Tuesday, 28 August 2012

Kehidupan Setelah Kuliah (Pelajaran Hidup yang Tidak didapat di bangku Kuliah)

Ya, melalui catatan ini saya ingin bercerita mengenai kehidupan saya setelah lulus kuliah.

Bersama sahabat; Andika dan adit (dari kiri), sukuran kelulusan
Perjalananku di awali di bulan november 2011 ketika saya berhasil menyelesaikan pendidikan pada tanggal 2 november 2011, dimana suasana haru saya rasakan ketika dosen penguji menyatakan saya lulus (walaupun saya sewaktu menjalani sidang tidak mampu menjawab semua dosen penguji. Sampai saya dikatain goblok oleh Pak Rusmusi. Hehe). Dan tepat ketika saya keluar dari pintu ruang dosen, saya langsung berlari merangkul sahabat-sahabat saya, saya peluk erat mereka satu persatu hingga tak sadar saya menangis bahagia dibuatnya,ya itu tangisan bahagia karena saya telah berjuang dan berhasil menyelesaikan pendidikan. Ya itulah kebahagiaan sementara,karena saya saat itu belum terpikir mengenai kehidupan setelah lulus. Haha

Setelah saya lulus (masih di bulan november) saya kembali ke rumah, dimana saya mulai membantu orang tua berjualan di kios milik keluarga kami di pasar banjar. Sambil saya mulai memasukkan lamaran kerja ke beberapa instansi dengan modal surat keterangan lulus. Dan alhamdulillah saya langsung mendapat panggilan oleh salah satu perusahaan BUMN untuk mengikuti tes seleksi kerja. Saya mulanya berpikir jalan hidup saya akan mudah, akan tetapi test seleksi kerja itu tidaklah mudah. Dimana bukan hanya kemampuan saja yg diperlukan, akan tetapi perlu sedikit keberuntungan juga (pantas saja banyak teman-teman saya yang lulus dlebih dahulu masih menganggur). Finally, saya gagal pada tes kerja pertamaku. Hehe..

Bersama sahabat ketika wisuda

Masuk ke bulan desember, kebahagiaan saya makin terasa. Ketika saya serta kedua sahabat karib saya di wisuda, dikarenakan akhirnya kita  bisa diwisuda pada tanggal 13 desember 2011. Sungguh momen yang tak-kan terlupakan. Sampai-sampai sahabat saya Adit berujar : "alhamdulillah nda,akhirnya kita lulus tepat waktu dan bisa duduk di kursi wisudawan" (sambil dia menghela napas, seperti telah melepaskan beban dari pundak).


Saya lihat wajah kedua orang tua saya, ada senyum bahagia melengkung dari bibir mereka, dengan penuh haru saya peluk mereka berdua. Mereka yang telah membuat saya mampu bertahan dan selalu men-support saya dalam melewati berbagai kesulitan dalam menyelesaikan pendidikan saya. Baik dari segi moril maupun materil, mereka telah memberikan yang terbaik semampu yang mereka bisa lakukan. Mungkin jasa mereka tak-kan pernah bisa saya balas.

Selepas wisuda, saya habiskan hari-hari terakhir saya bersama sahabat saya. Diantaranya dengan karaoke, kongkow, jalan-jalan  dan lain sebagainya yang mungkin momen itu akan susah saya dapatkan lagi selepas  saya pulang kembali ke kota kelahiran. Dan sampai tiba waktunya saya untuk berpamitan dan untuk berpisah dengan sahabat-sahabat saya, saya peluk sahabat saya sambil tak sadar saya menangis di pelukan Adit sambil teringat memori empat tahun silam dimana ketika hari pertama kuliah saya bertemu dengan sahabat saya itu. Ternyata waktu empat tahun itu hanya sebentar dan sangat tidak terasa, rasanya masih ingin kuhabiskan waktuku kembali ke masa empat tahun silam, untuk mengulang semua kenangan yang pernah kita lakukan. Dan sampai sekarang pun saya masih merasakan kerinduan terhadap sahabat-sahabat saya. Terimakasih Felix, Reza, Nindi, Dika, Adrian, Adit & Dita, kalian orang-orang hebat yang pernah saya kenal, dan mampu memberi saya suatu pelajaran mengenai kehidupan melalui kekeluargaan dan persahabatan yang kita jalin sampai sekarang, saat ini dan saya harap selamanya.

