26 Februari 2014
“Ku Tunggu walau dalam ketidakpastian”
Tulisan di karoseri Truck itu Saya baca ketika Saya sedang
mengendarai mobil bersama teman wanita Saya di jalan ke arah pasar pancasila,
tasikmalaya. Teman Saya tertawa membaca tulisan itu, karena mungkin lucu
seperti khas tulisan-tulisan di belakang karoseri truck pada umumnya. Misal:
“Papa pulang, Mama senang”, dll.
Teman Saya nyeletuk: “Masih mending ‘Ku Tunggu JAndamu’ ya A?
Soalnya ada pastinya”, sambil dia masih cengar-cengir membaca tulisan itu. Saya
hanya tersenyum kecil saja, karena Saya malah memikirkan makna dari kata-kata:
“Ku Tunggu walau dalam ketidakpastian”, saking kepikirannya sampai Saya tulis
menjadi sebuah catatan ini.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Gara-gara tulisan di pantat truck itu Saya malah kepikiran dan
berkaca pada kehidupan Saya yang sebetulnya juga berada dalam “ketidakpastian” .
Lha wong, pekerjaan Saya menunggu “ketidakpastian” kok. Saya akui, orang yang pekerjaannya
berwirausaha (baca: pedagang) seperti Saya tuh, memang kerjaannya menunggu
ketidakpastian.
Bayangkan saja, apakah ada jaminan seorang “pedagang“ di hari
ini barang dagangannya akan laku? Tidak bukan? Hari ini laris, besok sepi
pembeli. Kadang bulan ini omset naik, bulan depan turun. Benar-benar tidak ada
kepastian bukan? Makanya Saya analogikan pekerjaan Saya adalah menunggu
ketidakpastian. Dan malah mungkin tulisan di pantat karoseri truck itu akan Saya
jadikan motto dalam hidup Saya. Jadi, kalau ada orang yang nanya: “NAnda, apa
motto hidup kamu?”. Maka akan Saya jawab dengan tegas: “Ku tunggu walau dalam
ketidakpastian”. Haha
Sebetulnya bukan cuma Saya yang hidup dalam ketidakpastian. Tapi
Kita semua sebetulnya hidup dalam ketidakpastian, serius.” Lho kok bisa ngomong
gitu? Ngawur aja nih penulis, orang Saya PNS yang udah pasti masa depannya ,
udah pasti gajinya, udah pasti dapet tunjangan pensiunnya”; mungkin itu jawaban
PNS. Kalau pengusaha sukses jawabnya mungkin: “Perusahaan Saya tidak mungkin
bangkrut, soalnya perusahaan Saya merupakan perusahaan terbesar di negeri ini.
Assetnya banyak, jadi masa depan Saya terjamin”.
Itu hanya bayangan Saya saja, bisa jadi mungkin banyak
jawaban-jawaban yang berbeda dari Kita semua yang mungkin latar belakangnya
bukan pegawai negeri atau pengusaha kaya raya. Pertinyiinnyi, kenapa Saya
berani bilang “hidup Kita semua sebetulnya berada dalam ketidakpastian”?.
Karena, di dunia ini tidak ada suatu jaminan apapun dan tidak ada siapapun yang
berani menjamin kalau Kita akan hidup aman, damai, sejahtera, dll. Bahkan
sekelas Nabi pun yang merupakan utusan Tuhan, hidupnya berada dalam
ketidakpastian kok. Gak percaya? Tidak pernah ditemukan dalam satu ayat pun
didalam Al-quran yang menyebutkan bahwa Tuhan akan menjamin Nabi-Nya itu akan
dimudahkan dalam perjuangannya menyerukan jalan kebenaran, tidak pernah
diceritakan ada seorang Nabi dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad dalam
perjuangannya dia dimudahkan untuk menyeru umatnya ke jalan yang benar. Justru
yang mereka dapatkan adalah hambatan,
rintangan sampai cobaan dalam memperjuangkan kebenaran. Itu sekelas Nabi,
apalagi Kita yang manusia biasa.
