Perkara menikah memang selalu menjadi topik pembicaraan yang sulit. Terutama ketika saya masih menjalani masa bujang, dimana pertanyaan "kapan nikah?" sama sulitnya dengan mengerjakan soal logaritma.
Tepat pada tanggal 9 November kemarin, saya akhirnya melepas masa lajang saya dengan menikahi Ayu Agustina. Perempuan yang sebelumnya menemani saya untuk makan malam ataupun sekedar jalan-jalan.
Banyak sekali pertanyaan dari teman seangkatan yang menanyakan, kok bisa saya secepat itu memutuskan menikah. Padahal kami berdua hanya menjalani masa pacaran selama 5-6 bulan. Hal apa yang bisa membuat saya yakin untuk menikah.
Sering saya menjawab: "mungkin sudah jodohnya". Jujur saya juga kadang susah untuk menjelaskannya.
Kalau untuk masalah kenapa saya bisa yakin menikah dengan wanita yang kini menjadi istri saya. Saya sebetulnya hanya menjalani prinsip "jalani saja". Dari awal saya bertemu dan berhubungan dengan istri saya. Saya sama sekali tidak pernah menjanjikan untuk menikahinya, pada saat memulai hubungan itu saya ingat, saya hanya mengatakan : "yaudah, kita jalani dulu, kalau jodoh gak bakal kemana, kalau kamu mau menikah duluan juga tidak apa. Target saya menikah 2 tahun lagi".
Alasan saya berbicara seperti itu, karena saya memang tidak mau buru-buru, juga saya tidak mau menjanjikan suatu hal yang tidak pasti, mengingat kondisi pendapatan saya yang belum stabil, jangankan untuk menikah, menabung saja saya kadang-kadang.
Perihal kenapa tiba-tiba kami berdua bisa menikah. Kejadiannya adalah ketika saya mengajak istri saya ini untuk bertemu dengan kedua orang tua saya. Wajar, namanya juga orang tua ingin tahu yang mana pacar saya beserta latar belakangnya
Obrolan pertama, hanya sebatas mengenai keluarga. Sampai akhirnya tiba pada pertanyaan "Neng serius gak sama Nanda?" dan pertanyaan pamungkas "Neng mau gak kalau dilamar?".
Saya kaget, karena pada awalnya saya hanya ingin mengenalkan pacar saya. Bukan untuk langsung ditembak pertanyaan seperti itu oleh orangtua saya. Jawaban yang keluar dari mulut istri saya pun tidak kalah mengejutkan, karena dia dengan entengnya bilang "iya" kepada orangtua saya.
Selang seminggu dari acara mengenalkan pacar ke orang tua. Akhirnya kami berdua masuk ke tahap lamaran. Pada awalnya, kami berdua merencanakan untuk menikah di tahun depan. Selain sebagai masa persiapan untuk mencari dana menikah, juga sebagai masa pengenalan lebih jauh karakter masing-masing. Karena hubungan kami yang baru seumur jagung, saya kira belum cukup.
Hanya berselang satu bulan dari proses lamaran. Saya lagi-lagi disuguhi kejutan, karena ternyata dari pihak istri saya ingin segera melaksanakan pernikahan. Berhubung karena usia kami seumuran, juga karena takut di lama-lama malah tidak berujung ke pernikahan serta ingin menghindar dari fitnah.
Kami berdua hanya diberi waktu satu bulan untuk menyiapkan segala sesuatunya. Jujur, persiapan yang mepet membuat saya capek. Jadi, kalau ada yang mau menikah. Saya kasih saran, jangan mempersiapkan pernikahan terlalu mepet dengan hari H. Minimal 3 bulan sebelumnya, karena proses fitting dan nyari seserahan itu cukup menghabiskan tenaga dan waktu.
Selama proses mempersiapkan pernikahan. Jujur sebelumnya, saya siap tidak siap untuk menikah. Disebut siap, karena memang saya sudah cukup umur dan sesuai dengan program BKKBN yaitu 25 tahun. Kalau untuk urusan tidak siap, saya sedikit khawatir kurang mampu memenuhi nafkah untuk istri saya.
Segala kekhawatiran saya, akhirnya saya hiraukan. Saya mencoba yakin untuk menikah. Berikut beberapa alasan yang akhirnya membuat saya meyakinkan dan memantapkan diri untuk menikah:
1. Niat untuk menikah karena ibadah.
Seperti kita tahu, menikah itu adalah ibadah. Dan Nabi juga menganjurkan umatnya untuk menikah. Sesuai hadisnya:
Aku berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur,dan akupun mengawini wanita. Maka barang siapa yang tidak menyukai sunnahku, bukanlah dari golonganku”. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim]
2. Dorongan dan restu dari orangtua untuk menikah. Ini yang paling penting, karena menikah itu merupakan salah satu ibadah yang sakral, maka diperlukan restu dari orang tua kedua belah pihak.
3. Saya merasa istri saya merupakan wanita yang tepat untuk dijadikan istri. Karena sesuai dengan kata ustadz Jujun: "carilah wanita yang Dan, Din, Dun. Dan itu pintar Dandan, jadi selalu terlihat cantik di depan suami. Din itu adalah agama, pilihlah wanita karena agamanya. Dan terakhir Dun, Dun itu adalah Dunianya alias hartanya.
Dari semua kriteria diatas, saya rasa istri saya memenuhi syarat, selain cantik dan pintar dandan (menurut saya), juga seagama dan menutup auratnya dengan berkerudung, juga cukup rajin beribadah. Serta berasal dari keluarga yang berkecukupan, dan utamanya dia mau dan mampu bekerja, walaupun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Anjuran menikahi perempuan yang seperti ustad Jujun tadi katakan, sesuai dengan hadis Nabi:
"Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, maka engkau akan berbahagia." (H.R Muttafaq Alaihi)
Mengambil dari hadis diatas, maka saya merupakan Pria yang bukan cuma bahagia, tapi juga termasuk salah satu yang beruntung. Karena selain mendapatkan istri yang taat beragama, saya juga mendapatkan ketiga hal lainnya, yaitu hartanya, keturunannya, serta kecantikannya. Amin.. Dan yang melengkapi kesemua hal itu adalah istri saya cukup pandai memasak.
Ah sudahlah, nanti istri saya jadi terlalu bahagia dipuji oleh suaminya melalui tulisan ini. Padahal saya jarang sekali memuji dirinya secara langsung melalui ucapan.
Setelah mengalami nikmatnya menikah. Maka dari itu, saya mengajak para pembaca yang budiman, terutama yang masih lajang untuk segera menikah. Untuk menyempurnakan imannya seperti hadis nabi:
Barangsiapa yang Allah telah memberi rezqi kepadanya berupa istri yang shalihah, berarti Allah telah menolongnya pada separo agamanya.Maka bertaqwalah kepada Allah untuk separo sisanya”. (HR. Thabrani)
Dan tulisan ini ditutup dengan satu quotes: "Menikah itu selain dapat "enak", juga kalo beruntung bisa cepat punya anak".
Salam super...!
3 Desember 2014
No comments:
Post a Comment