Berjabat tangan dengan Dekan
Selain itu saya juga berpamitan dengan keluarga Bapak sobirin yang sudah saya anggap seperti keluarga kedua selama saya menyelesaikan studi di Purwokerto. Saya lakukan sembah sungkem kepada Bapak dan ibu sobirin yang telah menganggap saya sebagai anaknya sendiri untuk berpamitan, dikarenakan tugas saya telah selesai untuk menuntut ilmu, dan tanpa terasa mamake (panggilan saya kepada ibu sobirin) menangis melepas kepergian saya sambil dia memeluk tubuh saya dengan erat sekali seakan tidak rela melepas saya, saya pun terbawa suasana. Saya sendiri ikut menangis karena teringat akan kebaikan keluarga ini, tak lupa saya meminta maaf dan berterimakasih terhadap keluarga ini. Karena saya terlalu sering merepotkan terutama kepada mbak yati & mbak yani (si kembar yang mempunyai warung nasi) karena sering saya berhutang kalau tanggal tua, juga mamake karena sering banget aku suruh ngerokin aku kalo aku masuk angin. Hehe..

Hikmah yang saya dapat dari keluarga ini adalah saya belajar mengenai kesederhanaan hidup, menolong tanpa pamrih, dan yang paling penting adalah bersyukur terhadap nikmat yang Tuhan telah berikan kepada kita selaku hambaNya. Walaupun dengan rejeki yang terkadang kurang, tetapi mereka merasa cukup dengan apa yang telah Tuhan anugerahkan terhadap keluarga ini dan yang saya kagumi dari keluarga Bapak Sobirin adalah saya hampir tidak pernah melihat keluarga ini melupakan ibadahnya. Terima kasih keluarga Bapak Sobirin. Sungguh pelajaran yang sangat berharga, yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah.

Purwokerto, kota sejuta kenangan. Bukan hanya suasananya saja yang terkadang saya rindukan, tetapi saya juga merindukan orang-orang yang pernah bertemu dengan saya, mengisi hari-hari saya dengan berbagai macam karakter, sifat dan selera dari masing-masing individu itu sendiri.

Finally, saya kembali ke rumah. Memulai hari baru dengan aktivitas baru, yaitu menunggu usaha orangtua saya sambil sesekali saya browsing di internet untuk mencari kesempatan kerja. Saya kirim lamaran ke beberapa instansi, mencoba mengikuti tes seleksi kerja lagi dan bersaing dengan ribuan bahkan jutaan orang untuk berkompetisi memperebutkan pekerjaan. Dan ternyata hidup itu keras, beberapa kali saya gagal dalam seleksi tes kerja, baik pada tahap awal. Bahkan pernah sampai pada tahap akhir saya masih juga gagal pada tes kesehatan karena saya mempunyai cacat non fisik yaitu buta warna parsial. Saya terkadang putus asa, melihat teman*ku telah bekerja. Sementara saya masih berkutat mencari pekerjaan. Terkadang timbul perasaan malu dan minder timbul dari dalam hati saya.

Kadang saya juga benci kepada orangtua saya yang jarang mengizinkan saya pergi keluar kota untuk mencari pekerjaan. Bahkan ketika saya memutuskan untuk berniaga, orangtua saya pun tidak mau memberi modal untuk ide usaha saya. Dalam waktu hanya empat bulan setelah saya lulus, saya merasa bahwa hidup saya kacau dan tidak sesuai dengan rencana awal saya setelah menyelesaikan pendidikan. Cita-cita saya rasanya sulit untuk tercapai, terutama keinginan saya untuk berniaga masih belum diberi modal. Malah saya disuruh melanjutkan berjualan karung & terpal yang sudah dirintis orangtua saya, sementara dalam hati kecil saya mengatakan saya ingin dan harus merintis usaha sendiri. Kecewa, itu yang saya rasakan selama empat bulan setelah lulus.

