwa dia akan menikah dengannya. Tet.. Tot.. Melalui tulisan ini, Saya ingin memberi tahu kepada saudara-saudara baik Pria maupun Wanita. Bahwa dalam status hubungan sebetulnya tidak ada yang pasti walaupun hubungan saudara-saudara sekalian sudah sampai dalam tahap pernikahan, apalagi yang pacaran. Lho, kok gitu? Sotoy banget nih penulis, padahal menikah aja belum.

Silahkan Saya disalahkan, Saya terima karena Saya memang belum menikah. Tapi sebelum itu Saya kasih tahu, ada gak dalam sebuah buku pernikahan yang menuliskan bahwa: “Saya akan setia selamanya terhadap pasangan Saya, dan bila Saya ingkar, Saya rela dihukum karena telah mengingkari janji Saya”? kemudian Anda berdua tAnda tangani buku nikah itu.

Saya yakin tidak ada tulisan seperti itu di Buku Nikah kalian. Kalau memang ada, silahkan Anda hidup aman dan nyaman, karena pasangan Anda hanya akan setia kepada Anda, dan jika salah satu diantara keduanya ingkar, maka dia akan dihukum seperti yang tertulis di buku nikah itu.

Kenapa di buku nikah tidak ada tulisan seperti yang tadi Saya tulis? Karena pernikahan itu adalah sebuah wujud komitmen dari kedua belah pihak tanpa ada unsur paksaan, dan jika ada salah satu pihak yang tidak senang dengan komitmen yang telah dijalani, maka mereka berhak memutuskan akan dilanjutkan atau dihentikan,  apalagi kalau salah satu diantaranya tidak memenuhi kewajiban memberi nafkah.

Pernikahan dan Buku nikah itu hanya sebuah simbol/tAnda bahwasanya Kita sudah meresmikan status hubungan Kita dengan pasangan. Sementara unsur utamanya adalah tekad dan keyakinan. Dan seperti Kita ketahui, yang namanya manusia itu cenderung berubah-ubah dari waktu ke waktu. Hari ini bilang A, besok bisa bilang B, lusa C, dll. Jadi, tidak ada jaminan sama sekali bahwa ikatan pernikahan yang sedang atau baru Anda jalani akan langgeng sampai nanti Anda berdua mati. Bisa saja Anda, ditinggalkan oleh pasangan Anda dengan cara meninggal dunia, atau mungkin ditinggalkan karena pasangan Anda tergoda oleh orang lain, atau bisa jadi karena Anda tidak mampu menafkahi pasangan Anda. Buset, kata-kata penulis pedas banget ya. Tapi memang itu realitanya kok, jangankan Anda sebagai orang biasa. Sekelas artis saja begitu kok, yang biasanya mengadakan press confrence ketika mereka mau menikah, senyum ceria ditebar kesana-kesini. Selang beberapa bulan atau tahun mereka memutuskan ikatan dengan alasan yang bermacam-macam.

Hey Dude, selama Kita hidup di dunia ini apapun  bisa terjadi. Karena tak ada jaminan sama sekali apa yang Kita miliki akan selamanya Kita miliki, tak ada jaminan bahwa kalau Kita punya pekerjaan yang layak, nyaman dan aman, masa depan Kita akan terjamin. Perlu diingat, yang namanya manusia itu mempunyai dua unsur. Yang pertama adalah tubuh/raga dan yang kedua adalah jiwa/ruh/pikiran.

Kita bahas satu persatu, Saya mulai dari tubuh. Yang namanya manusia pasti mempunyai unsur tubuh, bisa dikatakan hardwarenya kalau dalam bahasa komputer. Saya ingin tanya, ada gak jaminan atau kepastian kalau tubuh ini selamanya akan sehat? Tentu tidak. Sekali waktu tubuh ini akan merasakan yang namanya sakit dan terserang penyakit. Kalau tubuh ini sakit, tentunya Kita memerlukan perawatan dan pengobatan bukan? Memang sih ada jaminan kalau setiap pegawai negeri akan mendapatkan Askes alias Asuransi Kesehatan bilamana si pegawai sakit, tapi ada kepastian gak kalau penyakitnya parah biaya berobatnya ditanggung semua oleh negara? Jawabannya TIDAK, kenapa Saya jawab tidak? Karena Saya merupakan anak pegawai negeri, Saya juga ikut merasakan fasilitas Askes. Askes hanya menanggung ongkos pengobatan dan perawatan sampai jumlah biaya tertentu, sisanya? Anda harus menannggung sendiri biayanya, apalagi kalau Anda sakit parah dan ingin mendapatkan perawatan kelas satu, tentu Anda harus merogoh kocek sendiri. Karena Askes hanya menganggarkan sejumlah biaya tertentu untuk perawatan Anda. Dan Alhamdulillah-nya Saya dan keluarga tidak pernah terkena penyakit yang parah, sampai saat ini paling hanya penyakit batuk dan flu saja yang menimpa keluarga. Jadi kami tak pernah merugikan uang negara. *Apa Korelasinya?
 Intinya negara pun hanya mampu menjamin biaya pengobatan dan perawatan tubuh Anda dengan batasan biaya tertentu, tidak semuanya ditanggung oleh negara. Jadi tidak ada kepastian bukan? Apalagi untuk Saya yang merupakan seorang wiraswasta, otomatis biaya perawatan dan pengobatan yang Saya alami, harus Saya tanggung sendiri. Makanya, setiap hari doa Saya adalah: “Mudah-mudahan Saya sehat terus”. Lha wong gak bakal ada yang nanggung biaya perawatan Saya.