Oke, balik lagi ke bahasan dengan pemikiran yang mudah dipahami,
lagipula ini bukan tulisan keagamaan, tapi lebih ke aspek sarana berbagi
pemikiran dengan sedikit unsur hiburan.
Bicara mengenai ketidakpastian, Saya akan membahasnya tidak
hanya secara general akan tetapi akan Saya arahkan lebih spesifik lagi. Bukan
hanya dalam aspek kehidupan saja, tetapi lebih ke arah yang bersifat pribadi.
Contohnya tadi Saya membicarakan mengenai ketidakpastian dalam pekerjaan,
memang di setiap pekerjaan itu tidak ada yang pasti. Walaupun seperti Kita
bahas tadi, ada Pegawai Negeri yang pemikirannya sudah merasa hidupnya aman,
nyaman, serta yakin terjamin masa depannya. Hal seperti itu sebetulnya salah
besar, karena siapa yang tahu tiba-tiba negara ini menghadapai krisis
perekonomian sampai negara tidak mampu membayar gaji pegawainya. Atau mungkin
negeri ini dilAnda perang, sehingga semua rakyatnya---baik dari kalangan rakyat
jelata sampai aparat---diwajibkan ikut berperang, sehingga rasa aman, nyaman
dan keyakinan akan terjaminnya masa depan dalam kehidupan yang sudah diimpikan
Pegawai Negeri pun hilang.
Kalau pedagang seperti Saya mungkin bisa terjebak dalam
pemikiran; bahwa Saya telah mempunyai perusahaan yang kuat, dengan asset dan
harta yang banyak. Padahal mungkin dalam beberapa tahun ke depan negeri ini
akan dilAnda kekacauan ekonomi yang mungkin bisa mengganggu jalannya usaha Saya
yang mungkin bisa membuat Saya bangkrut. Jadi, dalam aspek sebuah pekerjaan,
terlepas dari apapun yang dikerjakan oleh masing-masing individu. Sebetulnya
tidak ada jaminan dan kepastian sama sekali bahwa pekerjaannya akan selamanya
lancar.
Lanjut ke masalah ketidak pastian dalam status hubungan, ini
sebetulnya bahasan yang menarik. Karena penulis pun sebetulnya mempunyai
masalah dalam status, apalagi di umur yang sudah hampir menginjak seperempat
abad.
Silahkan Saya disalahkan, Saya terima karena Saya memang belum
menikah. Tapi sebelum itu Saya kasih tahu, ada gak dalam sebuah buku pernikahan
yang menuliskan bahwa: “Saya akan setia selamanya terhadap pasangan Saya, dan
bila Saya ingkar, Saya rela dihukum karena telah mengingkari janji Saya”?
kemudian Anda berdua tAnda tangani buku nikah itu.
Saya yakin tidak ada tulisan seperti itu di Buku Nikah kalian.
Kalau memang ada, silahkan Anda hidup aman dan nyaman, karena pasangan Anda
hanya akan setia kepada Anda, dan jika salah satu diantara keduanya ingkar,
maka dia akan dihukum seperti yang tertulis di buku nikah itu.
Kenapa di buku nikah tidak ada tulisan seperti yang tadi Saya
tulis? Karena pernikahan itu adalah sebuah wujud komitmen dari kedua belah
pihak tanpa ada unsur paksaan, dan jika ada salah satu pihak yang tidak senang
dengan komitmen yang telah dijalani, maka mereka berhak memutuskan akan
dilanjutkan atau dihentikan, apalagi
kalau salah satu diantaranya tidak memenuhi kewajiban memberi nafkah.