Hari berganti, dan saya terus larut dalam kekecewaan. Sampai pada akhirnya saya bertemu dan berbicara dengan beberapa orang yang merubah mindset (baca : pola pikir) juga orientasi (baca : cara pandang) saya dalam menghadapi masalah. Orang pertama adalah A Iwa yang merupakan pedagang golok di pasar banjar, sewaktu saya berkunjung ke rumahnya seketika itu saya bercerita mengenai kekecewaan saya terhadap orangtua saya yang tidak mau memberi saya modal usaha. Kemudian ia memberi saya pandangan berbeda dari kacamata seorang pengusaha, dia memberitahu saya kalau orangtua saya bukan tidak mau, tapi sepertinya belum mau memberikan saya modal usaha, apalagi saya itungannya masih cetek karena baru menyelesaikan studi, dan makanya dia menyarankan jangan terburu-buru. Karena menurut pengalaman A Iwa, membuka usaha itu tidak mudah, membutuhkan kesabaran serta mental baja karena menjadi pengusaha itu pasti adakalanya terjatuh, tidak selalu untung bahkan terkadang menanggung rugi, serta butuh waktu yang tidak sebentar supaya usaha bisa maju. Dia juga membutuhkan waktu hampir 12 tahun sampai usahanya bisa berjalan seperti sekarang. Karena dulu pada awalnya juga dia jatuh bangun dalam merintis usahanya. Masih menurut dia ; mungkin orangtua saya sedang menguji mental saya dan melatih kesabaran saya supaya saya bisa jadi pengusaha yang pantang menyerah walaupun usaha sedang sepi. Saya pun mulai mengerti jalan pemikiran orangtua. Tapi saya masih belum puas, lalu saya kembali bertanya. Akan tetapi kali ini kepada A Dadi, salah seorang tetangga saya yang menikah dengan kerabat saya. Saya mulai bertanya kepada dia, kenapa orangtua saya seperti cuek dan seperti tidak memikirkan masa depan anaknya. Ayah dua anak ini menjawab ; "Tidak mungkin ada orangtua yang tidak memikirkan masa depan anaknya, dan ingin anaknya sengsara dalam menjalani kehidupan. Makanya kamu disuruh tunggu pasar tuh sengaja oleh orangtua kamu supaya kamu bisa punya alternatif lain dan supaya kamu terbiasa dengan kegiatan itu, supaya nanti jikalau kamu tidak mendapat pekerjaan, kamu bisa berniaga untuk mendapatkan pendapatan. Sekarang mah kamu tinggal sabarnya, insya Alloh ada jalan" (begitu kata maher zain jg). Hehe.. Saya pun semakin memahami pemikiran orangtua saya, dan saya semakin malu dengan cara pandang serta pola pikir saya terhadap orangtua saya.

Sampai akhirnya saya bertemu dengan Bapak Encang (teman sekantor Ayah saya) pada akhir bulan ramadhan, kemudian saya dan kembaran saya memulai perbincangan dengannya mengenai kegundahan saya dan bertanya kenapa orangtua saya seperti terlihat tidak ridho melepas kami berdua pergi keluar kota untuk mencari pekerjaan. Dengan bijak dia menjawab : "Kamu tuh seharusnya bersukur punya orangtua seperti itu, dia selalu membanggakan kedua anak kembarnya dihadapan rekan-rekan Guru SMAN 3 Banjar (Instansi Ayah saya bekerja). Ketika kalian lulus dan menyelesaikan studi kalian, dia sangat membanggakan anak-anaknya. Dia sudah merancang masa depan kalian dengan matang, dengan cara menyediakan 2 lapak dipasar banjar untuk usaha kalian berdua, untuk mengatasi kejadian apabila kalian berdua tidak mendapat pekerjaan yang layak. Dia sangat menyayangi kalian berdua, tapi kenapa kalian bisa menyimpulkan orangtua kalian tidak menyayangi kalian hanya gara-gara kalian tidak diijinkan keluar kota. Padahal mereka sangat menyayangi kamu berdua, untuk saat ini kalian mungkin belum diijinkan keluar kota. Bisa jadi mungkin karena mereka masih merindukan suasana kebersamaan bersama kalian. Empat tahun kalian tinggalkan mereka untuk menempuh studi itu bukan waktu yg sebentar, dan setelah kalian lulus terus kalian mau langsung meninggalkan orangtua kalian? Tolonglah beri sedikit waktu untuk mereka supaya dapat menikmati kebersamaan dengan kalian setelah empat tahun ditinggalkan oleh kalian untuk menempuh pendidikan. Juga Bapak harap kalian berikan orangtua kalian kesempatan bernapas sedikit untuk mengatur kembali sisi finansial mereka, karena menyekolahkan kalian itu memerlukan biaya yang tidak sedikit, apalagi kalian anak kembar. Menyekolahkan dua orang dalam waktu yang sama itu bukan perkara mudah, perlu waktu dan biaya yang tidak sedikit, seharusnya kalian bangga mempunyai orangtua seperti mereka berdua. Sekarang kalaupun kalian keluar kota, tetap saja orangtua yang memberikan bekal, karena selama kalian belum mendapatkan pekerjaan kalian masih menjadi beban orangtua".