Kedua, manusia mempunyai unsur ruh. Kalau dalam bahasa komputer, software namanya. Ruh/jiwa pikiran/nafsu ini yang menggerakkan unsur tubuh Kita diarahkan. Apakah untuk hal-hal yang baik atau buruk, tidak ada kepastian bukan Anda akan selamanya menjadi pribadi yang baik. Sekali waktu Anda pasti berbuat salah entah terasa ataupun tidak terasa, seperti yang Saya katakan tadi manusia itu cenderung berubah-ubah, hari ini begini, besok begitu. Tak ada kepastian Anda akan melakukan hal yang sama di setiap harinya.

Setelah semuanya dibahas, dapat ditarik kesimpulan bahwa selama Kita hidup didunia ini Kita benar-benar dalam kondisi ketidakpastian. memang tidak dapat dipungkiri, baik oleh Anda maupun Saya sendiri bahwa selain dikelilingi ketidakpastian, hidup Kita juga dikelilingi oleh kepastian? Lho, kok gitu? Gimana nih penulis gak konsisten, tadi katanya Kita benar-benar hidup dalam ketidakpastian.
Sabar, biar Saya jelaskan. Salah satu kepastian yang dimiliki setiap makhluk bernyawa yang ada di dunia ini adalah hidup dan yang hidup pasti akan mengalami yang namanya kematian, seperti tertulis didalam Kitab suci: “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati” (Quran Surat berapanya Saya lupa lagi), tetapi  mereka tidak tau pasti kapan mereka akan mati, termasuk Anda maupun Saya sendiri. Karena tidak ada dalam Kitab suci manapun yang menyebutkan kapan Kita akan meninggal dan dengan cara apa Kita meninggal.

Kedua, sebagai orang yang beragama pasti Anda mempercayai akan adanya hari akhir (baca: kiamat). Didalam Kitab suci setiap agama pasti ada bahasan mengenai terjadinya kiamat itu seperti apa, tapi tidak ada dalam Kitab suci agama manapun yang menyebutkan kapan akan terjadinya kiamat bukan.

Dua contoh itu diatas Saya ambil dengan melihat dari kacamata agama, dan secara kacamata logika dan kerasionalan tentu tidak ada seorang pun yang dapat memastikan masa depan oranglain apalagi masa depannya dirinya sendiri. Dan tentunya Kita juga mungkin tidak akan setuju  dan cenderung protes kalau ada orang yang dengan seenaknya mengomentari dan meramal mengenai masa depan Kita. Apalagi komentarnya mengenai ramalan masa depan Kita yang jelek-jelek. Sudah pasti Kita apalagi Saya akan marah besar, karena dia berkomentar tanpa didukung fakta dan serta merta Kita akan berkata: “masa depan tak ada yang tahu”.

Jawaban Kita sama kan? Jadi---baik Saya ataupun Anda sebagai pembaca---janganlah sombong dan takabur, selalu tempatkan diri Kita dalam zona ketidaknyamanan dan ketidakpastian supaya Kita senantiasa sadar dan berpikir serta senantiasa berusaha agar Kita menjadi manusia yang lebih baik dalam segala hal.

Bisa dibayangkan, kalau seandainya Tuhan telah menjamin tiap-tiap anak adam akan masuk surga ketika mereka mati nanti. Tentunya manusia di dunia ini tidak akan ada yang beribadah, dan bersujud kepadanya karena mereka merasa aman dan merasa mempunyai kepastian: “Tak perlu beribadah pun Saya pasti akan masuk surga”. Juga sebaliknya kalau Tuhan menjamin setiap manusia kelak ketika mereka meninggal, mereka pasti masuk neraka, mereka tidak akan beribadah. Karena mereka akan berpikir: “Tak beribadah pun pasti Saya akan masuk neraka, tak ada bedanya”.

Begitu juga dengan manusia, kalau saja mereka telah dijamin mereka akan hidup berkecukupan. Tentu manusia tidak akan mati-matian bekerja mencari nafkah. Karena Tuhan maha adil, makanya Tuhan tidak pernah menjamin hidup manusia manapun . Sehingga manusia yang berpikir, akan berusaha mati-matian baik dalam berusaha maupun dalam hal mempertahankan serta memperjuangkan apa yang dimilikinya, karena dia merasa tidak mempunyai jaminan bahwa apa yang dimilikinya akan selamanya dia miliki.

Surga hanya untuk yang berusaha,
Neraka hanya untuk yang berleha-leha.



No comments:

Post a Comment