Pernikahan dan Buku nikah itu hanya sebuah simbol/tAnda bahwasanya Kita sudah meresmikan status hubungan Kita dengan pasangan. Sementara unsur utamanya adalah tekad dan keyakinan. Dan seperti Kita ketahui, yang namanya manusia itu cenderung berubah-ubah dari waktu ke waktu. Hari ini bilang A, besok bisa bilang B, lusa C, dll. Jadi, tidak ada jaminan sama sekali bahwa ikatan pernikahan yang sedang atau baru Anda jalani akan langgeng sampai nanti Anda berdua mati. Bisa saja Anda, ditinggalkan oleh pasangan Anda dengan cara meninggal dunia, atau mungkin ditinggalkan karena pasangan Anda tergoda oleh orang lain, atau bisa jadi karena Anda tidak mampu menafkahi pasangan Anda. Buset, kata-kata penulis pedas banget ya. Tapi memang itu realitanya kok, jangankan Anda sebagai orang biasa. Sekelas artis saja begitu kok, yang biasanya mengadakan press confrence ketika mereka mau menikah, senyum ceria ditebar kesana-kesini. Selang beberapa bulan atau tahun mereka memutuskan ikatan dengan alasan yang bermacam-macam.
Hey Dude, selama Kita hidup di dunia ini apapun bisa terjadi. Karena tak ada jaminan sama
sekali apa yang Kita miliki akan selamanya Kita miliki, tak ada jaminan bahwa
kalau Kita punya pekerjaan yang layak, nyaman dan aman, masa depan Kita akan
terjamin. Perlu diingat, yang namanya manusia itu mempunyai dua unsur. Yang
pertama adalah tubuh/raga dan yang kedua adalah jiwa/ruh/pikiran.
Kita bahas satu persatu, Saya mulai dari tubuh. Yang namanya
manusia pasti mempunyai unsur tubuh, bisa dikatakan hardwarenya kalau dalam
bahasa komputer. Saya ingin tanya, ada gak jaminan atau kepastian kalau tubuh
ini selamanya akan sehat? Tentu tidak. Sekali waktu tubuh ini akan merasakan
yang namanya sakit dan terserang penyakit. Kalau tubuh ini sakit, tentunya Kita
memerlukan perawatan dan pengobatan bukan? Memang sih ada jaminan kalau setiap
pegawai negeri akan mendapatkan Askes alias Asuransi Kesehatan bilamana si
pegawai sakit, tapi ada kepastian gak kalau penyakitnya parah biaya berobatnya
ditanggung semua oleh negara? Jawabannya TIDAK, kenapa Saya jawab tidak? Karena
Saya merupakan anak pegawai negeri, Saya juga ikut merasakan fasilitas Askes.
Askes hanya menanggung ongkos pengobatan dan perawatan sampai jumlah biaya
tertentu, sisanya? Anda harus menannggung sendiri biayanya, apalagi kalau Anda
sakit parah dan ingin mendapatkan perawatan kelas satu, tentu Anda harus
merogoh kocek sendiri. Karena Askes hanya menganggarkan sejumlah biaya tertentu
untuk perawatan Anda. Dan Alhamdulillah-nya Saya dan keluarga tidak pernah
terkena penyakit yang parah, sampai saat ini paling hanya penyakit batuk dan
flu saja yang menimpa keluarga. Jadi kami tak pernah merugikan uang negara.
*Apa Korelasinya?
Intinya negara pun hanya
mampu menjamin biaya pengobatan dan perawatan tubuh Anda dengan batasan biaya
tertentu, tidak semuanya ditanggung oleh negara. Jadi tidak ada kepastian
bukan? Apalagi untuk Saya yang merupakan seorang wiraswasta, otomatis biaya
perawatan dan pengobatan yang Saya alami, harus Saya tanggung sendiri. Makanya,
setiap hari doa Saya adalah: “Mudah-mudahan Saya sehat terus”. Lha wong gak
bakal ada yang nanggung biaya perawatan Saya.
Kedua, manusia mempunyai unsur ruh. Kalau dalam bahasa komputer,
software namanya. Ruh/jiwa pikiran/nafsu ini yang menggerakkan unsur tubuh Kita
diarahkan. Apakah untuk hal-hal yang baik atau buruk, tidak ada kepastian bukan
Anda akan selamanya menjadi pribadi yang baik. Sekali waktu Anda pasti berbuat
salah entah terasa ataupun tidak terasa, seperti yang Saya katakan tadi manusia
itu cenderung berubah-ubah, hari ini begini, besok begitu. Tak ada kepastian Anda
akan melakukan hal yang sama di setiap harinya.