Beliau melanjutkan pembicaraannya : "Terus apa kalian pikir dengan keluar kota, kalian pikir kalian bisa bahagia. Justru yang dirasakan Bapak setelah Bapak bekerja dan jauh dari orangtua Bapak (orangtua Pak Encang berada di Kota Garut, sementara Pak Encang berkantor Dinas di Kota banjar), Bapak merasa kangen dengan suasana rumah. Bapak ingin menghabiskan waktu bersama orangtua Bapak (sambil matanya berkaca-kaca), karena mereka semakin tua, mereka semakin butuh perhatian, mereka semakin memerlukan bantuan. Sementara anaknya jauh, dan tak mampu berbuat apa-apa. Bahkan ketika kita sudah bekerja dan berkeluarga, orangtua semakin tidak terperhatikan, bahkan untuk sekedar bisa berkumpul pun susah. Itu pun paling hanya setahun sekali dan hanya beberapa hari di hari lebaran, karena setelah hari lebaran untuk yang terikat akan ikatan dinas sudah mulai wajib bekerja. Bapak kadang merasa berdosa tak mampu merawat dan memperhatikan mereka secara langsung hanya bisa melalui telpon. Sementara mereka merawat dan memperhatikan Bapak sampai bisa seperti sekarang (sambil menyeka air matanya karena ingat akan jasa-jasa orangtuanya, dan tanpa sadar kami pun ikut menangis teringat akan jasa kedua orangtua kami)".

Selang beberapa menit beliau menyambung kembali : "Kalian harusnya bersukur masih bisa dekat dgn orangtua, istilahnya masih mempunyai proyek surgawi, walaupun hanya membantu mereka dengan tenaga, belum secara finansial, tapi orangtua kalian pasti sangat bahagia, setidaknya mereka merasa diperhatikan oleh anak-anaknya diusianya yang makin senja. Membantu itu bukan cuma secara finansial saja, akan tetapi bisa juga melalui pemikiran, serta tenaga, yang penting kalian menjadi manusia berguna. Nah sekarang coba kalian pikir baik-baik, apakah orangtua kalian jahat dan tidak menyayangi kalian?? Coba pikirkan sejenak, untuk apa kalian ngoyo ingin kerja diluar kota, sementara lahan kerja di kota sendiri masih banyak dan kelebihannya adalah dekat dengan orangtua kita. Setidaknya ketika mereka membutuhkan bantuan kita, kita masih dekat dan mudah membantunya. Bukan hanya kebahagiaan orangtua yang didapat oleh kalian, tetapi juga pahala berlipat atas kesediaan kalian membantu orangtua kalian. Rasul sendiri memberi tahu kita kalau membantu orangtua itu pahalanya besar, apakah kalian tidak ingin pahala yang besar? Kalau Bapak sih ingin, bahkan kalau Tuhan memberikan harga untuk bisa bersama kembali dengan kedua orangtua Bapak. Bapak mau membayarnya berapapun harganya agar Bapak bisa kembali berbakti semaximal mungkin untuk kedua orangtua Bapak. Jadi harapan Bapak, tolong kalian pikirkan baik-baik mengenai cara pandang dan pola pikir kalian mengenai orangtua kalian. Mereka tidak sejahat yang kalian kira, malah mereka selalu memperhatikan, menyayangi kalian, dan memaafkan kalian walopun dosa kalian sangat banyak". Dan tanpa banyak bertanya kembali, saya pun menjawab "iya pak" (sambil saya meneteskan air mata,ingat akan kesalahanku). Dari pembicaraan dengan Pak Encang, saya semakin memahami pola pikir orangtua saya yang ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tak lupa kami berdua mengucapkan Terimakasih kepada Pak Encang atas nasehatnya untuk kami berdua.

Dan tepat ketika idul fitri tiba, setelah shalat 'ied saya langsung berlutut dan meminta maaf kepada kedua orangtua saya dengan isak tangis yang tak terbendung lagi karena ingat akan dosa saya terhadap kedua orangtua saya. Dan tepat ketika saya berlutut, orangtua saya berbisik pelan ditelingaku : "maafkan papap & mamah belum bisa memberikan yang terbaik untuk kamu". Yaa Rabb, sesungguhnya mereka telah memberikan yang terbaik untuk saya mulai dari anugerah kehidupan, sandang, pangan, papan sampai pendidikan. Tetapi mereka masih dengan kerendahan hatinya meminta maaf kepada saya, padahal sebetulnya saya yang sepantasnya meminta maaf kepada mereka karena saya salah dengan cara pandang dan pola pikir saya mengenai jalan pikiran mereka.
Terimakasih Tuhan kau telah berikan nikmat yang begitu banyak untuk kami, dengan kedua orangtua yang utuh serta begitu perhatian terhadap anak-anaknya. Semoga kami bisa membalas kebaikan mereka suatu saat nanti. Amin.

Allahummaghfirli.. Wa lii wa lii dayya, war hamhumaa kamaa rabbayanii saghirah..

Kami berfoto ketika wisuda Kembaran saya (Minus adik saya)


Teruntuk Papap & Mamah
Kami sangat menyayangi kalian.

No comments:

Post a Comment