Setelah semuanya dibahas, dapat ditarik kesimpulan bahwa selama Kita
hidup didunia ini Kita benar-benar dalam kondisi ketidakpastian. memang tidak
dapat dipungkiri, baik oleh Anda maupun Saya sendiri bahwa selain dikelilingi
ketidakpastian, hidup Kita juga dikelilingi oleh kepastian? Lho, kok gitu? Gimana
nih penulis gak konsisten, tadi katanya Kita benar-benar hidup dalam
ketidakpastian.
Sabar, biar Saya jelaskan. Salah satu kepastian yang dimiliki
setiap makhluk bernyawa yang ada di dunia ini adalah hidup dan yang hidup pasti
akan mengalami yang namanya kematian, seperti tertulis didalam Kitab suci:
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati” (Quran Surat berapanya Saya lupa
lagi), tetapi mereka tidak tau pasti
kapan mereka akan mati, termasuk Anda maupun Saya sendiri. Karena tidak ada
dalam Kitab suci manapun yang menyebutkan kapan Kita akan meninggal dan dengan
cara apa Kita meninggal.
Kedua, sebagai orang yang beragama pasti Anda mempercayai akan
adanya hari akhir (baca: kiamat). Didalam Kitab suci setiap agama pasti ada
bahasan mengenai terjadinya kiamat itu seperti apa, tapi tidak ada dalam Kitab
suci agama manapun yang menyebutkan kapan akan terjadinya kiamat bukan.
Dua contoh itu diatas Saya ambil dengan melihat dari kacamata
agama, dan secara kacamata logika dan kerasionalan tentu tidak ada seorang pun
yang dapat memastikan masa depan oranglain apalagi masa depannya dirinya
sendiri. Dan tentunya Kita juga mungkin tidak akan setuju dan cenderung protes kalau ada orang yang
dengan seenaknya mengomentari dan meramal mengenai masa depan Kita. Apalagi
komentarnya mengenai ramalan masa depan Kita yang jelek-jelek. Sudah pasti Kita
apalagi Saya akan marah besar, karena dia berkomentar tanpa didukung fakta dan
serta merta Kita akan berkata: “masa depan tak ada yang tahu”.
Jawaban Kita sama kan? Jadi---baik Saya ataupun Anda sebagai
pembaca---janganlah sombong dan takabur, selalu tempatkan diri Kita dalam zona
ketidaknyamanan dan ketidakpastian supaya Kita senantiasa sadar dan berpikir
serta senantiasa berusaha agar Kita menjadi manusia yang lebih baik dalam
segala hal.
Bisa dibayangkan, kalau seandainya
Tuhan telah menjamin tiap-tiap anak adam akan masuk surga ketika mereka mati
nanti. Tentunya manusia di dunia ini tidak akan ada yang beribadah, dan
bersujud kepadanya karena mereka merasa aman dan merasa mempunyai kepastian:
“Tak perlu beribadah pun Saya pasti akan masuk surga”. Juga sebaliknya kalau
Tuhan menjamin setiap manusia kelak ketika mereka meninggal, mereka pasti masuk
neraka, mereka tidak akan beribadah. Karena mereka akan berpikir: “Tak
beribadah pun pasti Saya akan masuk neraka, tak ada bedanya”.
Begitu juga dengan manusia, kalau saja mereka telah dijamin
mereka akan hidup berkecukupan. Tentu manusia tidak akan mati-matian bekerja
mencari nafkah. Karena Tuhan maha adil, makanya Tuhan tidak pernah menjamin
hidup manusia manapun . Sehingga manusia yang berpikir, akan berusaha
mati-matian baik dalam berusaha maupun dalam hal mempertahankan serta
memperjuangkan apa yang dimilikinya, karena dia merasa tidak mempunyai jaminan
bahwa apa yang dimilikinya akan selamanya dia miliki.
Surga hanya untuk yang berusaha,
Neraka hanya untuk yang berleha-leha.


No comments:
Post a Comment